https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in

Geblek Renteng: Motif Khas Kulon Progo Yang Kini Berhenti Diproduksi

Motif batik Geblek Renteng dihentikan penggunaannya. Alasan: sarat politis & kurang mencerminkan tradisi budaya Yogyakarta.

Di balik setiap helai batik, selalu ada kisah dan makna yang melekat. Begitu pula dengan Geblek Renteng, motif batik khas Kulon Progo yang pernah dielu-elukan sebagai simbol kebersamaan masyarakat. Motif ini menampilkan bentuk menyerupai angka delapan yang melambangkan 88 desa dan kelurahan di Kulon Progo. Ia lahir dari semangat kolektif, menjadi ikon daerah, sekaligus karya monumental yang membawa kebanggaan tersendiri.

Namun, perjalanan motif Geblek Renteng tidak berlangsung mulus. Sri Sultan Hamengku Buwono X akhirnya memutuskan untuk menghentikan penggunaannya. Keputusan ini menimbulkan tanda tanya, sekaligus membuka ruang refleksi: bagaimana sebuah motif batik yang semula dirancang untuk mengikat kebersamaan justru harus dilepas demi menjaga netralitas budaya?

Politik dalam Sebuah Motif

Sejarah mencatat bahwa Geblek Renteng lahir di era kepemimpinan Bupati Hasto Wardoyo. Meski pada awalnya diniatkan sebagai simbol persatuan, lambat laun motif ini dianggap terlalu melekat pada figur politik tertentu. Sri Sultan menilai kelanjutan penggunaan motif ini bisa mengaburkan batas antara budaya dan politik. Batik, yang seharusnya menjadi ruang ekspresi kolektif, dikhawatirkan berubah menjadi simbol kepentingan personal.

Keputusan untuk menghentikan motif ini dapat dibaca sebagai upaya untuk menjaga kemurnian batik sebagai medium budaya, agar tidak terseret dalam pusaran politik praktis.

Identitas Budaya Yogyakarta yang Dijaga

Alasan kedua lebih bersifat kultural. Menurut Sri Sultan, Geblek Renteng dinilai kurang merepresentasikan identitas Yogyakarta secara menyeluruh. Motif ini lahir dari semangat lokal Kulon Progo, tetapi tidak sepenuhnya mencerminkan pakem tradisi batik gaya “Ngayogyakarta” yang kaya simbol kosmologis dan filosofi Jawa.

Sebagai gantinya, pemerintah daerah meluncurkan motif baru seperti Songsong Agung Ngambararum dan Binangun Kertoraharjo. Kedua motif ini diharapkan lebih sesuai dengan semangat budaya Yogyakarta, sekaligus menjadi warisan yang bisa berdiri netral tanpa beban politis.

Melestarikan Tanpa Membelenggu

Meski dihentikan penggunaannya secara resmi, Geblek Renteng tetap menyimpan cerita penting bagi masyarakat Kulon Progo. Ia menjadi penanda zaman, saksi bagaimana sebuah karya budaya bisa lahir, bertumbuh, dan pada akhirnya dilepaskan demi prinsip yang lebih besar: menjaga kebersamaan, netralitas, dan identitas budaya.

Bagi masyarakat, penghentian ini bukan berarti penghapusan memori. Justru, ia mengajarkan bahwa batik selalu hidup dalam dialektika: antara lokal dan universal, antara tradisi dan kontemporer, bahkan antara politik dan budaya. Dalam helai Geblek Renteng, kita melihat bagaimana batik bukan sekadar motif di atas kain, melainkan teks sosial yang terus dibaca ulang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Kompetisi kuliner Archipelago Hotel, Black Box Battle 2025 hadir di Aston Bogor. Chef & F&B Service tampilkan inovasi makanan dan minuman.

Archipelago Gelar Black Box Battle 2025, Chef dan F&B Service Adu Kreativitas di Aston Bogor

Batik Sidomukti, warisan keraton Jawa bermakna doa akan kemuliaan, kebahagiaan, dan kesejahteraan. Filosofi abadi yang tetap relevan.

Batik Sidomukti: Simbol Harapan akan Kemuliaan Hidup