https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

Batik Banyumas: Api Kompor Malam Di Masa Keemasan Batik Banyumas (Bagian 2)

Batik Banyumas dikenal dengan warna sogan khas, serta proses tulis yang mempertahankan tradisi pesisiran dan pedalaman Jawa

Pada awal abad ke-20, di tepian Sungai Serayu, aroma khas malam panas menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di Sokaraja, Pekunden, Papringan, hingga Kalisube, rumah-rumah pembatik berdiri berdekatan, seolah membentuk sebuah kampung besar yang bernafas dengan irama yang sama: irama membatik.

Batik Banyumasan lahir dari pertemuan budaya. Pedagang dan perajin dari pesisir utara Jawa—Pekalongan, Batang, bahkan Lasem—membawa keterampilan membatik tulis dan cap. Mereka menetap di Banyumas, menikah dengan penduduk setempat, dan mulai mengadaptasi motif serta warna sesuai alam dan karakter masyarakat Banyumas yang sederhana, apa adanya, dan tidak berlebihan dalam ragam hias.

Perajin batik tulis Banyumas di workshop Batik Hadi Priyono
Perajin batik tulis Banyumas di workshop Batik Hadi Priyanto

Ciri khas itu terlihat jelas: warna sogan yang teduh, kadang berpadu dengan biru nila atau hitam pekat, menciptakan nuansa tenang. Motifnya sering mengambil inspirasi dari lingkungan: rumpun lumbon di tepi sawah, umbi jahe yang bercabang (jahe srimpang), burung-burung kecil yang hinggap di ranting (kawung ceplok manuk), atau lengkung arus Sungai Serayu yang dituangkan dalam motif Serayuan.

Pada masa itu, batik bukan sekadar kain untuk upacara atau pesta. Ia dipakai sehari-hari, baik oleh petani, pedagang, maupun kalangan priyayi lokal. Bahkan, batik Banyumas menjadi identitas kedaerahan: orang bisa mengenali asal seseorang dari motif dan warna yang ia kenakan.

Puncak kejayaan terjadi antara tahun 1930–1960-an. Permintaan batik Banyumasan meluas hingga ke Purwokerto, Cilacap, Banjarnegara, dan Kedu. Pasar Sokaraja setiap hari ramai oleh kain-kain batik yang dijual gulungan atau lembaran, sementara rumah produksi bekerja nyaris tanpa henti. Perajin batik, sebagian besar perempuan, menjadi penopang ekonomi keluarga.

Perajin batik cap Banyumas di workshop Batik Hadi Priyanto

Namun, seiring berjalannya waktu, arus modernisasi mulai menggerus. Mesin printing dan pewarna sintetis membuat batik tulis sulit bersaing harga. Generasi muda enggan duduk berjam-jam memegang canting, lebih memilih pekerjaan di pabrik atau merantau ke kota. Satu per satu rumah pembatik tutup, dan masa keemasan itu perlahan menjadi kenangan. Meski demikian, di sudut-sudut tertentu Banyumas, masih ada nyala kecil yang bertahan. Para pembatik sepuh, dengan tangan yang mulai berkerut namun tetap terampil, menjaga tradisi ini agar tak benar-benar hilang. Mereka adalah penjaga pintu sejarah, memastikan bahwa kisah masa keemasan batik Banyumas tetap dapat diceritakan—bukan sekadar dibaca dari buku, tetapi juga dilihat, disentuh, dan dipakai dengan bangga.


Perjalanan pembuatan artikel ini didanai secara crowdfunding oleh:

  • Bapak Darajat Machmud
  • Bapak Panji Bharata
  • Bapak Ikhsan Santosa
  • Ibu Diana Lukita Wati
  • Bapak Thomas Panji Susbandaru
  • Bapak Idhoy Dorry Herlambang
  • Bapak Eman Mulyaman
  • Bapak Nunu Nugraha
  • Bapak Putu Diyan
  • Bapak Ade Kurniawan
  • Bapak Handaru Dwi Yulianto
  • Bapak Nyoman Iswara
  • Bapak Bona Erickson
  • Bapak Tiwbon
  • Bapak / Ibu Anonim

Kegiatan ini didukung juga oleh:

  • Waringin Group Hotel Management
  • Luminor Hotel Purwokerto
  • Harris Hotel & Convention Citylink Bandung
  • Batik Komar
  • Oakwood Hotel Bandung

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Batik Banyumas dikenal dengan warna sogan khas, serta proses tulis yang mempertahankan tradisi pesisiran dan pedalaman Jawa

Batik Banyumas: Di Tepinya Sungai Serayu (Bagian 1)

Batik Banyumas dikenal dengan warna sogan khas, serta proses tulis yang mempertahankan tradisi pesisiran dan pedalaman Jawa

Batik Banyumas: Motif Cablaka dan Kearifan Lokal (Bagian 3)