Ditulis oleh Abdul Syukur
Dalam karya terbarunya berjudul “Gardenia”, seniman batik Wirasno kembali menunjukkan kepiawaian dalam merangkai garis, warna, dan filosofi dalam selembar kain. Dibuat pada tahun 2025, karya batik tulis berukuran 260 x 110 cm ini lahir dari tangan-tangan terampil di Rumah Batik Wira, menegaskan posisi Wirasno sebagai salah satu perajin yang mampu menerjemahkan kekayaan flora ke dalam bahasa visual batik yang khas.

Gardenia—atau yang di Indonesia sering disebut bunga kaca piring—menjadi tema utama. Bunga dalam keluarga Rubiaceae ini tidak hanya dikenal lewat keindahan kelopak lebarnya, tetapi juga harum yang menenangkan. Di berbagai daerah pesisir, terutama Pekalongan, motif gardenia telah lama hadir dalam tradisi batik buketan dan taburan, hasil dari proses panjang akulturasi budaya Belanda. Wirasno, seperti menangkap kesinambungan sejarah itu, lalu menghadirkannya kembali dengan pendekatan visual yang lebih segar.
Pada permukaan kain, tampak taburan bunga gardenia aneka warna, masing-masing merepresentasikan fase kehidupan bunga. Kuncup gardenia digambarkan dalam rona biru—sejuk, lembut, seperti harapan yang tumbuh perlahan. Sementara itu, bunga yang mekar penuh tampil dalam warna merah menyala, mempertegas gairah hidup yang kuat dan keberanian dalam menghadapi perjalanan. Pada bagian pinggir kain, tersusun deretan gardenia berukuran lebih kecil, berpadu dalam nuansa merah-oranye yang hangat, menghadirkan ritme visual yang teratur namun tetap hidup.
Pilihan warna yang digarap Wirasno bukan sekadar estetika, melainkan juga simbolik. Putih pada gardenia dimaknai sebagai kesucian dan kemurnian hati. Biru menggambarkan kebersamaan, sebuah ajakan untuk tetap terhubung dalam keterikatan yang hangat. Sementara merah adalah representasi cinta, keberanian, dan energi hidup. Pada konteks tertentu, gardenia bahkan menjadi simbol kasih sayang antara orang tua dan anak, serta harapan yang terus dijaga sepanjang masa. Dalam bingkai itu, karya ini seperti sebuah doa visual—lembut namun penuh daya.
“Gardenia” bukan hanya menampilkan kecakapan teknik batik tulis pada kain katun, tetapi juga menghadirkan kepekaan artistik yang halus. Wirasno seolah mengajak penikmat karya untuk melihat lebih dari sekadar motif bunga: melihat hidup sebagai rangkaian fase, warna, dan makna yang terus bertumbuh. Melalui karya ini, ia mempertegas posisi batik bukan hanya sebagai produk budaya, tetapi sebagai medium ekspresi yang mampu menyampaikan rasa, kenangan, dan nilai-nilai kehidupan.
Dengan “Gardenia”, Wirasno menunjukkan bagaimana sebuah bunga yang sederhana dapat menjadi bahasa visual yang kaya, memadukan tradisi pesisir, filosofi universal, dan sentuhan personal yang otentik. Sebuah karya yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga indah dipahami.

