Banyumas menyimpan jejak panjang batik yang tak kalah indah dari kota-kota besar penghasil batik di Jawa. Di sepanjang tepian Sungai Serayu, di sudut-sudut desa seperti Sokaraja, Papringan, hingga Pekunden, warna-warna sogan yang teduh dan motif-motif sederhana namun sarat makna lahir dari tangan-tangan terampil para pengrajin. Batik Banyumas bukan sekadar kain, melainkan kisah โ tentang ketekunan, tentang filosofi hidup yang membumi, dan tentang warisan yang dijaga dari generasi ke generasi.





Namun, di balik keindahan itu, ada kenyataan yang tak bisa kita abaikan: jumlah perajin batik Banyumas kian berkurang. Anak-anak muda jarang yang mau meneruskan profesi ini. Godaan pekerjaan yang lebih cepat menghasilkan, tekanan ekonomi, serta masuknya batik printing yang murah dan instan membuat profesi pembatik tulis dan cap semakin terpinggirkan.
Meski begitu, di tengah derasnya arus perubahan, masih ada para pembatik yang memilih bertahan. Mereka tetap duduk di depan kompor kecil, memanaskan malam, menggoreskan canting dengan sabar, seakan melawan waktu. Mereka adalah penjaga nyala tradisi, menolak menyerah pada hilangnya nilai yang terkandung di setiap goresan malam di atas kain mori.
Batik Story Banyumas lahir untuk merekam kisah mereka. Bukan sekadar dokumentasi, tetapi juga sebuah penghormatan untuk para pengrajin yang telah menjaga warisan ini dengan segala keterbatasan. Semoga buku kecil ini bisa menginspirasi pembaca untuk lebih mengenal, mencintai, dan mendukung keberlanjutan batik Banyumas.
Banyumas, 9 โ 12 Agustus 2025
Tim Penyusun
Ucapan Terima Kasih
Atas nama seluruh tim penyusun Batik Story Banyumas, kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan, kontribusi, dan kepercayaan yang telah Bapak/Ibu berikan. Dukungan tersebut tidak hanya memungkinkan terbitnya e-booklet ini, tetapi juga menjadi napas bagi upaya pelestarian warisan batik Banyumas di tengah tantangan zaman.
Seperti yang kita ketahui bersama, jumlah perajin batik Banyumas terus menurun dari tahun ke tahun. Arus industrialisasi dan minimnya regenerasi menjadi tantangan nyata yang mengancam keberlangsungan tradisi ini. Namun, berkat bantuan dan kepedulian Bapak/Ibu, kami dapat merekam, mendokumentasikan, dan menyebarkan kisah para pembatik yang masih setia menjaga api tradisi, dari sudut-sudut desa hingga galeri kecil di tepi sungai.
Kontribusi Bapak/Ibu bukan sekadar dukungan materi, tetapi sebuah pernyataan sikap: bahwa warisan budaya harus terus hidup dan menjadi sumber kebanggaan generasi mendatang.
Semoga kerja sama ini dapat terus terjalin di masa depan, dan Batik Story Banyumas menjadi langkah awal dari gerakan bersama untuk menjaga batik Banyumas agar tetap eksis, dikenal, dan dicintai.

Kami mengucapkan terima kasih setulus-tulusnya dan sebesar-besarnya atas dukungan moril maupun materiil kepada:
- Bapak Darajat Machmud
- Bapak Panji Bharata
- Bapak Ikhsan Santosa
- Ibu Diana Lukita Wati
- Bapak Thomas Panji Susbandaru
- Bapak Idhoy Dorry Herlambang
- Bapak Eman Mulyaman
- Bapak Nunu Nugraha
- Bapak Putu Diyan
- Bapak Ade Kurniawan
- Bapak Handaru Dwi Yulianto
- Bapak Nyoman Iswara
- Bapak Bona Erickson
- Bapak Tiwbon
- Bapak Muhammad Natsir
- Ibu / Bapak Anonim
Ucapan terima kasih setulus-tulusnya kami haturkan kepada:
- Waringin Group Hotel Management
- Luminor Hotel Purwokerto
- Harris Hotel & Convention Citylink Bandung
- Batik Komar
- Oakwood Hotel Bandung
Ditepinya Sungai Serayu
Sungai Serayu mengalir dari lereng Gunung Prau di Dieng, membelah hamparan sawah, perkampungan, dan kota-kota kecil, sebelum bermuara di Laut Selatan. Sejak berabad-abad lalu, sungai ini menjadi nadi kehidupan masyarakat Banyumas. Ia membawa air untuk pertanian, menjadi jalur transportasi hasil bumi, sekaligus menghubungkan budaya-budaya yang berdiam di tepian alirannya.

Di sepanjang bantaran Serayu, terutama di wilayah Sokaraja, Papringan, dan Pekunden, aliran air ini bukan hanya menghidupi ladang, tetapi juga mewarnai sehelai kain. Air Serayu, yang terkenal kaya mineral, sejak dulu dimanfaatkan untuk mencuci kain mori dan melarutkan zat pewarna alami seperti soga, tingi, dan mengkudu. Proses ini memberi warna batik Banyumas yang khas: lembut, teduh, dan seolah menyerap ketenangan arus sungai.
Batik di Banyumas berkembang sejak akhir abad ke-19, dibawa oleh para pendatang dari pesisir utara Jawa seperti Pekalongan dan Batang yang menetap di daerah ini. Mereka membawa keterampilan membatik tulis, lalu berbaur dengan budaya lokal yang sederhana namun filosofis. Motif-motif seperti Lumbon, Jahe Srimpang, dan Serayuan terinspirasi dari alam sekitar: rumpun rumput di tepi sungai, aliran air yang berliku, hingga tanaman obat yang tumbuh subur di tanah lembab.
Seiring waktu, Sungai Serayu menjadi saksi perjalanan batik Banyumas. Ia melihat masa kejayaan ketika batik menjadi pakaian sehari-hari, dan juga menyaksikan kemunduran ketika jumlah perajin berkurang dan kain printing mulai menguasai pasar. Namun di beberapa sudut, terutama di galeri-galeri kecil dan rumah-rumah pembatik, tradisi ini tetap bertahan. Tangan-tangan terampil masih setia memanaskan malam, mencanting kain, dan merendamnya di air yang mengalir dari nadi Banyumas ini.
Api Kompor Malam Di Masa Keemasan Batik Banyumas
Pada awal abad ke-20, di tepian Sungai Serayu, aroma khas malam panas menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di Sokaraja, Pekunden, Papringan, hingga Kalisube, rumah-rumah pembatik berdiri berdekatan, seolah membentuk sebuah kampung besar yang bernafas dengan irama yang sama: irama membatik.

Batik Banyumasan lahir dari pertemuan budaya. Pedagang dan perajin dari pesisir utara JawaโPekalongan, Batang, bahkan Lasemโmembawa keterampilan membatik tulis dan cap. Mereka menetap di Banyumas, menikah dengan penduduk setempat, dan mulai mengadaptasi motif serta warna sesuai alam dan karakter masyarakat Banyumas yang sederhana, apa adanya, dan tidak berlebihan dalam ragam hias.
Ciri khas itu terlihat jelas: warna sogan yang teduh, kadang berpadu dengan biru nila atau hitam pekat, menciptakan nuansa tenang. Motifnya sering mengambil inspirasi dari lingkungan: rumpun lumbon di tepi sawah, umbi jahe yang bercabang (jahe srimpang), burung-burung kecil yang hinggap di ranting (kawung ceplok manuk), atau lengkung arus Sungai Serayu yang dituangkan dalam motif Serayuan.
Pada masa itu, batik bukan sekadar kain untuk upacara atau pesta. Ia dipakai sehari-hari, baik oleh petani, pedagang, maupun kalangan priyayi lokal. Bahkan, batik Banyumas menjadi identitas kedaerahan: orang bisa mengenali asal seseorang dari motif dan warna yang ia kenakan.
Puncak kejayaan terjadi antara tahun 1930โ1960-an. Permintaan batik Banyumasan meluas hingga ke Purwokerto, Cilacap, Banjarnegara, dan Kedu. Pasar Sokaraja setiap hari ramai oleh kain-kain batik yang dijual gulungan atau lembaran, sementara rumah produksi bekerja nyaris tanpa henti. Perajin batik, sebagian besar perempuan, menjadi penopang ekonomi keluarga.
Namun, seiring berjalannya waktu, arus modernisasi mulai menggerus. Mesin printing dan pewarna sintetis membuat batik tulis sulit bersaing harga. Generasi muda enggan duduk berjam-jam memegang canting, lebih memilih pekerjaan di pabrik atau merantau ke kota. Satu per satu rumah pembatik tutup, dan masa keemasan itu perlahan menjadi kenangan.
Meski demikian, di sudut-sudut tertentu Banyumas, masih ada nyala kecil yang bertahan. Para pembatik sepuh, dengan tangan yang mulai berkerut namun tetap terampil, menjaga tradisi ini agar tak benar-benar hilang. Mereka adalah penjaga pintu sejarah, memastikan bahwa kisah masa keemasan batik Banyumas tetap dapat diceritakanโbukan sekadar dibaca dari buku, tetapi juga dilihat, disentuh, dan dipakai dengan bangga.
Motif Cablaka dan Kearifan Lokal
Di Banyumas, kata cablaka bukan sekadar istilah. Ia adalah cerminan sikap hidup: berbicara apa adanya, jujur tanpa basa-basi, dan berterus terang tanpa dibuat-buat. Dalam dialek ngapak, cablaka menjadi penanda karakter orang Banyumas yang terbuka, egaliter, dan tidak suka berbelit.

Nilai inilah yang kemudian dituangkan dalam sebuah motif batik yang unik: Motif Cablaka. Tidak semua daerah penghasil batik di Indonesia punya pola yang lahir dari filosofi bahasa dan perilaku sosial masyarakatnya, tetapi Banyumas memiliki kebanggaan itu.
Secara visual, Motif Cablaka biasanya menampilkan susunan geometris sederhana, sering berpadu dengan bentuk bunga atau tanaman lokal, namun disusun tanpa ornamen yang terlalu rumit. Pilihan warnanya cenderung kontras namun jujurโhitam, cokelat sogan, dan kadang biru atau kremโseolah menegaskan ketegasan karakter Banyumas yang lugas namun tetap hangat.
Kisah lahirnya motif ini diyakini bermula dari masa ketika batik Banyumasan mulai mengembangkan identitasnya sendiri pada pertengahan abad ke-20. Para pembatik yang sebelumnya banyak meniru motif pesisiran mulai mencari simbol-simbol yang mencerminkan jati diri daerah. Dalam perbincangan sehari-hari, istilah cablaka sering muncul untuk menggambarkan kejujuran dan keluguan yang justru menjadi kebanggaan. Dari situlah ide muncul: mengabadikan cablaka di kain batik, agar nilai ini tidak hanya diucapkan, tetapi juga diwariskan secara visual.
Kearifan lokal yang terkandung di dalamnya sangat relevan hingga kini. Cablaka mengajarkan bahwa keterbukaan membangun kepercayaan, bahwa berkata benar lebih berharga daripada menyenangkan hati orang dengan kepura-puraan. Dalam masyarakat Banyumas, sifat ini mendorong hubungan sosial yang egaliter, di mana orang bisa berbicara dari hati tanpa takut perbedaan status atau jabatan.
Bagi para pembatik, setiap goresan canting pada Motif Cablaka bukan sekadar pekerjaan tangan, melainkan pernyataan budaya. Mereka berharap, siapapun yang mengenakan kain ini bukan hanya memakai keindahan visual, tetapi juga membawa semangat keterusterangan dan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan begitu, Motif Cablaka bukan hanya menjadi bagian dari khazanah batik Banyumas, tetapi juga media pelestarian nilai-nilai luhur yang membentuk karakter masyarakatnyaโsebuah pengingat bahwa dalam dunia yang sering dipenuhi basa-basi, ada keindahan dalam berkata dan bersikap apa adanya.
Warna Alam dan Kelahiran Warna Kimia
Di masa lalu, sebelum bahan kimia hadir di pasar, warna batik Banyumas lahir dari bumi itu sendiri. Para pembatik turun ke kebun atau hutan kecil di belakang rumah, memetik daun, kulit kayu, akar, dan buah untuk diolah menjadi pewarna.

Soga jawa, dengan aromanya yang khas, memberi warna cokelat teduh yang menjadi identitas batik Banyumasan. Kulit pohon tingi menghasilkan merah kecokelatan, akar mengkudu memunculkan merah bata, daun tarum menurunkan biru yang dalam, sementara kunyit memberi sentuhan kuning cerah. Semua proses ini dilakukan dengan sabar: bahan direbus berulang kali, kain direndam berhari-hari, lalu dijemur di bawah matahari. Hasilnya adalah warna yang tidak menyilaukan mataโlembut, bersahaja, dan seakan menyatu dengan tanah tempat ia berasal.




Namun, memasuki pertengahan abad ke-20, arus modernisasi membawa sesuatu yang baru: pewarna kimia sintetis. Awalnya datang dari kota-kota besar seperti Pekalongan atau Semarang, dibawa pedagang kain dan bahan batik. Warna kimia ini menawarkan kepraktisan yang menggodaโtidak perlu lagi merebus berhari-hari, warna lebih tajam, dan variasinya jauh lebih banyak: merah terang, biru muda, hijau zamrud, bahkan ungu dan oranye yang sebelumnya sulit dihasilkan dari bahan alami.
Bagi sebagian pembatik Banyumas, warna kimia adalah berkah. Produksi menjadi lebih cepat, biaya tenaga dan waktu berkurang, dan pesanan yang membutuhkan warna-warna cerah bisa dipenuhi. Tetapi bagi yang lain, kehadirannya menjadi dilema. Warna sintetis dianggap terlalu โberisikโ untuk karakter batik Banyumas yang selama ini dikenal teduh dan membumi. Ada kekhawatiran bahwa identitas visual batik Banyumas akan larut dalam tren warna mencolok yang sedang digemari pasar.
Pada akhirnya, banyak pembatik mengambil jalan tengah. Mereka memadukan teknik lama dan baruโtetap menggunakan warna alam untuk motif tradisional, dan memakai warna kimia untuk memenuhi selera pasar yang dinamis. Dalam beberapa galeri di Sokaraja dan Papringan, bahkan ada karya yang memadukan keduanya dalam satu kain: latar sogan alami berpadu motif bunga atau burung berwarna sintetis, menciptakan harmoni antara tradisi dan modernitas.
Perjalanan warna batik Banyumas adalah cermin dari perjalanan masyarakatnya: berakar kuat pada alam dan kearifan lokal, namun juga belajar beradaptasi dengan perubahan zaman. Dan hingga hari ini, di tangan para pembatik yang setia, warna-warna itu terus berceritaโtentang tanah, tentang air, tentang inovasi, dan tentang cinta yang tidak pernah pudar pada selembar kain.
Perbandingan Warna Alam vs Warna Kimia dalam Batik Banyumas
| Aspek | Warna Alam | Warna Kimia (Sintetis) |
| Sumber Bahan | Tumbuhan dan mineral lokal: Soga Jawa (cokelat)Kulit pohon Tingi (merah kecokelatan) Akar Mengkudu (merah bata)Daun Tarum/Indigofera (biru)Kunyit (kuning) | Pewarna sintetis berbasis anilin atau naphtol, diproduksi pabrik tekstil (diperoleh dari distributor/pasar kain) |
| Proses Pewarnaan | Bahan direbus untuk mengekstrak warna Kain direndam berulang kali Pewarnaan memakan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu Proses membutuhkan air bersih (sering dari Sungai Serayu atau sumur) | Pewarna dicampur dengan air sesuai takaran – Kain direndam atau dicelup beberapa menit hingga jamProses jauh lebih singkat dan praktis Tidak memerlukan perendaman lama |
| Karakter Warna | Lembut, teduh, dan cenderung naturalWarna menyatu dengan serat kain Nuansa โmembumiโ sesuai karakter batik Banyumasan | Tajam, cerah, dan bervariasiBanyak pilihan warna modern (merah terang, ungu, hijau neon) Daya tarik visual lebih kuat di pasar umum |
| Ketahanan Warna | Tahan lama dan memudar dengan cantik (patina alami) Warna bertahan puluhan tahun jika perawatan tepat | Umumnya tahan lama tetapi bisa pudar lebih cepat tergantung kualitas bahan pewarna – Warna cerah dapat memudar menjadi kusam |
| Makna Budaya | Melambangkan keterikatan pada alam dan kearifan localMencerminkan kesabaran dan ketekunan pembatik | Melambangkan adaptasi dan keterbukaan terhadap inovasi – Cerminan penyesuaian terhadap selera pasar modern |
| Kelebihan | Ramah lingkunganNilai seni dan budaya tinggi Identitas visual khas Banyumas | Produksi cepatWarna bervariasi dan menarik Harga produksi lebih murah |
| Kekurangan | Proses lama dan rumitBiaya produksi lebih tinggiPilihan warna terbatas | Tidak semua warna cocok dengan karakter batik Banyumas Berpotensi mengikis ciri khas warna teduh batik lokal |
Peran Batik Banyumas dalam Kehidupan Masyarakatnya
Pada masa lalu, batik bukan sekadar kain bermotif, melainkan bagian dari siklus hidup: menyelimuti bayi yang baru lahir, menjadi busana pengantin di pelaminan, hingga kain penutup jenazah di peristirahatan terakhir. Setiap helai membawa makna, setiap motif menyimpan cerita.
Batik juga menjadi penanda status sosial. Dalam hajatan desa, kain batik yang dipakai menunjukkan peran dan posisi seseorang. Pedagang di pasar, guru di sekolah, hingga lurah desaโsemua memiliki pilihan motif dan warna yang dianggap โpantasโ sesuai adat. Bahkan, dalam upacara adat seperti ngapati atau mitoni, batik tertentu digunakan untuk memberi doa dan restu.

Memasuki awal abad ke-20, jalur kereta api dan perdagangan mempertemukan batik Banyumas dengan daerah lain. Pedagang dari Solo, Pekalongan, dan Yogyakarta membawa teknik baru, memicu lahirnya varian motif dan pewarna yang lebih berani. Batik yang awalnya berwarna alami mulai berpadu dengan warna kimia, mempercepat produksi sekaligus menurunkan harga, sehingga batik semakin terjangkau bagi masyarakat luas.
Namun, perubahan ini juga membawa tantangan. Batik tradisional yang dibuat dengan pewarna alam dan teknik canting tulis mulai kalah cepat dengan batik cap dan printing. Banyak perajin beralih profesi, sementara sebagian kecil tetap bertahan dengan idealisme menjaga cara lama.
Identitas dan Ekonomi Kreatif

Di era modern, peran batik Banyumas kembali menemukan gaungnya. Kini batik bukan hanya pakaian upacara, tetapi juga hadir di ruang kerja, sekolah, dan panggung mode. Pemerintah daerah mendorong penggunaan batik di hari tertentu setiap minggunya, sementara desainer muda mengolah motif-motif klasik menjadi busana kontemporer.
Batik juga menjadi sumber ekonomi kreatif. Galeri-galeri batik di Sokaraja, Purwokerto, hingga Banyumas kota memasarkan kain tulis, cap, dan kombinasi keduanya ke wisatawan lokal maupun mancanegara.
Batik Sebagai Jejak Identitas Banyumas
Meski dunia terus berubah, batik Banyumas tetap memegang peran sebagai penjaga identitas daerah. Bagi sebagian orang tua, mengenakan batik adalah cara untuk โnguri-uriโ warisan leluhur. Bagi generasi muda, batik menjadi medium berekspresiโmenggabungkan filosofi lama dengan gaya hidup kini. Dan bagi Banyumas sendiri, batik adalah narasi panjang yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan: dari pekarangan rumah sederhana, melewati pasar-pasar tradisional, hingga layar digital marketplace.
Para Penjaga Nyala Api Batik
Di tepian kali irigasi Sokaraja, aroma malam bercampur dengan suara gemericik air. Heru Santosa menata kain batik di galeri Batik R. Setiap helai kain batik tulis buatannya adalah bab dari perjalanan keluarganya โ kisah yang dimulai sejak 1970-an, ketika ayahnya mulai membatik di Pekalongan lalu memindahkan napas usahanya ke Banyumas.
Bagi Heru, batik bukan sekadar kain. Ia adalah jembatan waktu, menghubungkan masa kecilnya yang diwarnai bau malam dan goresan canting, dengan tanggung jawab hari ini untuk menjaga tradisi. โKalau generasi saya berhenti, cerita ini akan padam,โ katanya sambil melipat kain batiknya.
Beberapa kilometer dari Batik R, di sebuah rumah produksi di jantung Banyumas Lama, Slamet Hadipriyanto sedang mengamati pembatiknya bekerja. Ia generasi ketiga dari brand Batik Hadipriyanto yang masih bertahan di Kota Banyumas Lama (kini Jalan Mruyung).
Slamet mengakui betapa sulitnya memasarkan batik di kontraksi ekonomi dua tahun belakangan ini. Namun ia tetap bersemangat selama dirinya ada, Batik Hadipriyanto akan tetap ada. Selain mendirikan showroom, Batik Hadipriyanto juga memasarkan batiknya ke pasar-pasar setempat.
Keduanya sama-sama memahami, bahwa menjaga batik Banyumas bukan perkara romantisme semata. Ada realitas keras: persaingan harga, menipisnya jumlah pembatik muda, dan tekanan pasar global. Namun, baik Heru maupun Slamet percaya, batik tak boleh kehilangan jiwanya.
Pusat Souvenir Batik Banyumas
Di sepanjang jalur kota, tersebar empat titik yang menjadi simpul utama bagi para pecinta batik Banyumas:
Galeri Batik Banyumasan, Jalan Krajan

Batik Banyumasan di Jalan Kranji dikenal sebagai toko pusat kota yang menyediakan berbagai kain dan produk jadi: kain celup, batik cap, hingga pakaian jadi. Letaknya dekat alun-alun sehingga mudah dijangkau pejalan kaki. Toko ini sering menampilkan koleksi baru dan melayani pemesanan online untuk pembeli luar kota.
Alamat:Jl. Kranji No.53, Brubahan, Purwanegara, Kec. Purwokerto Tim., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53116
Batik Benang Raja

Batik Benang Raja menghadirkan batik fashion dengan sentuhan kontemporer โ pilihan yang pas untuk wisatawan yang mencari batik siap pakai atau suvenir modis. Mereka aktif di platform digital dan buka tiap hari; toko ini juga dikenal melayani pesanan lewat WhatsApp dan marketplace.
Alamat: Jl. Komisaris Bambang Suprapto No.837, Cigrobak, Purwokerto Lor, Kec. Purwokerto Tim., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53114
Galeri UKM Banyumas Raya

Galeri ini menampilkan hasil karya perajin skala kecil hingga menengah: batik cap, semi-tulis, serta produk siap pakai. Galeri ini penting sebagai ruang pamer koleksi komunitas dan tempat bertemu antara wisatawan dengan pengrajin.
Alamat: Sitapen, Purwanegara, Kec. Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53116
Batik Martadireja

Martadireja menawarkan katalog batik yang mengombinasikan motif tradisional Banyumasan dengan potongan dan warna yang mengikuti tren modern. Selain kain, mereka sering menyediakan layanan jahit dan konsultasi desain untuk pelanggan yang menginginkan batik custom.
Alamat: Jl. Martadireja II No.259, Purwokerto Wetan, Kec. Purwokerto Tim., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53111
Di tengah arus modernisasi, Purwokerto bukan hanya kota transit atau kota kuliner. Ia juga menjadi pusat perjumpaan masa lalu dan masa depan batik Banyumasโtempat di mana setiap helai kain membawa cerita, dan setiap motif adalah penanda identitas yang tak lekang waktu.
Nyala Batik Banyumas
Batik Banyumas adalah kisah yang tidak hanya terpatri di sehelai kain, tetapi juga di hati para penjaganya. Dari kecamatan kecil di Sokaraja, eksistensi batik di Kota Banyumas Lama, hingga ruas jalan di kota Purwokerto, canting tetap digores meski dengan denyut yang lemah, sambil berdoa agar warisan ini tak lekang dimakan waktu.
Semua nama itu hanyalah sebagian dari mozaik besar penjaga nyala batik Banyumas. Mereka berdiri di antara masa lalu yang ingin dikenang dan masa depan yang ingin diraih, memastikan motif-motif seperti Jahe Srimpang, Lumbon, atau Mataraman terus hidup, dikenakan, dan dimaknai lintas generasi.
Batik Banyumas adalah napas, adalah nyala, adalah kisah. Selama masih ada tangan yang rela memegang canting, hati yang mencintai warisan, dan jiwa yang percaya bahwa budaya adalah pusaka, maka nyala itu akan terus berpijar.

