in

Daniel Bikas, Seniman Karpet Persia yang Menggabungkan Tradisi dan Seni Konseptual

Daniel Bikas mengembangkan karpet Persia sebagai medium seni konseptual, memadukan tradisi tenun, desain grafis, filsafat, dan isu sosial.
Daniel Bikas mengembangkan karpet Persia sebagai medium seni konseptual, memadukan tradisi tenun, desain grafis, filsafat, dan isu sosial.

Tabriz — Daniel Bikas, seniman karpet Persia konseptual, mengembangkan tradisi tenun Persia menjadi medium ekspresi seni yang menggabungkan keahlian kerajinan, desain grafis, filsafat, dan gagasan sosial. Lahir di Tabriz, Iran, pada 1975, Bikas tumbuh dalam keluarga yang memiliki keterikatan kuat dengan seni tenun karpet Persia.

Sejak kecil, Bikas telah akrab dengan dunia karpet, kerajinan, warna, desain, dan narasi budaya yang dituangkan melalui tekstil. Ketertarikannya terhadap pola dan bahasa juga berkembang melalui kegemarannya terhadap majalah teka-teki silang sejak kelas empat hingga kelas 10. Minat tersebut turut membentuk kemampuan konsentrasi, pengenalan pola, pemikiran visual, pemecahan masalah, serta ketertarikannya pada kata dan gagasan.

Pada 2000, Bikas menyelesaikan pendidikan Farmasi di Tabriz. Meski berlatar belakang sains, minat intelektualnya berkembang ke berbagai bidang, termasuk filsafat, sosiologi, spiritualitas, seni visual, bahasa, dan kajian budaya.

Pada 2016, ia melanjutkan studi formal di bidang seni di Australia. Pengalaman antara Iran dan Australia memperkuat perspektif lintas budayanya serta membentuk identitas artistik yang menjembatani warisan Persia dengan seni dan desain kontemporer internasional.

Bikas dikenal sebagai ahli desain grafis, tenun karpet Persia, dan desain karpet konseptual. Ia memadukan teknik menenun, pewarnaan alami dan kimia, komposisi grafis, teori warna, serta seni konseptual dalam karyanya.

Karpet bagi Bikas bukan sekadar benda dekoratif. Melalui karya-karyanya, karpet menjadi medium untuk menyampaikan konsep, pertanyaan, narasi, dan komentar sosial. Tema yang diangkat mencakup filsafat, identitas manusia, sensor, kebebasan, tanggung jawab sosial, aksesibilitas, budaya, sejarah, dan kondisi manusia.

Praktik artistiknya berkaitan dengan Mission Art Movement, yang mengusung prinsip “Art as Duty. Creation as Conscience.” Dalam pandangan tersebut, seni dapat digunakan untuk mengamati masyarakat, mengungkap realitas yang terabaikan, mendorong refleksi, dan menerjemahkan gagasan kompleks menjadi pengalaman visual.

Selain berkarya di bidang seni, Bikas merupakan poliglot yang menguasai tujuh bahasa dan telah menerbitkan 12 buku pendidikan bahasa secara internasional. Ia juga menerbitkan dua buku yang mendokumentasikan praktik artistiknya, yakni Daniel Bikas Rugs — Collection 2020–2023 dan Daniel Bikas Rugs — Collection 2024–2025.

Melalui pendekatan tersebut, Bikas menempatkan karpet Persia sebagai kanvas, dokumen, pernyataan filosofis, pesan sosial, memori budaya, sekaligus karya seni rupa koleksi.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Karpet Persia taktil “The Privilege of Touch” karya Daniel Bikas menghadirkan seni inklusif berbasis sentuhan bagi penyandang tunanetra.

Karpet Persia Taktil “The Privilege of Touch” Hadirkan Pengalaman Seni Inklusif bagi Tunanetra

Merlynn Park Hotel Jakarta rayakan HUT ke-81 RI lewat Merdeka Bercerita, menghadirkan budaya, kuliner, UMKM, dan permainan tradisional.

Merlynn Park Hotel Jakarta Rayakan HUT ke-81 RI Lewat “Merdeka Bercerita”