https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Heru Santosa: Menjaga Tradisi Batik Tulis Sokaraja, Banyumas

Batik R di Sokaraja, Banyumas, menjaga warisan batik tulis sejak 1970-an, melawan gempuran printing, dan mengajarkan batik pada generasi muda.

Di sebuah sudut Kecamatan Sokaraja, Banyumas, terdapat galeri tepi sungai irigasi. Di sanalah Heru Santosa, penerus generasi kedua Batik R, menjaga napas sebuah usaha yang berakar sejak tahun 1970-anโ€”bukan sekadar bisnis, melainkan warisan keluarga dan sejarah batik Banyumasan itu sendiri.

“Dulu hingga tahun 90-an, Sokaraja banyak berdiri usaha-usaha batik skala kecil hingga besar. Sekarang banyak yang berguguran,” kenangnya.

Batik R di Sokaraja, Banyumas, menjaga warisan batik tulis sejak 1970-an, melawan gempuran printing, dan mengajarkan batik pada generasi muda.
Batik R di Sokaraja, Banyumas, menjaga warisan batik tulis sejak 1970-an, melawan gempuran printing, dan mengajarkan batik pada generasi muda.

Dari Pekalongan ke Sokaraja

Kisah Batik R dimulai dari ayah Heru, Sugito, yang pada dekade 1970-an memutuskan belajar membatik di Pekalongan. Kala itu, pengetahuannya masih minim, tapi semangatnya besar. Setelah merasa cukup mahir, Sugito pulang ke Banyumas, mengumpulkan para pembatik lokal, dan memulai usaha batik tulis.

Produksinya awalnya dijual ke Batik Rasyidi di Pekalongan, milik Habsah, perempuan keturunan Arab. Hubungan kerja yang terjalin erat membuat Sugito dipercaya memasok produk dalam jumlah besar. Namun, saat pemilik Batik Rasyidi meninggal, usaha itu terhenti tak ada penerus karena pemiliknya tak berketurunan dan anggota keluarga lainnya enggan melanjutkan.

Untuk melestarikan aset, Sugito membeli seluruh peralatan, canting, bahkan mematenkan merek “Batik R” meski dengan proses yang cukup lama.

Tahun 2004, ketika Pemkab Banyumas menawarkan program pendaftaran merek untuk UKM, Sugito mendaftarkannya ke Paten HAKI. Butuh waktu lama hingga akhirnya Batik R diakui secara resmiโ€”status yang kini menjadi kebanggaan keluarga.

“Penamaan R agar mudah diingat, sesuai dengan plat nomor Banyumas,” ujarnya tertawa.

Kebangkitan Lewat Kebijakan Bupati

Batik R di Sokaraja, Banyumas, menjaga warisan batik tulis sejak 1970-an, melawan gempuran printing, dan mengajarkan batik pada generasi muda.

Krisis moneter 1998 nyaris mematikan industri batik Banyumas. Dari 125 pengrajin yang tercatat, tersisa hanya 12 pada tahun 2000. Melihat kondisi ini, Bupati Banyumas saat itu, Aris Setiono, mengeluarkan SK yang mewajibkan ASN memakai seragam batik Banyumas.

Bagi Batik R, ini ibarat hujan di musim kemarau. Permintaan melonjak, meski kapasitas produksi dan jumlah tenaga kerja masih terbatas. Heru, yang mulai fokus belajar membatik sejak tahun 2000, terjun langsung mengelola usaha bersama adiknya setelah sang ayah wafat.

Bertahan di Tengah Gempuran Printing

Kini, di Banyumas hanya beberapa saja pengrajin batik tulis dan cap yang masih bertahan: Batik R dan Batik Hadiprayitno. Sisanya beralih ke batik printing atau kombinasi printing-tulis karena biaya produksi lebih murah dan proses lebih cepat.

Heru tetap memegang teguh pesan ayahnya: jangan pernah meninggalkan batik tulis. Idealisme ini tak jarang membuatnya โ€œmelawan arusโ€ pasar yang kian pragmatis.

“Bukan kami sok idealis, tapi warisan orang tua ini layak dan harus dipertahankan,” ujar Heru.

Batik R bahkan memiliki SNI dari Balai Besar Batik Yogyakarta, sebuah pengakuan kualitas yang hanya diraih segelintir pengrajin di Banyumas.

Misi Regenerasi: Dari Kelas ke Pabrik

Batik R di Sokaraja, Banyumas, menjaga warisan batik tulis sejak 1970-an, melawan gempuran printing, dan mengajarkan batik pada generasi muda.

Heru paham, tanpa regenerasi, batik Banyumas akan punah.

Sejak 2007, ia mengajar batik di SMA Negeri 1 Sokarajaโ€”satu-satunya SMA di Banyumas yang memiliki mata pelajaran batik. Strateginya unik: setiap siswa wajib membuat batik yang akan dijadikan seragam sekolah mereka sendiri.

“Kalau dipakai sendiri, anak-anak akan berusaha membuat sebaik mungkin. Malu kalau hasilnya jelek,” jelasnya sambil tersenyum.

Ia juga melatih siswa SLB dari Purwokerto hingga Cilacap, agar semua lapisan masyarakat mengenal dan mencintai batik lokal.



Antara Seni, Profit, dan Masa Depan

Meski pasar kerap tergoda harga murah batik printing, Heru percaya batik tulis dan cap Banyumas punya nilai seni yang tak tergantikan. Ia melihat ancaman serius ketika pengrajin lebih memikirkan profit ketimbang keberlangsungan seni batik.

Baginya, mempertahankan Batik R bukan hanya soal bisnis, melainkan penghormatan pada kerja keras generasi sebelumnya.

“Saya dari bayi sudah mencium bau malam. Ini bagian dari hidup saya. Selama saya mampu, Batik R akan tetap seperti duluโ€”lahir dari batik tulis.”

Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko


Artikel ini didukung secara personal oleh:

Bapak Darajat Machmud, Bapak Panji Bharata, Bapak Ikhsan Santosa, Ibu Diana Lukita Wati, Bapak Thomas Panji Susbandaru, Bapak Idhoy Dorry Herlambang, Bapak Eman Mulyaman, Bapak Nunu Nugraha, Bapak Putu Diyan, Bapak Ade Kurniawan, Bapak Handaru Dwi Yulianto, Bapak Nyoman Iswara, Bapak Bona Erickson, Bapak Tiwbon, Bapak Muhammad Natsir.

Terima kasih sebesar-besarnya atas dukungan dari pihak:

Waringin Group Hotel Management, Luminor Hotel Purwokerto, Harris Hotel & Convention Citylink Bandung, Batik Komar, dan Oakwood Hotel Bandung.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Batik tak hanya warisan darah biru, tapi juga hasil kerja keras dan belajar. Siapa pun bisa jadi penjaga budaya, asal punya tekad dan cinta.

Darah Biru Batik: Antara Warisan dan Usaha Tanpa Titisan

Dudung Aliesyahbana menyebut masa depan batik menjadi tanggungjawab kita, bukan sekedar warisan

Dudung Aliesyahbana: Batik Bukan Sekadar Warisan, Tapi Tanggungjawab Kultural Kita