Asia Tenggara pernah menjadi pusat perdagangan dunia jauh sebelum kolonialisme Eropa menguasai jalur laut internasional. Di kawasan yang disebut Anthony Reid sebagai “wilayah bawah angin”, perdagangan bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan kekuatan besar yang membentuk politik, budaya, agama, hingga identitas masyarakat Asia Tenggara.

Pada abad ke-15 hingga abad ke-17, kawasan Asia Tenggara mengalami masa yang dikenal sebagai “Zaman Perdagangan”. Periode ini ditandai dengan ledakan perdagangan maritim internasional yang menjadikan kota-kota pelabuhan Nusantara sebagai simpul penting jaringan ekonomi global.
Keberadaan komoditas rempah seperti lada, pala, dan cengkih menjadikan wilayah ini incaran bangsa-bangsa dunia. Dari pelabuhan Aceh hingga Makassar, kapal-kapal asing berdatangan membawa perak, kain India, keramik Cina, dan berbagai barang mewah lainnya.
Anthony Reid dalam Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450–1680 menjelaskan bahwa Asia Tenggara memiliki posisi strategis karena berada di antara Cina, India, Timur Tengah, dan Eropa.
Rempah-rempah menjadi komoditas utama perdagangan global. Lada, pala, dan cengkih bahkan disebut Fernand Braudel sebagai komoditas penting dalam pembentukan kapitalisme saudagar dunia.
Kota-kota seperti Melaka, Aceh, Banten, Gresik, Jepara, Makassar, Ayutthaya, hingga Brunei berkembang menjadi pusat perdagangan internasional. Di kota-kota itu, pedagang Arab, Gujarat, Cina, Melayu, Portugis, dan Jepang bertemu dalam satu jaringan ekonomi besar.
Perdagangan juga mendorong perkembangan urbanisme. Kota pelabuhan menjadi pusat kreativitas budaya, penyebaran agama, serta pertumbuhan politik kerajaan maritim. Islam berkembang pesat melalui jalur perdagangan, begitu pula pertukaran budaya yang memperkaya Asia Tenggara.
Namun kejayaan itu perlahan melemah ketika VOC dan kekuatan Eropa mulai memonopoli perdagangan. Batavia, Manila, dan Melaka kolonial kemudian menggantikan dominasi pelabuhan lokal.
Meski begitu, Zaman Perdagangan meninggalkan warisan penting berupa jaringan budaya maritim dan identitas Asia Tenggara sebagai kawasan perdagangan dunia.

