Di tengah persaingan industri kreatif yang semakin dinamis, dunia batik Indonesia dituntut untuk terus berinovasi tanpa kehilangan akar tradisinya. Bagi Samsul Huda, Bendahara ASEPHI Periode 2024–2029 sekaligus pengurus APPBI, masa depan batik tidak hanya ditentukan oleh kekayaan motif dan nilai budaya, tetapi juga oleh kemampuan pelaku industri dalam melakukan riset dan pengembangan.
Menurutnya, selama ini perhatian masyarakat lebih banyak tertuju pada desain dan motif batik, sementara aspek material sering kali luput dari perhatian. Padahal, inovasi bahan baku dapat membuka peluang lahirnya produk-produk baru yang memiliki nilai tambah tinggi.

“Saya melihat masih sedikit pelaku batik yang fokus pada riset material. Padahal inovasi bahan baku bisa menciptakan produk baru yang lebih kompetitif dan memiliki karakter berbeda di pasar,” ujar Samsul.
Pengalamannya di dunia tenun dan kriya membuat dirinya terbiasa melakukan eksplorasi material. Ia bahkan pernah melakukan eksperimen menggunakan kertas semen sebagai bahan tenun yang kemudian diolah menjadi produk dekorasi dan kriya.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi bahan baku industri kreatif. Namun potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan karena budaya penelitian dan pengembangan atau research and development (R&D) masih belum kuat.
“Indonesia sebenarnya sangat kaya. Yang masih perlu diperkuat adalah budaya riset dan pengembangan agar kita tidak hanya mengikuti tren, tetapi mampu menciptakan tren baru,” katanya.
Selain inovasi material, Samsul juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi dalam industri batik. Ia menegaskan bahwa teknologi tidak boleh dipandang sebagai ancaman terhadap tradisi, melainkan sebagai alat yang membantu meningkatkan efisiensi dan kualitas.
“Teknologi harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti kreativitas manusia,” ujarnya.
Dalam proses kreatifnya sendiri, Samsul masih memulai desain secara manual menggunakan sketsa tangan. Setelah itu, desain dikembangkan menggunakan perangkat lunak komputer untuk mempermudah pengaturan motif dan ukuran.
Ia menilai teknologi desain digital seperti CorelDraw maupun perangkat serupa sangat membantu para pembatik dalam mengembangkan ide tanpa menghilangkan sentuhan artistik.
Hal yang sama berlaku terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurutnya, AI hanya berfungsi sebagai pendukung dalam proses kreatif.
“AI tidak akan menggantikan kreativitas pembatik. Ia hanya alat bantu tambahan untuk mempercepat proses tertentu,” jelasnya.
Di tengah perkembangan teknologi global, Samsul tetap optimistis terhadap masa depan batik Indonesia. Ia menilai dunia internasional masih sangat menghargai produk budaya yang autentik dan memiliki cerita di balik proses pembuatannya.
“Pasar dunia masih menghargai budaya dan karya yang autentik. Karena itu kita harus terus berinovasi tanpa meninggalkan identitas batik sebagai warisan budaya Indonesia,” tuturnya.
Bagi Samsul, kombinasi antara inovasi material, kreativitas desain, dan pemanfaatan teknologi yang tepat akan menjadi fondasi penting untuk membawa batik Indonesia semakin kompetitif di pasar nasional maupun internasional.

