Yogyakarta โ Batik tidak hanya berfungsi sebagai kain tradisional, tetapi juga menjadi media yang menyimpan filosofi, simbol kehidupan, dan jejak sejarah panjang budaya Jawa. Hal tersebut disampaikan Ketua Bidang Pengkajian di Paguyuban Pecinta Batik Indonesia (PPBI) Sekar Jagad Suhartanto dalam Talkshow Batik Pedalaman dan Batik Pesisiran yang digelar di Inacraft Festival, Yogyakarta (18/7).
Dalam pemaparannya, Suhartanto menjelaskan bahwa batik keraton, khususnya yang berkembang di Yogyakarta, sejak awal tidak diciptakan semata-mata sebagai produk sandang. Setiap motif mengandung makna dan pesan yang diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari tradisi budaya Jawa.
Menurutnya, salah satu motif yang memiliki posisi penting dalam khazanah batik keraton adalah Parang. Motif tersebut merepresentasikan berbagai nilai kehidupan yang disampaikan melalui simbol-simbol budaya.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat Jawa pada masa lalu kerap menyampaikan ajaran dan pandangan hidup melalui simbol visual. Dalam konteks tersebut, motif Parang dimaknai sebagai simbol keseimbangan antara berbagai unsur kehidupan, seperti siang dan malam, hidup dan mati, serta api dan air.
Suhartanto menambahkan bahwa motif Parang memiliki sejumlah varian, antara lain Parang Klithik, Parang Pamor, dan Parang Barong. Masing-masing memiliki karakteristik, fungsi, serta makna filosofis yang berbeda. Bahkan, beberapa motif tertentu dahulu termasuk kategori batik larangan yang hanya boleh dikenakan oleh kalangan keraton.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa perkembangan batik di Pulau Jawa melahirkan dua karakter besar, yakni batik pedalaman dan batik pesisiran. Batik pedalaman yang berkembang di lingkungan keraton Yogyakarta dan Surakarta cenderung mempertahankan nilai filosofis, simbolisme, dan tradisi yang kuat.
Sementara itu, batik pesisiran berkembang melalui interaksi perdagangan dengan berbagai bangsa asing. Pengaruh budaya Tiongkok, Arab, hingga Belanda tercermin pada penggunaan warna yang lebih berani serta ragam motif yang lebih dinamis.
Meski memiliki karakter berbeda, Suhartanto menilai kedua tradisi tersebut sama-sama berkontribusi terhadap perkembangan batik Indonesia. Batik pedalaman berperan menjaga nilai dan filosofi budaya, sedangkan batik pesisiran menunjukkan kemampuan batik untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Suhartanto sendiri dikenal sebagai penulis dan pemerhati batik yang aktif dalam berbagai organisasi pecinta batik Indonesia. Lulusan Sastra Indonesia tersebut telah menghasilkan sejumlah buku dan tulisan mengenai batik serta budaya Nusantara, sekaligus aktif memberikan edukasi kepada masyarakat melalui seminar, diskusi, dan kegiatan pelestarian budaya.



