Batik memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar pakaian. Dalam perkembangannya, batik menjadi simbol yang dapat menunjukkan identitas personal, sosial, nasional, dan kultural seseorang maupun kelompok masyarakat.
Kajian Dwi Kartikawati menyebut bahwa pada awalnya batik merupakan fenomena kultural yang mengonstruksi identitas pemakainya. Identitas tersebut dapat berkaitan dengan identitas budaya, kelas sosial, dan identitas diri.
Identitas berkaitan dengan pemahaman seseorang mengenai siapa dirinya dan apa yang bermakna bagi dirinya. Identitas juga berhubungan dengan proses menciptakan keterhubungan antara masa lalu dan masa depan.
Dalam konteks budaya, batik dapat menjadi ciri suatu masyarakat sekaligus sumber kebanggaan. Batik tidak dapat dipisahkan dari identitas budaya karena mengandung nilai-nilai yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kajian tersebut menggunakan pemikiran Koentjaraningrat mengenai tiga wujud kebudayaan, yaitu gagasan, aktivitas, dan artefak.
Gagasan berkaitan dengan ide, nilai, norma, dan peraturan yang bersifat abstrak. Dalam konteks batik, gagasan dapat menjadi ciri khas masyarakat yang lahir dari nilai dan kehidupan sosial.
Sementara aktivitas terlihat dalam proses membatik, seperti membuat pola, mencanting, mengecap, dan mengelem. Seluruh kegiatan tersebut menjadi satu kesatuan aktivitas membatik.
Hasil dari aktivitas tersebut kemudian menjadi artefak. Artefak merupakan wujud kebudayaan fisik yang dapat dilihat, diraba, dan didokumentasikan.
Melalui artefak batik, terjadi proses pewarisan nilai sosial budaya. Proses tersebut berlangsung melalui sosialisasi, pembelajaran, dan pemahaman. Yang diwariskan bukan hanya teknik membuat batik, tetapi juga nilai sosial budaya yang menggambarkan karakteristik masyarakat.
Batik juga dapat membentuk identitas sosial. Identitas sosial menunjukkan karakteristik yang dikaitkan dengan seseorang dalam konteks kelompok.
Salah satu bentuknya adalah seragam. Batik yang digunakan sebagai seragam dapat menciptakan identitas kelompok dan memberikan kesan kepemilikan terhadap kelompok tersebut. Penggunaan seragam juga dapat memperkuat loyalitas terhadap kelompok.
Pada tingkat personal, pilihan busana dapat digunakan untuk membentuk dan menampilkan identitas diri. Seseorang dapat menggunakan pakaian, gaya hidup, model rambut, dan elemen penampilan lainnya untuk menampilkan karakter dirinya.
Dalam konteks batik, pilihan motif, desain, bentuk, warna, dan bahan menjadi bagian dari penampilan. Batik kemudian dapat membentuk citra tertentu.
Kajian tersebut menyebut sejumlah citra yang dapat dibentuk melalui batik, antara lain kesan mahal, kesadaran budaya, dan peningkatan status. Batik tulis dapat dipersepsikan sebagai sesuatu yang mahal dan mewah, sedangkan penggunaan batik dapat menunjukkan kesadaran terhadap warisan budaya.
Pada tingkat yang lebih luas, batik dapat menjadi identitas nasional dan kultural. Pakaian batik bahkan dapat digunakan untuk menampilkan identitas Indonesia sekaligus menjadi pembeda dengan bangsa lain.
Kajian tersebut akhirnya melihat batik sebagai medium yang menghubungkan budaya dan identitas. Perjalanan batik dapat dirangkum dari identitas personal, berkembang menjadi identitas sosial, kemudian menjadi identitas nasional dan kultural. Dengan demikian, perubahan fungsi batik menjadi komoditas dan gaya hidup tidak menghapus perannya sebagai penanda identitas. Batik tetap menjadi artefak budaya yang membawa nilai, simbol, dan sejarah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

