Oleh: Komarudin Kudiya
Hari pertama Konferensi World Eco Fiber and Textile (WEFT) 2025 berlangsung dalam suasana yang sederhana namun penuh wibawa. Tidak ada kemegahan berlebih—justru kesederhanaan inilah yang menguatkan bahwa konferensi ini berfokus pada substansi: pengetahuan, keberlanjutan, dan masa depan wastra dunia.
Menteri Pariwisata, Seni, dan Kebudayaan Malaysia memimpin pembukaan dengan pidato yang lugas dan inspiratif. Ia baru saja menyelesaikan perjalanan ke Eropa selama 15 hari, yang menurutnya bukan sekadar lawatan diplomatik, tetapi proses belajar global untuk memajukan sektor budaya Malaysia. Dengan nada optimis, sang Menteri menegaskan bahwa pemerintah mendukung penuh WEFT—dan tahun depan konferensi ini harus lebih besar, melibatkan lebih banyak negara, dan menghasilkan dampak yang lebih kuat.
Setelah sesi pembukaan, forum dilanjutkan dengan presentasi para pembicara dari berbagai negara. Di antara beragam materi yang menarik, dua presentasi menonjol: wild silk dari India dan Thai Silk dari Thailand—dua kisah besar yang merefleksikan wajah ketahanan budaya dan inovasi tekstil Asia.
Wild Silk India: Keanggunan yang Lahir dari Tanah Gersang
Presentasi dari India membuka mata banyak peserta. Wild silk—mulai dari tussar, eri, hingga muga—dipaparkan sebagai kekayaan serat alam dengan karakter visual yang memikat. Kokon dengan warna alami emas, coklat, hingga kehijauan diperlihatkan melalui dokumentasi yang sangat detail.
Namun, dari balik keindahan kainnya, tampak kehidupan para penenun yang tinggal di daerah-daerah gersang dan terpinggirkan. Di tengah kondisi ekonomi yang keras, para perajin tetap menghasilkan karya tekstil yang anggun, eksotis, dan bernilai seni tinggi. Presentasi ini menjadi pengingat bahwa kreativitas dan ketekunan mampu melahirkan cahaya, bahkan di tempat-tempat yang penuh keterbatasan.
Thai Silk: Kisah Pelestarian yang Dijaga oleh Tiga Generasi Kerajaan
Presentasi dari Thailand memberikan dimensi berbeda—lebih terstruktur, lebih strategis, dan sangat berorientasi masa depan.
Sejak 1950-an, Her Majesty Queen Sirikit of Thailand menjadi tokoh utama kebangkitan Thai Silk. Melalui SUPPORT Foundation, beliau membangun sistem pelatihan, pemasaran, hingga perlindungan sosial bagi penenun tradisional. Program ini tidak hanya melestarikan tenun sutera, tetapi juga mengangkat martabat para perajinnya.
Yang membuatnya lebih mengagumkan adalah keberlanjutan lintas generasi. Kini, cucu beliau, Princess Sirivannavari Nariratana Rajakanya—seorang desainer internasional—meneruskan misi budaya Thai Silk. Ia memadukan estetika tradisional dengan desain modern, menjembatani nilai warisan dengan kebutuhan industri fashion kontemporer.
Inilah keistimewaan Thailand: tiga generasi kerajaan membangun estafet perlindungan tekstil tradisional melalui kebijakan, inovasi, dan komitmen budaya.
Pelajaran untuk Indonesia: Sistem, Regenerasi, dan Konsistensi
Dua presentasi tersebut menjadi cermin bagi Indonesia. Dengan kekayaan wastra yang luar biasa—batik, tenun, songket, ulos, lurik, dan lainnya—Indonesia memiliki modal budaya yang besar. Namun modal itu harus diperkuat melalui:
- kebijakan negara yang konsisten dan berkelanjutan,
- dukungan ekonomi dan industri kreatif yang terstruktur,
- regenerasi perajin,
- integrasi teknologi dan inovasi,
- serta penguatan narasi budaya yang berkelanjutan.
Hari pertama WEFT 2025 bukan hanya rangkaian presentasi. Ia adalah perjalanan intelektual yang memperlihatkan bagaimana negara lain menjaga warisan tekstil mereka dengan kesungguhan—melalui struktur, kebijakan, dan estafet generasi.
Bagi peserta dari Indonesia, ini menjadi ajakan untuk melihat kembali bahwa pelestarian wastra bukan hanya kerja komunitas, tetapi kerja sebuah bangsa.
Komarudin Kudiya hadir sebagai delegasi WEFT dengan dukungan Yayasan Batik Indonesia (YBI). Sebagai Ketua Dewan Pakar YBI, ia tidak hanya tampil sebagai pembicara, tetapi juga sebagai duta batik yang mempromosikan kekayaan batik Indonesia di panggung dunia.

