Heri Susanto tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berlabuh di dunia batik. Sebelum 2017, hari-harinya diisi suara mesin bengkel dan lalu lalang dump truck rental. Namun ketika usaha lama tak lagi menjanjikan, ia mengambil keputusan besar: beralih sepenuhnya ke batik. Bukan batik biasa, melainkan batik warna alam—pilihan yang kala itu mulai digemari, tetapi penuh tantangan.

Di usia 51 tahun, rekeningnya hanya berisi kurang dari satu juta rupiah. Ia enggan melanjutkan bisnis dump truck yang berisiko tinggi itu, lalu berpikir tentang usaha sederhana yang dapat dilakukan secara cepat.
Heri kemudian menetapkan fokus setelah pilihan pertamanya ia entaskan, yakni shibori. Saat itu tren shibori tengah booming pada 2017–2018. Namun ia melihat shibori memiliki keterbatasan motif, harga jual tinggi, dan pasar yang sempit. Ia memilih jalur batik cap dengan seluruh desain cap merupakan kreasinya sendiri. Tidak ada pakem klasik, tidak pula motif baku. Karakter visual dan kekuatan warna indigo justru menjadi titik tekan karyanya.

Keterbatasan modal dan tenaga kerja membuat hampir semua proses dikerjakan berdua bersama sang istri: dari merancang cap, produksi, hingga finishing. Perihal dirinya memilih menggunakan pewarnaan alam karena berada di lingkungan perumahan yang jika ia gunakan pewarna chemical, akan menghasilkan limbah yang mengganggu lingkungan.
Untuk teknik pewarnaan alam, khususnya indigo biru, pria asal Lasem ini belajar di Yogyakarta, di lingkungan UGM. Selebihnya, ia belajar dari proses coba-coba, jatuh bangun, dan keberanian mengambil risiko.
Sebuah kalimat dari teman lamanya menjadi titik balik penting. “Kamu ini pengrajin tapi belum punya ciri khas.” Awalnya terasa menyakitkan, tetapi justru menjadi cambuk. Dari situlah Heri mulai mencari jati diri karyanya. Ia berhenti meniru dan mulai percaya pada intuisi. Sepuluh lembar kain yang ia produksi sendiri ternyata langsung habis saat dibawa pameran. Ia sadar, karya yang jujur selalu menemukan jalannya.
Menariknya, batik Heri kerap dianggap “aneh” oleh sesama perajin. Namun keanehan itulah yang justru laku keras di pameran. Kritikan demi kritikan ia terima sebagai masukan. Ia percaya, tanpa keberanian menerima kritik, seorang perajin akan berhenti tumbuh.
Dalam soal pewarnaan, Heri sangat realistis. Ia memanfaatkan bahan di sekitar, seperti limbah kayu merbau atau kulit mahoni. Indigo tetap menjadi andalan. Ia menolak romantisasi berlebihan soal air daerah atau rumus warna alam. Baginya, warna alam memang tidak pernah stabil, pasti pudar, dan justru di situlah kejujurannya.

Heri memposisikan produknya sebagai batik harga terjangkau. Harga eceran sekitar Rp200.000 dan grosir Rp175.000, agar cepat berputar. Tantangan terbesar justru edukasi pasar, karena banyak konsumen belum memahami karakter warna alam. Bahkan pernah ada pembeli mengembalikan produknya karena dianggap pudar, padahal itu khas warlami.
Tanpa toko, tanpa jaringan besar, dan tanpa sokongan pemerintah, Heri hanya mengandalkan Instagram dan jejaring pameran. Ironisnya, justru di masa pandemi, penjualannya meningkat. Pembeli terbesarnya adalah butik dan desainer yang membeli dalam paket untuk busana.
Di usianya yang 59 kini, dari batik warna alam inilah Heri membangun tempat tinggalnya, membeli kendaraan, dan menyekolahkan anak hingga kuliah. Ia tidak merasa punya rumus bisnis khusus. “Saya hanya terus bekerja dan berkarya,” ujarnya. Kisah Heri Susanto membuktikan bahwa batik bukan sekadar kerja budaya, tetapi jalan hidup yang mampu menghidupi keluarga—asal dijalani dengan jujur dan konsisten.
Alamat: Jl. Musi Raya A11 No.9, RT.009/RW.008, Harapan Jaya, Bekasi Utara, Bekasi, Jawa Barat 17124

