Asia Tenggara pernah mengalami masa kejayaan ekonomi yang luar biasa pada abad ke-15 hingga awal abad ke-17. Namun kejayaan itu perlahan runtuh akibat kombinasi monopoli kolonial, krisis politik, dan perubahan ekonomi global.
Anthony Reid menjelaskan bahwa kemunduran Asia Tenggara terjadi ketika kawasan ini mulai menarik diri dari ekonomi global pada pertengahan abad ke-17.

VOC menjadi salah satu faktor utama. Belanda memonopoli perdagangan lada dan rempah dengan memanfaatkan penguasa lokal. Strategi “raja Kompeni” digunakan untuk mengontrol kerajaan-kerajaan Nusantara.
Kekalahan Aceh di bawah Sultan Iskandar Muda dan kegagalan Mataram menghadapi Belanda pada 1629 dianggap sebagai titik balik kemunduran Asia Tenggara.
Selain kolonialisme, faktor internal juga sangat berpengaruh. Banyak kerajaan menerapkan sistem absolutisme yang mengekang perdagangan rakyat. Di Mataram, Amangkurat I bahkan melarang rakyat berdagang ke luar negeri dan menghancurkan kapal-kapal dagang rakyat pesisir.
Rakyat pun memilih menyembunyikan kekayaan mereka karena takut dirampas penguasa. Kondisi ini menghambat lahirnya kelas pedagang kuat dan akumulasi modal jangka panjang.
Anthony Reid juga memasukkan faktor iklim sebagai penyebab krisis ekonomi. Pendinginan global menyebabkan gagal panen, penyakit, dan kelaparan di berbagai wilayah Asia Tenggara.
Meski demikian, satu kelompok yang tetap bertahan adalah komunitas Cina yang dikenal ulet dalam perdagangan. Mereka mampu menyesuaikan diri dengan perubahan ekonomi dan politik yang terjadi.
Kemunduran Asia Tenggara menjadi pelajaran penting bahwa kekuatan ekonomi memerlukan perlindungan hukum, kebebasan perdagangan, dan stabilitas politik agar dapat berkembang secara berkelanjutan.

