Di Kedung Halang, Bogor, berdiri sebuah pabrik garmen milik Hendra Wijaya, seorang pengusaha yang tak hanya dikenal karena produknya, tapi juga karena langkah-langkah kakinya menembus batas benua, medan ekstrem, dan bahkan tanah suci.
Siapa sangka, pria kelahiran 1966 ini memulai perjalanannya dari dunia IT di sebuah bank BUMN. Selepas bekerja di bank, dan sempat merancang rencana S2 ke Australia, hidup justru mengarahkannya ke dunia jahit-menjahit.

“Awalnya saya hanya punya sebelas mesin jahit dan tenaga borongan,” kenangnya. “Tapi karena saya ingin kualitas, saya ubah jadi pekerja tetap. Rugi di awal, tapi saya yakin itu proses.”
Kini, melalui PT Rajawali Mulia Perkasa, Hendra memproduksi pakaian untuk merek-merek kenamaan seperti Polo, M2, dan Nail, brand miliknya sendiri. Namun, di balik setiap helai kain yang dijahit, ada semangat petualangan yang menyala-nyala dalam dirinya.
Dari Mesin Jahit ke Jalur Ultramarathon
Kecintaannya pada dunia luar ruang bermula dari kecelakaan. Tahun 2008, ia mengalami patah tangan, dan untuk terapi, ia mulai berlari. Apa yang semula hanya jadi latihan pemulihan, berubah menjadi jalan hidup baru. Tak tanggung-tanggung, lomba pertamanya adalah Sundown 100K Ultramarathon di Singapura.
“Saya pikir, 30 km sehari saya bisa, berarti 100 km juga bisa,” katanya, tertawa. “Ternyata memang bisa, meskipun strategi saya waktu itu keliru.”
Dari situ, ia terus menantang batas diri: berlari marathon 170 km di Filipina, 330 km di Pobla Jayan, 900 km di Transpyrenees, dan puncaknya: 1.600 km di Himalaya selama 46 hari. Ia bahkan pernah ikut lomba di Artik dengan suhu -50°C sejauh 566 km.

Titik Balik di Kutub Utara
Bukan garis finish yang mengubah hidupnya, melainkan nyaris tak bisa sampai ke sana.
“Waktu ikut Iditarod Trail Invitational di Alaska, itu titik balik saya. Dalam suhu -50 derajat, saya mulai berdzikir. Saya pikir, kenapa saya harus mati untuk hal duniawi begini?”
Dari sana, ia memutuskan untuk berhaji. Tapi seperti petualangan lainnya, ia tak memilih cara biasa. Ia pergi berhaji dengan bersepeda dari Asia menuju Arab Saudi — perjalanan sejauh 15.234 km yang ia tempuh selama 100 hari, rata-rata ia tempuh 152 km per hari.
Dalam perjalanan itu, ia sempat sakit, dioperasi, dan turun berat badan 9 kg. Namun, semangatnya tak padam. Ia tetap mengayuh hingga sampai di Ruwais, dekat perbatasan Arab Saudi, dan menunggu visa haji selama 10 hari bersama rombongan Thayiba Tora.
“Saat visa keluar, saya menangis. Ini bukan sekadar administrasi, ini perjalanan spiritual.”

Antara Garment, Batik, dan Sport Café
Kembali ke Bogor, Hendra tak berhenti. Ia membangun Mitosh Sport & Ecotourism, sebuah sport café yang juga menjadi toko outdoor, tempat komunitas lari dan sepeda trail berkumpul, belanja, mandi, atau sekadar berbagi cerita.
Kerjasamanya dengan penyelenggara lomba-lomba lari ultra pertama di Indonesia membuat tempat ini hidup — bukan sekadar bisnis, tapi perpanjangan dari kecintaannya terhadap olahraga dan alam.
Sebagai pelaku industri garmen, ia juga peduli terhadap masa depan batik.
“Batik tulis harus dilindungi. Sayang kalau kualitas dan nilai seninya hilang. Pemerintah dan perusahaan besar harus mendukung. Jangan sampai yang eksis cuma batik printing impor.”
Ia percaya, banyak perajin batik dari pelosok yang punya potensi tinggi. Mereka hanya butuh akses pasar dan dukungan yang nyata.

Bekerja dan Bertualang: Dua Nafas dalam Satu Dada
Ada satu kalimat dari Hendra yang merangkum hidupnya:
“Pekerjaan saya bertualang, hobi saya bekerja.”
Bagi sebagian orang, hidup adalah memilih satu jalan. Bagi Hendra Widjaya, jalan itu bisa bercabang dan tetap seirama. Dari ruang produksi bising di Bogor hingga jalanan sunyi Himalaya, ia menemukan makna yang sama: ketekunan, keberanian, dan rasa syukur.
Kini, ia tak lagi hanya mengejar finish, tapi arah. Ia percaya bahwa hidup bukan hanya tentang kecepatan, tapi tentang tujuan. Dan dalam setiap langkahnya, ia membawa dua hal: tekad dan dzikir.
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

