Di sebuah sudut kota lama Banyumas, berdiri sebuah rumah sederhana yang menyimpan jejak panjang sejarah batik. Dari sinilah, Slamet Hadipriyanto – pengelola generasi ketiga Batik Hadipriyanto – menyalakan kembali semangat yang diwariskan keluarganya sejak sebelum kemerdekaan—semangat menjaga warisan batik Banyumas agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Darah Biru Batik
Cerita Batik HP berawal dari tangan para leluhur di Bobotsari. Sejak masa eyang hingga orang tuanya, batik sudah menjadi nafas kehidupan keluarga. Tahun 1957, usaha ini pindah ke Banyumas, saat kota lama masih ramai oleh pengusaha batik. Kini, dari sembilan bersaudara, hanya Slamet yang memilih bertahan, memikul tanggung jawab menjaga “darah biru batik” yang mengalir di keluarganya.
Nama “HP” adalah penghormatan untuk sang ayah, Slamet Hadiprianto. Dulu, logonya bergambar roda terbang—simbol pergerakan yang tak pernah berhenti.
Cablaka: Tegas, Jelas, dan Membumi
Bagi pria kelahiran 1967 tersebut, batik Banyumas adalah bahasa visual yang khas. Termasuk dalam aliran pedalaman seperti Solo dan Yogyakarta, batik Banyumas terkenal dengan warna sogan yang cenderung gelap dan motif besar yang gamblang—disebut cablaka. Ia berbeda dengan Cirebon yang penuh motif kecil, atau Solo-Jogja yang rumit dan penuh detail.
Tak hanya itu, Banyumas juga punya dua arus pengaruh: aliran Jawa yang bersumber dari Solo, dan aliran Belanda-Cina seperti Batik Manteron —warisan pembatik Belanda yang sempat menetap di Klaten dan Banyumas.
Bertahan di Kota Lama Banyumas
Berada di Kota Lama Banyumas yang kini tidak seramai dulu, orang tidak secara otomatis mampir ke sini, sehingga menarik pengunjung datang butuh strategi. Dulu, batik Banyumas pernah booming. Sejak saat itu, Slamet bertekad menjaga ciri khas sambil berinovasi. Ia memadukan motif lama dengan sentuhan warna modern untuk merangkul selera generasi muda, tanpa menghilangkan identitas asli.
Sejak terjun penuh pada 1992, ia belajar manajemen secara otodidak. Bantuan program kemitraan pemerintah daerah menjadi pijakan awal membangkitkan usaha keluarga yang sempat redup.

Dari Kain ke Pakaian Jadi
Produksi batik HP dilakukan di workshop dan desa-desa sekitar, mengikuti pola kerja “tiga negeri” di mana proses membatik dan pewarnaan dikerjakan di lokasi berbeda. Slamet bahkan menambah lini produksi tenun sejak 1996, membeli alat ATBM dari sentra sutra yang tutup.
Namun, zaman berubah. Dulu ada 25 pembatik aktif, kini hanya tersisa sekitar lima. Tren pasar mengarah ke pakaian jadi, bukan lagi kain lembaran. Menyadari ini, Slamet mengubah strategi—dari 70% produksi kain menjadi mayoritas pakaian jadi seperti baju, seprai, dan sarung. Sebagian besar kini diproduksi sendiri, menjadikan Batik HP tetap unik di pasaran.
Lebih Berat dari Pandemi
Ketika pandemi COVID-19 melanda, banyak usaha gulung tikar. Batik HP bertahan tanpa mengurangi pegawai, hanya menyesuaikan volume produksi agar pembatik tetap bekerja. Namun, ironisnya, menurutnya, masa sekarang justru lebih berat daripada pandemi.
“Saat pandemi orang masih punya tabungan, masih mau belanja. Sekarang daya beli menurun, kebiasaan konsumtif berkurang,” ujarnya.
Untuk itu, ia memilih fokus pada produk siap pakai yang langsung diminati pembeli, sambil tetap menjaga nilai estetika batik Banyumas.

Tetap Melangkah
Di tengah semua tantangan—dari menurunnya jumlah pengrajin, tren pasar yang berubah, hingga gejolak ekonomi—Slamet Hadipriyanto memilih tidak menyalahkan siapa pun.
“Lebih baik jalan terus. Kalau kita berhenti, ya selesai,” katanya sambil tersenyum.
Dari rumah batiknya di Banyumas, ia terus menggoreskan motif-motif cablaka yang bebas merdeka dan apa adanya dengan keyakinan: selama masih ada yang mau mengenakan batik Banyumas, selama itu pula warisan leluhur akan hidup. Ia bukan hanya menjual kain atau pakaian, tapi juga menjual cerita—cerita tentang keteguhan, adaptasi, dan cinta pada warisan budaya.
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko
Artikel ini didukung secara personal oleh:
Bapak Darajat Machmud, Bapak Panji Bharata, Bapak Ikhsan Santosa, Ibu Diana Lukita Wati, Bapak Thomas Panji Susbandaru, Bapak Idhoy Dorry Herlambang, Bapak Eman Mulyaman, Bapak Nunu Nugraha, Bapak Putu Diyan, Bapak Ade Kurniawan, Bapak Handaru Dwi Yulianto, Bapak Nyoman Iswara, Bapak Bona Erickson, Bapak Tiwbon, Bapak Muhammad Natsir.
Terima kasih sebesar-besarnya atas dukungan dari pihak:
Waringin Group Hotel Management, Luminor Hotel Purwokerto, Harris Hotel & Convention Citylink Bandung, Batik Komar, dan Oakwood Hotel Bandung.

