Malang -Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, menghadiri acara Grand Opening New Look Atria Hotel Malang pada Senin malam dalam sebuah peresmian yang tidak hanya menampilkan wajah baru hotel tersebut, tetapi juga menggambarkan optimisme baru sektor pariwisata kota.
Kehadiran sang Wali Kota menjadi sorotan utama, terlebih setelah sebelumnya ia meninjau sejumlah titik banjir akibat hujan deras yang melanda Kota Malang sejak sehari sebelumnya.

Dalam sambutannya, Wali Kota menyampaikan apresiasi kepada jajaran Paramount Enterprise dan Parador Hotels & Resorts yang telah memberikan warna baru bagi salah satu hotel ikonik di kota itu. Ia mengungkapkan bahwa transformasi besar yang dilakukan Atria Hotel Malang bukan hanya terlihat dari kemewahan interior dan eksteriornya, tetapi juga dari komitmen dalam meningkatkan standar kenyamanan bagi wisatawan dan tamu pemerintah yang kerap menggelar acara di hotel tersebut.
Menurutnya, perubahan Atria Hotel Malang sejalan dengan perkembangan pesat Kota Malang sebagai kota wisata, kota kreatif, dan destinasi bertaraf nasional maupun internasional. Ia menegaskan bahwa Malang saat ini memiliki daya tarik yang semakin kuat, apalagi setelah kota tersebut dinobatkan sebagai salah satu dari 58 Kota Kreatif Dunia versi UNESCO pada akhir Oktober lalu—berdiri sejajar dengan kota-kota besar seperti Paris dan Seoul. “Penilaian ini bukan klaim, tetapi hasil proses panjang UNESCO,” ujarnya.
Wali Kota juga memaparkan bahwa pemerintah daerah tengah fokus mengembangkan wisata berbasis budaya lokal, kreativitas masyarakat, dan pelestarian identitas kota. Contohnya ialah kampung-kampung tematik, festival budaya, hingga revitalisasi Kayutangan Heritage yang kini menjadi ikon wisata heritage nasional. Bahkan pada malam yang sama, Kayutangan Heritage tengah diundang Kementerian Pariwisata untuk menerima penghargaan nasional.
Di tengah tantangan ekonomi global, sektor pariwisata terbukti menjadi penyokong signifikan perekonomian Kota Malang. Program “1.000 Event” yang dicanangkan pemerintah berhasil meningkatkan lama kunjungan wisatawan menjadi dua hingga tiga hari, memberikan manfaat langsung bagi hotel, restoran, transportasi, dan UMKM lokal. Pertumbuhan ini juga tidak lepas dari posisi strategis Kota Malang. Dengan akses tol, bandara, serta kedekatan dengan kawasan wisata Bromo, kota ini menjadi gerbang utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Waktu tempuh dari Bandara Abdulrachman Saleh ke Bromo yang hanya sekitar 90 menit menjadi nilai lebih yang tidak dimiliki kota lain.
Meski tidak memiliki wisata alam sebesar daerah sekitar, Wali Kota menegaskan bahwa kekuatan Kota Malang ada pada wisata kreatif dan heritage, mulai dari Kampung Warna-Warni Jodipan, Kampung 3D, hingga Kayutangan Heritage yang terus ramai dikunjungi wisatawan dunia.
Dalam penutupnya, Wali Kota mengajak seluruh pelaku usaha hotel, termasuk Atria Hotel Malang, untuk terus meningkatkan pelayanan dan berkolaborasi dalam promosi destinasi serta penguatan UMKM. Ia berharap ruang UMKM Corner yang pernah ada di hotel ini bisa kembali dihadirkan agar wisatawan semakin mengenal produk lokal Kota Malang.
“Atria Hotel Malang bukan sekadar tempat menginap,” ujarnya, “tetapi bagian penting dari ekosistem pariwisata Kota Malang yang terus tumbuh dan berkembang.”

