Pengaruh budaya Tiongkok menjadi bagian dari perkembangan budaya Indonesia, terlihat melalui pertunjukan barongsai serta kuliner seperti lumpia Semarang dan pempek Palembang. Ketiga contoh tersebut memperlihatkan bagaimana interaksi antarkelompok masyarakat dapat menghasilkan bentuk budaya yang berkembang dalam kehidupan lokal.
Materi Budaya Indonesia karya Shannon Leonette Himawan, yang disusun pada 2018, membahas barongsai, lumpia, dan pempek sebagai contoh pengaruh serta akulturasi budaya Tiongkok di Indonesia.
Ketiganya memiliki latar belakang berbeda. Barongsai berkaitan dengan tradisi pertunjukan, sedangkan lumpia dan pempek menunjukkan hubungan antara sejarah kuliner, perdagangan, dan perjumpaan masyarakat dengan latar belakang budaya yang beragam.
Barongsai Menjadi Bagian Perayaan Imlek
Barongsai dikenal sebagai pertunjukan yang kerap ditampilkan dalam perayaan Imlek atau Tahun Baru China. Dalam materi tersebut, istilah barongsai dijelaskan sebagai perpaduan kata barong, yang merujuk pada kesenian boneka Bali, dan sai, yang berarti singa dalam bahasa Hokkian.
Uraian mengenai asal-usul barongsai memuat dua versi cerita. Salah satunya berasal dari kepercayaan leluhur Tiongkok mengenai roh jahat yang mengganggu manusia ketika para dewa kembali ke kahyangan pada awal tahun baru. Versi lain mengisahkan makhluk bernama Nien yang takut terhadap warna merah dan bunyi petasan.
Pertunjukan barongsai biasanya diiringi drum, simbal, dan gong. Drum menegaskan gerakan singa, sedangkan simbal dan gong melengkapi iringan serta ekspresi pertunjukan.
Di Indonesia, barongsai menjadi contoh bagaimana suatu tradisi pertunjukan dapat berkembang dalam lingkungan masyarakat yang beragam.
Lumpia Semarang Berawal dari Perpaduan Kuliner
Lumpia merupakan makanan khas Semarang yang dalam dokumen tersebut dikaitkan dengan pertemuan budaya Tionghoa dan Jawa pada abad ke-19.
Materi itu menceritakan seorang pria asal Fujian, Tiongkok, bernama Tjoa Thay Joe, yang menetap di Semarang dan menjalankan usaha makanan dengan isian daging babi serta rebung. Ia kemudian bertemu Wasih, perempuan Jawa yang menjual makanan serupa dengan isian kentang dan udang serta cita rasa lebih manis.
Setelah menikah, keduanya menyatukan usaha dan mengembangkan hidangan baru yang memadukan unsur kuliner masing-masing. Isian lumpia kemudian dijelaskan berupa ayam atau udang, telur, dan rebung yang dibungkus kulit berbahan tepung gandum.
Lumpia tersebut dijual di Olympia Park, sebuah pasar malam pada masa kolonial Belanda. Hidangan itu semakin dikenal masyarakat Semarang dan usaha penjualannya berkembang dari generasi ke generasi.
Kisah ini menggambarkan bahwa kuliner dapat menjadi hasil interaksi sosial sekaligus bagian dari identitas suatu kota.
Pempek Palembang dan Perdagangan
Pempek merupakan makanan khas Palembang yang berbahan dasar ikan. Menurut materi tersebut, makanan ini awalnya dikenal sebagai kelesan dan menjadi bagian dari tradisi pangan pada masa Kesultanan Palembang.
Nama kelesan dikaitkan dengan kata dikeles, yang merujuk pada kemampuan makanan untuk disimpan dalam waktu lama. Dalam perkembangannya, pempek mulai diperdagangkan secara komersial pada masa kolonial.
Dokumen tersebut menyebutkan bahwa pada 1916, pedagang pempek mulai menjajakan makanan itu dengan berjalan kaki dari kampung ke kampung, termasuk di kawasan sekitar Masjid Agung dan Masjid Lama Palembang.
Nama pempek kemudian dikaitkan dengan panggilan pembeli kepada penjual kelesan, yakni “Pek, empek, mampir sini!” Sebutan tersebut menjadi lebih populer dan bertahan hingga sekarang.
Akulturasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Barongsai, lumpia, dan pempek memperlihatkan bentuk pengaruh budaya yang berbeda. Pertunjukan merepresentasikan tradisi seni, sedangkan makanan mencerminkan pertukaran keterampilan dan cita rasa.
Ketiga contoh tersebut dapat menjadi materi pembelajaran mengenai akulturasi budaya Indonesia. Dokumentasi sejarah, pengenalan tradisi, dan pelestarian kuliner membantu masyarakat memahami bahwa keragaman budaya terbentuk melalui hubungan antarkelompok yang berlangsung dari waktu ke waktu.


