Yogyakarta โ Pemahaman masyarakat yang menempatkan batik hanya sebagai produk kerajinan dinilai perlu ditinjau kembali. Pemerhati dan peneliti batik Zahir Widadi menegaskan bahwa batik merupakan warisan budaya yang jauh lebih kompleks karena mencakup sejarah, filosofi, tradisi, hingga ilmu pengetahuan yang berkembang selama berabad-abad.
Pernyataan tersebut disampaikan Zahir dalam Talkshow Batik Pedalaman dan Batik Pesisiran di Inacraft Festival 2026, Yogyakarta (18/7). Menurutnya, batik tidak bisa dipandang semata sebagai hasil keterampilan membuat kain bermotif, melainkan sebuah sistem pengetahuan yang hidup dalam masyarakat Indonesia.
Zahir menjelaskan bahwa jejak visual yang menjadi cikal bakal batik telah dapat ditelusuri sejak masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Jawa. Berbagai ragam hias yang ditemukan pada arca, relief, dan artefak kuno kemudian berkembang menjadi motif-motif yang dikenal dalam tradisi batik saat ini.
Dalam kajiannya, batik memiliki tiga unsur utama, yaitu motif, warna, dan bentuk kain. Ketiga unsur tersebut berkembang seiring perjalanan sejarah dan menjadi identitas budaya yang diwariskan lintas generasi.
Ia juga menyoroti perbedaan mendasar antara batik pedalaman dan batik pesisiran. Menurutnya, batik pedalaman berkembang sebagai media simbolik yang sarat nilai filosofi dan digunakan dalam berbagai upacara adat maupun ritual. Sebaliknya, batik pesisiran tumbuh di kawasan perdagangan yang lebih terbuka sehingga mengalami banyak pengaruh budaya luar dan berkembang sebagai bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.
Lebih jauh, Zahir menegaskan bahwa pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia pada 2009 bukan semata karena keindahan motifnya. Pengakuan tersebut diberikan karena batik memiliki tradisi lisan, keterampilan yang diwariskan turun-temurun, serta keterkaitan yang kuat dengan berbagai ritual dan kehidupan sosial masyarakat.
โBanyak negara memiliki teknik pewarnaan kain yang mirip batik, tetapi tidak memiliki tradisi budaya yang hidup seperti di Indonesia,โ jelasnya.
Menurut Zahir, proses membatik juga melibatkan berbagai disiplin ilmu, mulai dari pertanian, kimia, fisika, tekstil, seni, hingga budaya. Karena itu, ia berpendapat batik layak dipandang sebagai sebuah bidang ilmu pengetahuan yang utuh, bukan sekadar produk kerajinan atau komoditas ekonomi.
Ia mengingatkan bahwa masa depan batik Indonesia bergantung pada tiga hal utama, yakni pelestarian, perlindungan, dan pengembangan. Ketiga aspek tersebut harus berjalan seimbang agar batik tetap hidup sebagai identitas budaya bangsa sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.



