Sebelum Eropa mendominasi perdagangan global, Asia Tenggara telah lebih dahulu menjadi salah satu pusat ekonomi dunia. Letaknya yang strategis di antara Cina dan India menjadikan kawasan ini jalur penting perdagangan maritim internasional.
Anthony Reid menyebut periode abad ke-15 hingga ke-17 sebagai “kurun niaga” atau Zaman Perdagangan Asia Tenggara. Pada masa itu, perdagangan tumbuh pesat dan mengubah wajah ekonomi, politik, hingga budaya kawasan ini.

Faktor utama yang membuat Asia Tenggara sangat penting adalah rempah-rempah. Pala dan cengkih dari Maluku menjadi barang mewah bernilai tinggi di pasar Eropa dan Timur Tengah. Selain itu, lada dari Sumatra dan Jawa juga sangat diminati.
Pelabuhan-pelabuhan besar tumbuh di sepanjang jalur perdagangan maritim. Melaka menjadi pusat transit internasional, sementara Aceh berkembang sebagai bandar lada terbesar di Asia. Banten dan Makassar pun menjadi kota kosmopolitan yang ramai dikunjungi pedagang asing.
Perdagangan menciptakan pertumbuhan kota dan monetisasi ekonomi. Pajak mulai dibayar menggunakan uang, bukan hanya hasil bumi. Teknologi kapal dan militer juga berkembang pesat.
Yang menarik, Asia Tenggara kala itu memiliki kemiripan dengan Eropa Barat dan Jepang dalam hal integrasi perdagangan global.
Namun ada kelemahan besar yang menghambat pertumbuhan jangka panjang, yakni lemahnya perlindungan hak milik dan belum berkembangnya institusi keuangan modern. Kondisi ini membuat modal sulit berkembang menjadi sistem kapitalisme seperti di Eropa.
Meski akhirnya mengalami kemunduran akibat kolonialisme dan monopoli VOC, masa kejayaan perdagangan Asia Tenggara menunjukkan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat ekonomi dunia yang sangat dinamis.

