https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

Batik Banyumas: Para Penjaga Nyala Api Batik Banyumas (Bagian 6 – Habis)

Batik Banyumas dikenal dengan warna sogan khas, serta proses tulis yang mempertahankan tradisi pesisiran dan pedalaman Jawa

Di tepian kali irigasi Sokaraja, aroma malam bercampur dengan suara gemericik air. Heru Santosa menata kain batik di galeri Batik R, spesialis batik Banyumas tulisan. Setiap helai kain batik tulis buatannya adalah bab dari perjalanan keluarganya — kisah yang dimulai sejak 1970-an, ketika ayahnya mulai membatik di Pekalongan lalu memindahkan napas usahanya ke Banyumas.

Bagi Heru, batik bukan sekadar kain. Ia adalah jembatan waktu, menghubungkan masa kecilnya yang diwarnai bau malam dan goresan canting, dengan tanggung jawab hari ini untuk menjaga tradisi. “Kalau generasi saya berhenti, cerita ini akan padam,” katanya sambil melipat kain batiknya.

Beberapa kilometer dari Batik R, di sebuah rumah produksi di jantung Banyumas Lama, Slamet Hadipriyanto sedang mengamati pembatiknya bekerja. Ia generasi ketiga dari brand Batik Hadipriyanto yang masih bertahan di Kota Banyumas Lama (kini Jalan Mruyung).

Slamet mengakui betapa sulitnya memasarkan batik di kontraksi ekonomi dua tahun belakangan ini. Namun ia tetap bersemangat selama dirinya ada, Batik Hadipriyanto akan tetap ada. Selain mendirikan showroom, Batik Hadipriyanto juga memasarkan batiknya ke pasar-pasar setempat.

Keduanya sama-sama memahami, bahwa menjaga batik Banyumas bukan perkara romantisme semata. Ada realitas keras: persaingan harga, menipisnya jumlah pembatik muda, dan tekanan pasar global. Namun, baik Heru maupun Slamet percaya, batik tak boleh kehilangan jiwanya.

Pusat Souvenir Batik Banyumas

Di sepanjang jalur kota, tersebar empat titik yang menjadi simpul utama bagi para pecinta batik Banyumas:

Galeri Batik Banyumasan, Jalan Krajan

Kain batik tulis berisi 24 motif khas Banyumasan di Galeri Batik Banyumasan, Purwokerto, jadi katalog hidup warisan budaya.

Batik Banyumasan di Jalan Kranji dikenal sebagai toko pusat kota yang menyediakan berbagai kain dan produk jadi: kain celup, batik cap, hingga pakaian jadi. Letaknya dekat alun-alun sehingga mudah dijangkau pejalan kaki. Toko ini sering menampilkan koleksi baru dan melayani pemesanan online untuk pembeli luar kota.

Alamat:Jl. Kranji No.53, Brubahan, Purwanegara, Kec. Purwokerto Tim., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53116

Batik Benang Raja

Batik Benang Raja

Batik Benang Raja menghadirkan batik fashion dengan sentuhan kontemporer — pilihan yang pas untuk wisatawan yang mencari batik siap pakai atau suvenir modis. Mereka aktif di platform digital dan buka tiap hari; toko ini juga dikenal melayani pesanan lewat WhatsApp dan marketplace.

Alamat: Jl. Komisaris Bambang Suprapto No.837, Cigrobak, Purwokerto Lor, Kec. Purwokerto Tim., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53114

Galeri UKM Batik Banyumasan

Galeri UKM Banyumas Raya

Galeri ini menampilkan hasil karya perajin skala kecil hingga menengah: batik cap, semi-tulis, serta produk siap pakai. Galeri ini penting sebagai ruang pamer koleksi komunitas dan tempat bertemu antara wisatawan dengan pengrajin.

Alamat: Sitapen, Purwanegara, Kec. Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53116

Batik Martadireja

Batik Martadireja

Martadireja menawarkan katalog batik yang mengombinasikan motif tradisional Banyumasan dengan potongan dan warna yang mengikuti tren modern. Selain kain, mereka sering menyediakan layanan jahit dan konsultasi desain untuk pelanggan yang menginginkan batik custom.

Alamat: Jl. Martadireja II No.259, Purwokerto Wetan, Kec. Purwokerto Tim., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53111

Batik Papringan

Galeri Batik Papringan di Banyumas, pusat batik tulis rapi bermotif Serayuan, mengangkat tradisi dan pemberdayaan di tepi Sungai Serayu.
Galeri Batik Papringan di Banyumas, pusat batik tulis rapi bermotif Serayuan, mengangkat tradisi dan pemberdayaan di tepi Sungai Serayu.

Berada di sudut Desa Papringan, Banyumas, Galeri Batik Papringan menjadi pusat hidupnya tradisi membatik yang telah diwariskan lintas generasi. Meski galeri ini baru diresmikan pada 2014, akar keterampilan para pembatik sudah tumbuh jauh sebelumnya, ketika para perempuan desa membatik secara mandiri di rumah tanpa kemampuan pewarnaan atau pemasaran. Perubahan besar mulai terasa setelah adanya pendampingan singkat dari PNM, yang kemudian dilanjutkan secara intensif oleh Bank Indonesia. Melalui pelatihan teknik pewarnaan, manajemen produksi, hingga pemasaran, serta hibah gedung yang kini menjadi galeri, para pembatik Papringan akhirnya memiliki ruang kreativitas dan kemandirian yang lebih kuat.

Kini, Galeri Batik Papringan yang dinaungi oleh KUB beranggotakan sekitar 30 pembatik—dengan 10–15 yang aktif berkarya—menjadi pusat batik tulis bercirikan cantingan rapi dan motif khas Serayuan yang terinspirasi dari Sungai Serayu di belakang desa. Ragam motif lain seperti Pring Sedapur, Lumbon, Bawor Kelintung, Kawung, dan Sido Mukti turut memperkaya karya mereka, dengan harga berkisar Rp400 ribu hingga Rp1,2 juta, terutama untuk batik berpewarna alami dan kain premium. Meski pembelinya tak banyak dari warga lokal, galeri ini telah dikenal luas hingga ke Semarang dan Jakarta, bahkan dikunjungi wisatawan luar daerah dan mahasiswa asing. Lebih dari sekadar ruang pamer, Galeri Batik Papringan menjadi titik temu tradisi, kreativitas, dan pemberdayaan yang terus tumbuh di tepian Sungai Serayu.


Di tengah arus modernisasi, Purwokerto bukan hanya kota transit atau kota kuliner. Ia juga menjadi pusat perjumpaan masa lalu dan masa depan batik Banyumas—tempat di mana setiap helai kain membawa cerita, dan setiap motif adalah penanda identitas yang tak lekang waktu.

Batik Banyumas adalah kisah yang tidak hanya terpatri di sehelai kain, tetapi juga di hati para penjaganya. Dari kecamatan kecil di Sokaraja, eksistensi batik di Kota Banyumas Lama, hingga ruas jalan di kota Purwokerto, canting tetap digores meski dengan denyut yang lemah, sambil berdoa agar warisan ini tak lekang dimakan waktu.

Semua nama itu hanyalah sebagian dari mozaik besar penjaga nyala batik Banyumas. Mereka berdiri di antara masa lalu yang ingin dikenang dan masa depan yang ingin diraih, memastikan motif-motif seperti Jahe Srimpang, Lumbon, atau Mataraman terus hidup, dikenakan, dan dimaknai lintas generasi. Batik Banyumas adalah napas, adalah nyala, adalah kisah. Selama masih ada tangan yang rela memegang canting, hati yang mencintai warisan, dan jiwa yang percaya bahwa budaya adalah pusaka, maka nyala itu akan terus berpijar.


Perjalanan pembuatan artikel ini didanai secara crowdfunding oleh:

  • Bapak Darajat Machmud
  • Bapak Panji Bharata
  • Bapak Ikhsan Santosa
  • Ibu Diana Lukita Wati
  • Bapak Thomas Panji Susbandaru
  • Bapak Idhoy Dorry Herlambang
  • Bapak Eman Mulyaman
  • Bapak Nunu Nugraha
  • Bapak Putu Diyan
  • Bapak Ade Kurniawan
  • Bapak Handaru Dwi Yulianto
  • Bapak Nyoman Iswara
  • Bapak Bona Erickson
  • Bapak Tiwbon
  • Bapak / Ibu Anonim

Kegiatan ini didukung juga oleh:

  • Waringin Group Hotel Management
  • Luminor Hotel Purwokerto
  • Harris Hotel & Convention Citylink Bandung
  • Batik Komar
  • Oakwood Hotel Bandung

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Batik Banyumas dikenal dengan warna sogan khas, serta proses tulis yang mempertahankan tradisi pesisiran dan pedalaman Jawa

Batik Banyumas: Peran Batik Banyumas dalam Kehidupan Masyarakatnya (Bagian 5)

Mulyana, perintis Batik Ganasan Subang, membangun identitas batik daerah dari nol lewat dedikasi, riset, dan perjalanan panjang kreatifnya.

Mulyana: Perajin Batik Subang Di Tanah Tak Terwarisi Batik