Di Kota Bogor, nama “Kang Zul” dikenal luas oleh pelaku UMKM, pemuda penggerak organisasi, dan para pemimpin komunitas ekonomi lokal. Di balik nama populernya, tersimpan sosok bernama lengkap Zulfikar Priyatna, menapaki hidup dari bawah, bukan lewat warisan atau koneksi, melainkan dari kerja keras dan pembelajaran tanpa henti.
“Bapak saya cuma pegawai swasta biasa, ibu saya ibu rumah tangga. Saya tidak tumbuh di lingkungan pengusaha,” tuturnya.
Tapi justru dari situ jalan hidupnya bermula: dari dorongan mandiri untuk keluar dari lingkaran keterbatasan.

Dua Warna Etnis
Lahir dari ayah asli Bogor dan ibu asal Medan, Kang Zul tumbuh dalam keluarga dengan dua warna etnis yang kaya. Ia menyebut ada darah Arab—“katanya sih dari Irak, Arab Maklum (harap maklum),” candanya.
Tapi yang paling kuat bukan jejak darah, melainkan jejak semangat: semangat untuk memperbaiki diri, memperluas kapasitas, dan memperbaiki nasib.
Setelah masa remaja yang diakuinya “bandel”, ia menjalani masa gap years yang penuh penolakan dan kegagalan.
“Saya keliling: ke Solo, Jogja, Medan, Surabaya. Jualan ayam bakar, burger, baju sisa ekspor, sampai jadi fotografer keliling. Gagal semua.” Tapi dari tiap kegagalan itu, bukan hanya luka yang ia bawa pulang—melainkan pelajaran.
Di usia 24 tahun, saat sebagian anak muda masih sibuk mencari jati diri atau menyusun rencana karier, Kang Zul sudah mengambil keputusan penting: mengubah lingkaran pergaulan demi memperluas wawasan. Bukan karena ia lahir dari kemewahan atau berada dalam lingkungan yang mendukung, melainkan karena ia menyadari satu hal—bertahan hidup saja tidak cukup.

Kuliah dan Jalan Mencari Ilmu
“Saya sadar, mungkin bukan semangat saya yang kurang. Tapi strategi dan ilmunya yang nggak memadai.” Maka ia memutuskan kembali ke bangku kuliah. Bukan satu atau dua, tapi tiga gelar S1 ia kejar: Ekonomi Bisnis, Hukum, dan Psikologi. Dua berhasil diselesaikan, satu masih berproses. Di tengah itu, ia melanjutkan ke jenjang S2 di Universitas Pakuan, mengambil spesialisasi Manajemen Organisasi dan Budaya Organisasi.
“HRD itu gabungan dari psikologi, hukum, dan manajemen. Jadi saya pikir harus paham tiga-tiganya,” ujarnya. Di balik kesannya yang santai, Kang Zul adalah seorang pembelajar yang gigih. Uang makan disisihkan untuk beli buku. Jam kerja ia atur agar bisa ikut kuliah. Karena, seperti kata bosnya dulu, “hidup akan memberi kita bukan apa yang kita inginkan, tapi apa yang kita layak dapatkan.”

Transformasi Lewat Organisasi
Masuk ke dunia organisasi bukan hal mudah bagi Kang Zul. “Teman-teman saya dulu ya pedagang kaki lima, supir, tukang parkir, preman pasar. Mau gabung ke komunitas pengusaha itu malu bukan main,” kenangnya. Tapi rasa malu ia kalahkan dengan tekad. Ia membentuk perusahaan perorangan, lalu nekat mendaftar ke organisasi pengusaha muda.
“Saya masuk ke kelompok pengusaha yang saya tahu kapasitasnya jauh di atas saya. Di sana obrolannya beda, bukan cuma soal untung-rugi, tapi soal keberlanjutan, strategi, dan kepemimpinan,” kenangnya. Lingkungan itu bukan sekadar tempat belajar, tapi menjadi titik balik yang menumbuhkan kesadaran baru: bahwa peningkatan kapasitas diri seringkali dimulai dari keberanian untuk merasa ‘kecil’. Dari sanalah jalan baru terbuka. Tahun 2014, ia memprakarsai Gerakan Seribu Wirausaha di Bogor.
Ia terlibat aktif dalam HIPMI Kota Bogor, lalu dipercaya menjadi Ketua Umum di tahun 2018. Bukan karena paling kaya, bukan pula paling senior, melainkan karena sikapnya yang teliti, runut, dan terbuka terhadap dinamika kelompok.
“Teman-teman percaya karena mungkin mereka lihat saya sistematis dan punya daya pikir kritis. Tapi saya juga merasa beruntung karena dikelilingi orang-orang yang baik.”
Ia kini juga dipercaya menjadi Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kota Bogor. Perannya tidak lagi sekadar pembina UMKM, tapi juga pembuat kajian strategis ketenagakerjaan, pembangunan kawasan, hingga desain kebijakan berbasis data.
Di APINDO, Kang Zul belajar pendekatan yang lebih berhati-hati, lebih diplomatis. Ia menyusun FGD, mendengarkan semua pihak, dan menyampaikan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah secara tertulis. Isu-isu seperti penyesuaian upah, regulasi impor, hingga keseimbangan relasi pengusaha-buruh menjadi medan barunya.
Karena melihatnya masih sangat belia, maka Batiklopedia.com menanyakan bagaimana ia berbaur menghadapi para senior dan sifat senioritas mereka yang cenderung mengajukan atau mendahulukan kepentingannya, jawabannya sederhana namun jernih: “Saya anggap itu bentuk kasih sayang. Saya tampung semua masukan, saya tidak pernah tersinggung.”
Alih-alih melihat dinamika organisasi sebagai ajang tarik-menarik kekuasaan, ia memilih pendekatan lentur: membiarkan orang-orang mencapai kepentingannya masing-masing—selama tidak merusak kepentingan bersama. “Kalau ada yang ingin eksis, saya beri mic-nya. Tapi harus kerja juga.”
Refleksi hidupnya tumbuh seiring pengalaman. Ia pernah berpikir hidup adalah hitungan matematis: 1+1 harusnya 2. Lalu masuk ke fase bahwa hanya yang kuat dan pintar yang bisa bertahan. Tapi di titik sekarang, Kang Zul memilih percaya pada proses.
“Semua bunga pasti mekar, tapi tidak pada waktu yang bersamaan,” katanya tenang. Ia tidak mengejar validasi. Duduk di kursi belakang sebuah acara pun tak jadi soal. “Yang penting tidak kepanasan, dan tidak mengganggu lalu lintas orang lain,” selorohnya.

Dari Jalan ke Ruang Rapat
Kang Zul pernah menjajakan ayam bakar dengan gerobak dorong, kini duduk dalam forum-forum kajian ekonomi lokal, bahkan jadi konsultan untuk pengembangan wilayah. Ia juga menjadi bagian dari berbagai perusahaan, baik sebagai business strategist maupun mitra investasi.
Namun, ia mengaku lebih nyaman sebagai profesional daripada pemilik. “Saya pernah punya perusahaan, tapi akhirnya saya jual. Sekarang lebih fokus bantu sebagai konsultan atau investor. Jadi saya punya waktu lebih banyak buat belajar dan ngajar.” Dengan gaya hidup yang cenderung sederhana, ia menyebut profesinya saat ini lebih sebagai jalan hidup daripada ambisi pribadi.
Dari pengalaman hidupnya yang penuh jatuh bangun, Kang Zul menemukan satu kesimpulan: yang bisa diubah bukan dunia, tapi diri sendiri. “Kalau mau ngubah nasib, mulai dari mengubah kapasitas diri. Dunia akan menyesuaikan.”
Filosofi ini juga ia temukan dalam batik. “Batik itu miniatur kehidupan. Tiap motif itu hasil kesabaran, proses bertahap, dan ruang untuk kesalahan. Kalau sempurna, justru bukan batik.”

Menolak Politik, Memilih Makna
Meski punya modal jaringan dan kepemimpinan, Kang Zul masih menolak masuk politik. “Bukan waktunya. Saya belum siap memimpin orang banyak. Saya takut malah jadi mudharat.” Baginya, hidup bukan perlombaan untuk jadi paling hebat, tapi perjalanan untuk terus bertumbuh.
“Saya sadar, saya gak bisa ubah dunia. Tapi saya bisa ubah diri saya. Dan dari situ, semoga lahir perubahan kecil yang berarti.”
Jejak Kang Jul bukan hanya tentang usaha dan organisasi. Ini adalah kisah tentang belajar dari luka, tumbuh dari kekurangan, dan menenun kehidupan seperti batik—dengan sabar, lapis demi lapis. Dalam dunia yang cepat berubah, Kang Jul mengajarkan bahwa keberhasilan sejati datang bukan dari kilatnya langkah, tapi dari konsistensi dalam membangun diri.
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko
