Batiklopedia.com berkesempatan turut dalam event Discovering National Road of Java yang digelar oleh Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dalam rangka Hari Jalan 2024. Kegiatan riding tour ini berlangsung 4 hingga 14 Desember 2024. Batiklopedia.com turut dalam etape pertama yakni Anyer – Panarukan – Banyuwangi.

Di titik start yang berlokasi di KM 0 Jalan Pos atau Jalan Daendels, terdapat mercu suar yang menjulang tinggi. Posisinya ada di Jalan Raya Bandulu Anyer KM 131, Kampung Bojong, Desa Cikoneng, Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Mercu suar ini dibangun tahun 1885 oleh Z.M. Willem III yang saat itu menjabat sebagai Koning Der Nederlanden di Banten.
Mercu suar ini difungsikan untuk penunjuk arah kapal-kapal laut yang melintasi Selat Sunda. Willem III membangun mercu suar ini setelah mercu suar pertama hancur karena letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Kini, mercu suar berkode DSI 2260 dikelola oleh Kementerian Perhubungan (kemenhub) Direktorat Jenderal (dirjen) Hubungan Laut (hubla) distrik navigasi kelas 1 Tanjung Priok.
Menara ini punya tinggi 75,5 meter, terdiri dari 18 tingkat, dan 286 anak tangga. Pada bagian puncaknya terdapat lampu yang berfungsi untuk penunjuk kapal-kapal yang melintasi perairan Laut Banten bagian utara.
Daendels Menghubungkan Batavia – Anyer
Di era Gubernur Jenderal ke-36 yakni Herman Willem Daendels (1808-1811), ia melakukan berbagai pembangunan jalan, dimulai dari rute Batavia – Banten (1808 – 1809) dan kemudian melakukan proyek ambisius pembuatan jalan 1000 kilometer mulai dari Anyer hingga Panarukan (1809 – 1810). Tujuan pembuatan jalan tersebut tak lain sebagai pembuka akses wilayah-wilayah yang dilintasinya untuk kegiatan pertahanan keamanan serta logistik dan perdagangan.
William Herman Daendels merupakan gubernur jenderal yang tidak dipilih oleh Ratu Belanda. Tanpa sepengetahuan masyarakat Indonesia pada masa itu, Belanda yang menguasa Indonesia tengah dalam cengkeraman Perancis.
Daendels merupakan gubernur jenderal hasil intervensi Perancis di negeri kolonial Belanda. Yang menunjuk Daendels menjadi gubernur jenderal di Hindia Belanda adalah Lodewijk Bonaparte, adik dari Napoleon Bonaparte di tahun 1808. Lodewijk Bonaparte kala itu diangkat Napoleon Bonaparte menjadi raja Belanda.
Mercu Suar Cikoneng menjadi ujung sumbu jalan Batavia – Anyer. Daendels merasakan perjalanan Anyer – Batavia terlalu lama, empat hari perjalanan. Kemudian ia memerintahkan secara otoriter Pembangunan jalan Anyer – Batavia hingga durasi tempuh menjadi satu hari perjalanan.
Pada masa pembangunan tersebut, Keraton Surosowan Banten yang dihuni 21 sultan harus hancur lebur 12 November 1808 karena tentangan sikap Sultan Banten yang tidak mau mengerahkan rakyatnya untuk menjadi korban kerja rodi di Ujung Kulon.
Melanjutkan pembangunan jalan Anyer – Batavia, Daendels melanjutkan dengan proyek ambisiusnya yakni menghubungkan Anyer – Panarukan sejauh 1000 kilometer, menghubungkan Anyer, Tangerang, Jakarta, Sumedang, Cianjur, Bandung, Cirebon, Tegal, Kendal, Semarang, Demak, Rembang, Caruban, Gresik, Surabaya, Pasuruan, Probolinggo, dan berakhir di Panarukan.
Artikel ini disponsori oleh: Pemantauan Pemeliharaan Aset Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia

