https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Batik Banyumas: Di Tepinya Sungai Serayu (Bagian 1)

Batik Banyumas dikenal dengan warna sogan khas, serta proses tulis yang mempertahankan tradisi pesisiran dan pedalaman Jawa

Sungai Serayu mengalir dari lereng Gunung Prau di Dieng, membelah hamparan sawah, perkampungan, dan kota-kota kecil, sebelum bermuara di Laut Selatan. Sejak berabad-abad lalu, sungai ini menjadi nadi kehidupan masyarakat Banyumas. Ia membawa air untuk pertanian, menjadi jalur transportasi hasil bumi, sekaligus menghubungkan budaya-budaya yang berdiam di tepian alirannya.

Sungai Serayu yang melahirkan Batik Banyumas
Sungai Serayu yang melahirkan Batik Banyumas

Di sepanjang bantaran Serayu, terutama di wilayah Sokaraja, Papringan, dan Pekunden, aliran air ini bukan hanya menghidupi ladang, tetapi juga mewarnai sehelai kain. Air Serayu, yang terkenal jernih dan kaya mineral, sejak dulu dimanfaatkan untuk mencuci kain mori dan melarutkan zat pewarna alami seperti soga, tingi, dan mengkudu. Proses ini memberi warna batik Banyumas yang khas: lembut, teduh, dan seolah menyerap ketenangan arus sungai.

Batik di Banyumas berkembang sejak akhir abad ke-19, dibawa oleh para pendatang dari pesisir utara Jawa seperti Pekalongan dan Batang yang menetap di daerah ini. Mereka membawa keterampilan membatik tulis, lalu berbaur dengan budaya lokal yang sederhana namun filosofis. Motif-motif seperti Lumbon, Jahe Srimpang, dan Serayuan terinspirasi dari alam sekitar: rumpun rumput di tepi sungai, aliran air yang berliku, hingga tanaman obat yang tumbuh subur di tanah lembab.

Seiring waktu, Sungai Serayu menjadi saksi perjalanan batik Banyumas. Ia melihat masa kejayaan ketika batik menjadi pakaian sehari-hari, dan juga menyaksikan kemunduran ketika jumlah perajin berkurang dan kain printing mulai menguasai pasar. Namun di beberapa sudut, terutama di galeri-galeri kecil dan rumah-rumah pembatik, tradisi ini tetap bertahan. Tangan-tangan terampil masih setia memanaskan malam, mencanting kain, dan merendamnya di air yang mengalir dari nadi Banyumas ini.

(Bersambung)


Perjalanan pembuatan artikel ini didanai secara crowdfunding oleh:

  • Bapak Darajat Machmud
  • Bapak Panji Bharata
  • Bapak Ikhsan Santosa
  • Ibu Diana Lukita Wati
  • Bapak Thomas Panji Susbandaru
  • Bapak Idhoy Dorry Herlambang
  • Bapak Eman Mulyaman
  • Bapak Nunu Nugraha
  • Bapak Putu Diyan
  • Bapak Ade Kurniawan
  • Bapak Handaru Dwi Yulianto
  • Bapak Nyoman Iswara
  • Bapak Bona Erickson
  • Bapak Tiwbon
  • Bapak / Ibu Anonim

Kegiatan ini didukung juga oleh:

  • Waringin Group Hotel Management
  • Luminor Hotel Purwokerto
  • Harris Hotel & Convention Citylink Bandung
  • Batik Komar
  • Oakwood Hotel Bandung

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Hari pertama WEFT 2025 menampilkan kisah inspiratif Thai Silk dan wild silk India, membuka refleksi penting bagi masa depan wastra Indonesia.

WEFT 2025: Belajar dari Thailand dan India tentang Masa Depan Wastra Dunia

Batik Banyumas dikenal dengan warna sogan khas, serta proses tulis yang mempertahankan tradisi pesisiran dan pedalaman Jawa

Batik Banyumas: Api Kompor Malam Di Masa Keemasan Batik Banyumas (Bagian 2)