https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Ini Penjelasan Batik Waleran Oleh Ketua P3BC Heri Kismo Rusimo

Ketua Paguyuban Perajin dan Pengusaha Batik Cirebon (P3BC), Heri Kismo Rusimo, memaparkan secara komprehensif perjalanan dan makna strategis Indikasi Geografis (IG) Batik Waleran bagi masyarakat Cirebon. Dalam Webinar Indigeo Batik Waleran yang digelar oleh Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI), ia menegaskan bahwa pengakuan IG bukan sekadar sertifikat administratif, melainkan pondasi perlindungan, penguatan identitas, sekaligus mesin penggerak ekonomi daerah.

Batik Waleran resmi diajukan sebagai Indikasi Geografis pada 30 Juni 2025 dan terdaftar pada 11 September 2025. Sertifikat tersebut diserahkan langsung oleh Direktorat Jenderal kepada Pemerintah Kabupaten Cirebon. Dengan pencapaian ini, Batik Waleran menjadi IG Batik ke-8, menyusul Batik Merawit sebagai IG ke-7.

Menurut Heri, proses mendapatkan Indigeo tidak mudah. Ada lima syarat utama yang harus dipenuhi: memiliki keunikan proses produksi, wilayah asal yang jelas dan dipetakan, data perajin yang terverifikasi, reputasi yang sudah dikenal, serta belum didaftarkan oleh daerah lain. Batik Waleran sendiri diproduksi di dua kecamatan dan sembilan desa di Cirebon, menjadikannya kuat secara basis komunitas.

Setelah terdaftar, seluruh penghasil dan penjual Batik Waleran wajib menjadi anggota KMPIG (Kelompok Masyarakat Pelindungan Indikasi Geografis). Di Cirebon, terdapat dua KMPIG: Merawit dan Waleran. Sistem ini dibangun untuk memastikan tata kelola berjalan kolektif dan terstandar.



Heri menekankan pentingnya quality control. Setiap produk yang ingin menggunakan label IG harus melalui proses grading oleh tim khusus. Produk yang lolos akan dilengkapi QR Code yang terhubung dengan website KMPIG, memuat informasi tingkat kualitas, riwayat pembuat, hingga storytelling produk. Transparansi ini dirancang untuk meningkatkan kepercayaan konsumen.

Secara makna, Indikasi Geografis (Indigeo) adalah pengakuan hukum atas kualitas, reputasi, dan karakteristik khas suatu wilayah. Bagi Batik Waleran dan Merawit, Indigeo berarti perlindungan atas motif, teknik, dan nama daerah. Lebih jauh lagi, Indigeo berdampak pada peningkatan nilai ekonomi dan daya saing.

Heri mencontohkan dampak nyata setelah Indigeo diperoleh. Batik Waleran mendapatkan program CSR senilai satu miliar rupiah dari perusahaan besar seperti Mondelez Internasional (produsen Oreo). Salah satu kemasan Oreo bahkan menggunakan motif Megamendung, memperkuat posisi batik Cirebon di tingkat nasional.

Namun, menurutnya, Indigeo bukan akhir perjuangan. Justru tantangan baru dimulai: menjaga mutu dan konsistensi sesuai dokumen deskripsi. Produk IG harus diposisikan sebagai kelas premium. Inovasi di luar standar tetap boleh berjalan, tetapi tanpa label Indigeo. Kreativitas tetap hidup, sementara Indigeo tetap sakral.

Keunggulan Batik Waleran terletak pada teknik gradasinya. Pelilinan bertahap dan pewarnaan berulang menghasilkan kedalaman warna yang khas. Beberapa perajin telah menguasai hingga 19 gradasi warna—sebuah signature yang direncanakan untuk lini premium tertentu.

Tantangan terbesar adalah regenerasi. Jika teknik ini tidak diwariskan secara sistematis, kualitas akan menurun. Karena itu, P3BC menjalankan program magang 3–6 bulan bersama SMK Batik dan SMK Gunung Jati, dilengkapi uji kompetensi serta dokumentasi teknis detail, mulai dari ketebalan malam hingga teknik pencelupan.

Di akhir pemaparannya, Heri menegaskan bahwa agar IG benar-benar menghasilkan nilai ekonomi, pengusaha batik harus bergerak dalam satu sistem: satu wadah yang kuat (P3BC), satu standar mutu yang terjaga, dan satu arah promosi bersama.

“Kalau kita berdiri sendiri, kita hanya seorang perajin. Tapi kalau kita bersatu, kita menjadi kekuatan ekonomi dan budaya Cirebon serta Indonesia,” tutupnya.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Babaran Batik Weton membaca motif batik melalui konsep waktu Jawa, mengaitkan identitas diri dan kosmologi tradisi.

Membaca Weton dalam Motif Batik: Tafsir Simbol dan Identitas Diri (2)

Subroto, Perajin Batik Mega Mendung Cirebon

Ketika Awan Digerakkan oleh Lilin: Kiprah Subroto dalam Menjaga Martabat Batik Mega Mendung Cirebon