https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Babaran Batik Weton: Membaca Identitas Diri dalam Motif (1)

Babaran Batik Weton membaca motif batik melalui konsep waktu Jawa, mengaitkan identitas diri dan kosmologi tradisi.
Babaran Batik Weton membaca motif batik melalui konsep waktu Jawa, mengaitkan identitas diri dan kosmologi tradisi.

Dalam sebuah pertemuan Zoom APBBI, tema Babaran Batik Weton mengemuka sebagai upaya membaca ulang batik tidak sekadar sebagai karya visual, melainkan sebagai sistem makna yang berakar pada kesadaran ruang dan waktu masyarakat Jawa.

Gagasan ini berangkat dari refleksi panjang—sekitar lima tahun—tentang relasi antara konsep, motif, dan produk batik. Keyakinan yang muncul sederhana namun mendasar: motif batik tradisional tidak pernah hadir secara kebetulan. Di dalamnya terdapat jalinan antara fungsi, nilai, dan bentuk fisik yang saling berkelindan.

Pendekatan ini diperkuat oleh Nurohmad, perajin dan konseptor Batik Dongaji lulusan SMK Industri Kerajinan jurusan batik yang kemudian menempuh studi kriya kayu di ISI Yogyakarta. Dari perjalanan lintas disiplin tersebut, ia kembali dengan perspektif baru: membaca batik dari sisi konsep, bukan semata teknik.



Fokus kajiannya adalah weton—sistem penanggalan Jawa yang merupakan kombinasi Pancawara (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon) dan Saptawara (Senin hingga Minggu), menghasilkan 35 kemungkinan weton. Sistem ini berakar pada filosofi Sedulur Papat Kalima Pancer, yang memandang manusia sebagai mikrokosmos dalam keterhubungan dengan makrokosmos.

Dalam struktur weton, setiap hari dan pasaran memiliki konstelasi simbolik: unsur alam (air, api, tanah, udara), flora, fauna, angka, warna, hingga arah mata angin. Simbol-simbol tersebut bukan praktik mistik, melainkan sistem kosmologi yang dalam berbagai budaya juga dikenal—seperti Feng Shui atau horoskop.

Dari sinilah muncul pertanyaan menarik: apakah simbol weton dapat dibaca dalam motif batik?

Menurut Nurohmad, sangat mungkin. Banyak batik tradisional pedalaman telah memuat unsur flora-fauna, angka, serta simbol alam. Warna sogan dan nila mungkin dominan, tetapi makna simboliknya tetap kaya. Ia kemudian mengembangkan metode penciptaan motif batik berbasis weton—di mana unsur alam, warna, flora-fauna, dan angka dikonstruksi sesuai identitas kelahiran seseorang.

Metode ini diuji melalui workshop dan pameran bertajuk Babaran Batik Weton. Responsnya menunjukkan bahwa masyarakat batik terbuka untuk membaca tradisi secara lebih konseptual.

Dari hal ini, kita diajak melihat batik sebagai representasi kesadaran budaya—tentang waktu, arah, identitas, dan keteraturan semesta. Batik bukan sekadar kain bermotif, melainkan narasi hidup yang diwariskan turun-temurun.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Rayakan Imlek dengan Batik Lasem bernuansa merah khas Tionghoa, elegan, penuh makna, dan tetap modern untuk berbagai momen.

Rayakan Imlek dengan Batik Lasem: Elegan, Berwarna, dan Sarat Makna

Babaran Batik Weton membaca motif batik melalui konsep waktu Jawa, mengaitkan identitas diri dan kosmologi tradisi.

Membaca Weton dalam Motif Batik: Tafsir Simbol dan Identitas Diri (2)