Oleh: Komarudin Kudiya
Hari terakhir penyelenggaraan World Eco Fiber and Textiles (WEFT) 2025 menjadi momen yang sangat berkesan bagi saya. Setelah tiga hari penuh dialog, riset, dan pertukaran budaya tekstil dari seluruh dunia, sesi penutup menghadirkan sosok yang begitu kuat pengaruhnya: Prof. Lynn McHattie dari Skotlandia. Beliau adalah akademisi senior dari School of Innovation and Technologyโseorang ilmuwan, seniman, sekaligus pemikir yang menguasai ranah desain tekstil dengan kedalaman luar biasa.
Ketika beliau menyampaikan makalah berjudul โHarris Tweed of Outer Hebrides, Scotland,โ saya segera merasakan bahwa apa yang akan saya dengar bukan sekadar teori, melainkan rangkuman pengalaman panjang seorang maestro tekstil global. Presentasinya tersusun rapi, visualnya jernih dan berkelas, dan cara berpikirnya menunjukkan kemampuan yang memadukan sains, seni, teknologi, dan filosofi budaya dalam satu alur yang utuh.

Moodboard: Pondasi Kreativitas yang Terstruktur
Prof. Lynn membuka paparannya dengan membahas moodboardโsebuah tahapan yang sering diremehkan, tetapi justru menjadi pondasi utama desain tekstil global. Beliau memaparkan moodboard sebagai ruang konseptual yang memadukan warna, tekstur, lanskap, cerita rakyat, kenangan visual, dan elemen historis.
Melihat slide-slide yang ditampilkannya, saya menyadari betapa moodboard bekerja sebagai โpeta jalan kreatif.โ Ia menjaga benang merah desain agar tetap kuat dan konsisten. Harris Tweed dibangun dari filosofi iniโmenggabungkan identitas lokal Outer Hebrides dengan spirit masyarakatnya.
Pelajaran ini penting bagi Indonesia. Banyak perajin memulai dari motif, tanpa terlebih dahulu menyusun pondasi konsep. Padahal, standar global kini menuntut proses kreatif yang bertumpu pada riset dan struktur.
Benang Wool: Harmoni Warna, Material, dan Filosofi Alam
Presentasi berlanjut pada proses pemilihan benang wool. Slide-slide Prof. Lynn menampilkan warna-warna yang harmonis: hijau lumut yang tenteram, coklat tanah berkabut, biru laut Skotlandia yang dalam, dan abu-abu lembut dari kabut pegunungan.
Semua warna itu tidak muncul secara kebetulan. Mereka lahir dari eksplorasi visual yang dirumuskan sejak moodboard. Para artisan Harris Tweed mencampur warna dengan teknik pencelupan tradisional yang telah turun-temurun, menghasilkan benang yang kuat dan estetis.
Indonesia sejatinya memiliki modal besar: kapas lokal, serat sutra, rami, hingga tenun kayu. Jika bahan-bahan ini dipadukan dengan riset warna dan proses yang terstruktur, kita dapat memiliki identitas tekstil kelas dunia sebagaimana Harris Tweed.
ATBM dan Keindahan Tenun Tangan
Bagian paling mengesankan bagi saya adalah ketika Prof. Lynn memperlihatkan proses penenunan Harris Tweed dengan alat tenun tradisionalโyang dalam konteks Indonesia kita kenal sebagai ATBM.
Gerakan tangan dan kaki sang artisan bekerja dalam harmoni. Setiap hentakan pedal dan tarikan benang menghasilkan karakter kain yang unik dan hidup. Tidak ada dua lembar Harris Tweed yang benar-benar sama.
Saya kembali teringat bahwa ATBM Indonesia pun memiliki kekuatan yang sama. Jika dilengkapi desain kontemporer dan standar kualitas yang baik, tenun Nusantara memiliki peluang yang luas untuk masuk kategori premium dunia.
Quality Control: Jantung Produksi Tekstil Premium
Prof. Lynn kemudian membahas tahapan Quality Control (QC). Bagi industri tradisional, QC sering kali menjadi titik lemah. Tetapi bagi Harris Tweed, QC adalah bagian paling fundamental.
Setiap lembar kain diperiksa seratnya, kepadatan tenunnya, keselarasan warnanya, hingga kekuatan tarik benangnya. Teknologi pemindaian pun diperkenalkan untuk memastikan hasil maksimal. Hanya kain yang lolos standar ketat ini yang boleh masuk tahap pembuatan busana.
Proses QC yang berkelas menjadikan Harris Tweed diterima secara globalโbahkan memperoleh protected designation of origin (PDO) yang melindungi identitas geografisnya.
Mereka yang Berjuang di Balik Tekstil Berkualitas
Presentasi Prof. Lynn menyadarkan saya bahwa di balik karya tekstil yang memukau selalu ada tokoh-tokoh yang bekerja dalam senyap: artisan, akademisi, peneliti, desainer, dan pengrajin. Mereka memiliki dedikasi luar biasa yang lahir dari cinta terhadap kerajinan itu sendiri.
Indonesia pun memiliki figur-figur semacam ini. Tantangannya adalah bagaimana memastikan proses kreatif mereka berjalan dengan riset, standar, dan manajemen mutu yang baik.
Belajar dari Dunia, Berkarya untuk Nusantara
Makalah Prof. Lynn memberikan pesan mendalam: bahwa dalam dunia tekstil modern, kejayaan tidak ditentukan oleh kemewahan bahan saja, tetapi oleh struktur proses, riset warna, komitmen kualitas, dan kedisiplinan konsep.
Indonesia bisa belajar banyak dari Harris Tweed:
- pentingnya moodboard,
- pentingnya riset warna,
- pentingnya standardisasi kualitas,
- pentingnya dedikasi penuh pada proses.
Jika semua hal ini dipadukan dengan warisan tekstil Nusantaraโdari batik Merawit hingga songket, dari ikat Flores hingga lurik Jawaโmaka Indonesia bukan hanya bisa bersaing, tetapi dapat menjadi salah satu poros utama tekstil dunia.
Komarudin Kudiya hadir sebagai delegasi WEFT dengan dukungan Yayasan Batik Indonesia (YBI). Sebagai Ketua Dewan Pakar YBI, ia tidak hanya tampil sebagai pembicara, tetapi juga sebagai duta batik yang mempromosikan kekayaan batik Indonesia di panggung dunia.

