Dalam sebuah pertemuan Zoom APBBI, tema Babaran Batik Weton mengemuka sebagai upaya membaca ulang batik tidak sekadar sebagai karya visual, melainkan sebagai sistem makna yang berakar pada kesadaran ruang dan waktu masyarakat Jawa.
Gagasan ini berangkat dari refleksi panjang—sekitar lima tahun—tentang relasi antara konsep, motif, dan produk batik. Keyakinan yang muncul sederhana namun mendasar: motif batik tradisional tidak pernah hadir secara kebetulan. Di dalamnya terdapat jalinan antara fungsi, nilai, dan bentuk fisik yang saling berkelindan.
Pendekatan ini diperkuat oleh Nurohmad, perajin dan konseptor Batik Dongaji lulusan SMK Industri Kerajinan jurusan batik yang kemudian menempuh studi kriya kayu di ISI Yogyakarta. Dari perjalanan lintas disiplin tersebut, ia kembali dengan perspektif baru: membaca batik dari sisi konsep, bukan semata teknik.
Fokus kajiannya adalah weton—sistem penanggalan Jawa yang merupakan kombinasi Pancawara (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon) dan Saptawara (Senin hingga Minggu), menghasilkan 35 kemungkinan weton. Sistem ini berakar pada filosofi Sedulur Papat Kalima Pancer, yang memandang manusia sebagai mikrokosmos dalam keterhubungan dengan makrokosmos.
Dalam struktur weton, setiap hari dan pasaran memiliki konstelasi simbolik: unsur alam (air, api, tanah, udara), flora, fauna, angka, warna, hingga arah mata angin. Simbol-simbol tersebut bukan praktik mistik, melainkan sistem kosmologi yang dalam berbagai budaya juga dikenal—seperti Feng Shui atau horoskop.
Dari sinilah muncul pertanyaan menarik: apakah simbol weton dapat dibaca dalam motif batik?
Menurut Nurohmad, sangat mungkin. Banyak batik tradisional pedalaman telah memuat unsur flora-fauna, angka, serta simbol alam. Warna sogan dan nila mungkin dominan, tetapi makna simboliknya tetap kaya. Ia kemudian mengembangkan metode penciptaan motif batik berbasis weton—di mana unsur alam, warna, flora-fauna, dan angka dikonstruksi sesuai identitas kelahiran seseorang.
Metode ini diuji melalui workshop dan pameran bertajuk Babaran Batik Weton. Responsnya menunjukkan bahwa masyarakat batik terbuka untuk membaca tradisi secara lebih konseptual.
Dari hal ini, kita diajak melihat batik sebagai representasi kesadaran budaya—tentang waktu, arah, identitas, dan keteraturan semesta. Batik bukan sekadar kain bermotif, melainkan narasi hidup yang diwariskan turun-temurun.


