https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

DINA AYU WIDIASTUTI, PEMBATIK GEN Z DI KAMPUNG BATIK CIBULUH

Dina Ayu Widiatuti Pemilik Batik Bogor Pancawati

Pembatik Gen Z satu ini merupakan orang yang lahir tumbuh di Kampung Batik Cibuluh. Ia bersama ibunya mendalami perbatikan dan kemudian melahirkan workshop Batik Pancawati di tahun 2014.

Dina Ayu Widiatuti Pemilik Batik Bogor Pancawati
Dina Ayu Widiatuti Pemilik Batik Bogor Pancawati

โ€œPada dasarnya kota Bogor bukan daerah penghasil batik, jadi kita ini menemukan banyak sekali kendala, terutama terkait SDM batik di kota Bogor yang kompeten. Dan akhirnya kita bersinergi dengan pemerintah kota Bogor untuk memberikan pelatihan. Awalnya pelatihan kepada masyarakat, khususnya di bidang batik,โ€ ujar ibu satu anak ini bercerita.

โ€œDan Qadarullah kita mengadakan pelatihan awalnya di Tegalega dulu. Di Tegalega sampai terbentuk satu brand batik bernama Tegalega Paniisan. Kita diberikan perhatian lagi oleh Pemkot untuk memberikan pelatihan ke masyarakat sekitar yang lokasinya di sekitaran Batik Bogor Pancawati.โ€

Dina mengenang bagaimana Kampung Batik Cibuluh terbentuk. Dan ia berada di dalam kelompok binaan tersebut.   

โ€œYa memang semua butuh proses yang panjang. Dari yang awalnya kita melatih itu kurang lebih sampai 50 orang. Tetapi yang konsisten dan mungkin yang hanya punya ketertarikan di batik itu hanya 6 orang awalnya. Nah, dari 6 orang itulah yang terus dibina dan diajarkan. Jadi kita nggak hanya sebatas pelatihan lalu ditinggalkan, tetapi kita terus mendapatkan pendampingan.โ€

Dukungan BAZNAS

Pelatihan-pelatihan tersebut membuat gerakan membatik di Kampung Cibuluh.

โ€œMasyarakat di Cibuluh ini mulai aware terhadap batik. Karena mungkin dari kesehariannya sudah terbiasa melihat aktivitas para ibu-ibu pembatik, sampai ada yang ikut gabung untuk ikut produksi batik, dan sampai akhirnya kita menemukan kendala yang besar juga.โ€

Dina juga mengenang bagaimana sebelum Kampung Batik Cibuluh berdiri, banyak tantangan dan kendala yang harus dihadapi para pembatik.

โ€œTantangan-tantangan yang awalnya kita sebut kendala, ternyata ini menjadi keberkahan buat kita. Kita merasa Kampung Cibuluh ini bukan daerah yang strategis, apalagi untuk dijadikan sebagai tempat usaha. Melihat aksesibilitasnya juga sangat sulit untuk dijangkau menggunakan kendaraan mobil.โ€

โ€œAkhirnya awalnya kita cuma bermimpi untuk pasang plang di depan bahwa di sini ada sentra industri batik. Nah, akhirnya dari situ atas doa para ibu pembatik dan ketekunannya, akhirnya jumlah kita bertambah sampai total anggota itu ada 40 orang pembatik.โ€

Tak disangka tak diduga, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) tertarik mengalirkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) ke Kampung Cibuluh tahun.

โ€œDari BAZNAS RI di-support untuk di-branding kampung ini menjadi sebuah kampung tematik. Awalnya seperti itu.โ€

Membatik Sejak SMA

Wanita kelahiran 1995 ini bercerita perkenalannya dengan batik dimulai sejak SMA.

โ€œBerawal dari mengikuti program Kementerian Perindustrian RI bersama ibu saya. Kita ikut program namanya Kelompok Usaha Baru. Nah, di situ ada beberapa bidang. Salah satunya adalah bidang batik.โ€

Dina menegaskan kalau usaha batik yang dirintis dengan ibunya tersebut bukan usaha turun-temurun keluarganya, melainkan belajar dari nol.

โ€œDi situ saya mulai belajar selama lima hari bagaimana caranya membuat batik dari proses awal hingga akhir. Karena basic suka gambar dan desain, ketika mulai mencoba batik, ternyata saya menemukan ketertarikan di situ. Dan akhirnya dapat support, bantuan dari kementerian waktu itu berupa modal usaha. Tapi bukan berbentuk cash money, melainkan berbentuk peralatan penunjang usaha seperti canting, kompor listrik, dan meja cap.โ€

Melampaui Cobaan

Batik Pancawati awalnya dikelola oleh Sang Ibu, Sri Hartati. Kemudian setelah lulus kuliah, Dina melanjutkan usaha tersebut hingga kini. Dina menceritakan keadaan keluarganya sebelum menjadi pembatik.

โ€œIbu saya itu penjual warung nasi, bapak saya buruh. Dan pas saya mau lulus SMA, ibu saya tuh dapat cobaan harus angkat rahim, terus harus berobat rutin tiap bulannya. Dan saya hampir tidak kuliah, hampir nggak lanjut ke kuliah. Terus bapak saya pensiun, pokoknya itu momen-momen itu momen-momen terberat.โ€

Mengatasi kondisi tersebut, Dina memberanikan diri untuk usaha sambil kuliah. Tak disangka, Dina mendapatkan beasiswa berkuliah di Gunadarma.

โ€œSaya mendapat beasiswa D3 di Gunadarma mengambil program Manajemen Keuangan. Selanjutnya mengambil S1 untuk program Manajemen.โ€

Di masa kuliahnya, keberuntungan lainnya bersambut. โ€œTernyata ketika dosen saya tahu saya kuliah sambil usaha, malah di-support, dan malah sering diikutkan lomba. Salah satu contohnya ketika saya diajukan ikutan lomba membuat Business Plan Wirausaha Mandiri dan mendapatkan pendanaan dari CSR.โ€

Pendanaan tersebut kemudian dijadikan modal usaha. โ€œDari awal saya punya uang Rp 2,5 juta dari hadiah lomba, terus akhirnya ketika dapat hadiah di lomba lainnya, saya tambahkan modalnya.โ€

Aktivitasnya bertambah dengan turut serta dalam pemilihan Duta Pariwisata Kota Bogor dan meraih penghargaan sebagai Mojang Berbakat.

Di masa pandemi, usaha Batik Pancawati nyaris terkena imbasnya. Di sisi lain, tahun 2021 di masa pandemi berlangsung, dirinya diganjar sebagai juara Wirausaha Muda Mandiri Kota Bogor, sebagai Pemuda Pelopor Kota Bogor, dan Duta Kesehatan. Hadiah uang yang didapatnya dijadikan modal tambahan usahanya.

โ€œKalau saya melihatnya ketika Covid-19 ini malah mendatangkan banyak keberkahan ya. Karena ketika di awal Covid-19 kita pasti semua pada shock banget karena perputaran ekonomi langsung stuck. Terus waktu itu sempat kayak ada cicilan juga kan. Untungnya dari pihak bank memberikan keringan berupa stop cicilan dulu. Dari situ kita fokus untuk promosi.โ€

Di masa promosi berlangsung, Dina dan pembatik Kampung Batik Cibuluh berkolaburasi hingga akhirnya mendapatkan bantuan CSR lagi.

โ€œAkhirnya kita bikin sebuah gebrakan namanya Lomba Kabogoh Bogor. Itu rame banget ternyata antusiasnya. Ada lomba komik strip, fotografi, videografi, dan stand up comedy. Nah ternyata dari situ Kampung Batik ini malah lebih dikenal lagi dengan adanya kegiatan program lomba virtual itu ya.โ€

Di masa pandemi pula, Kampung Batik Cibuluh mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa mesin produksi. โ€œAkhirnya mereka berlomba-lomba mencari bagaimana caranya produk mereka bisa terjual. Mereka bikin lah masker, segala macam.โ€

โ€œDan ternyata dari kegiatan ibu-ibu di sana kita malah bikin kooperasi yang masih berjalan hingga saat ini. Namanya Koperasi Kampung Batik Cibuluh. Anggotanya sekitar 26 orang.

Motif Batik Khas

Motif batik khas Batik Pancawati berfokus pada flora dan fauna khas Kota Bogor. Motif signature Batik Pancawati adalah motif Talas Paku Jajar. Motif ini menjadi motif pertama dan masih laku hingga saat ini.

โ€œMakna filosofis motif ini adalah sifat teguh pendirian seseorang yang disimbolkan melalui daun talas. Sedangkan motif kombinasi Paku Jajar atau Pakis Haji menunjukkan kekhasan tumbuhan tersebut yang tumbuh di tanah Kerajaan Pajajaran.โ€

Motif khas lainnya adalah Harimau Siliwangi dan Talas Kujang Truntum.

โ€œBanyak sih, kurang lebih sudah ada 40 motif. Masih banyak juga ikon-ikon kota Bogor yang bersejarah yang bisa kita jadikan sebagai motif. Akhirnya dari situ kita banyak juga cari-cari referensi. Kira-kira motif yang lagi in saat ini itu apa sih? Perpaduan warnanya kayak gimana sih? Lalu kita sering banget minta saran ke orang-orang yang kita temui.

Masa Depan Cibuluh

Program pemberdayaan masyarakat Kampung Batik Cibuluh masih terus berlangsung. Program pemberdayaan tersebut tidak mengarah pada ketersediaan buruh pembatik, melainkan mitra bisnis.

Ada sembilan kelompok pembatik yang beberapa diantaranya telah memiliki brand sendiri seperti contohnya Batik Pancawati.  

โ€œKenapa sampai ada sembilan kelompok ini? Karena dari awal kita berkolaborasi dengan stakeholder, kita mengarahkan bahwa kita ingin menjadikan mereka sebagai entrepreneur mandiri. Mereka bukan sebagai buruh atau pekerja harian. Makanya dari setiap kelompok ini mereka wajib memiliki brand. Kami dibantu untuk sertifikasi mereknya, terus kita bantu juga motif-motifnya untuk di-HAKI-kan. Terus mereka boleh juga pameran atas nama mereka sendiri.โ€

Dina juga menegaskan tujuannya sebenarnya pemberdayaan Kampung Batik Cibuluh arahnya untuk memberdayakan warga sekitar, untuk membangun entrepreneur mandiri.

โ€œKita di sini berjalan tidak secara perorangan, tapi di sini kita jalan bersama-sama. Jadi sosial impact-nya dapat,โ€ pungkasnya.

Batik Bogor Pancawati

Jl. Neglasari I Kelurahan No.14, RT.03/RW.04, Cibuluh, Kec. Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat 16151.

Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko


Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Membatik mencerminkan hierarki Maslow: dari kebutuhan dasar hingga aktualisasi diri, menjadikannya jalan hidup yang penuh makna dan kemanusiaan.

MERETAS WAKTU EKSISTENSI BATIK BOGOR

Batik artisan milik Dudung Alisyahbana

KENAPA ARTISAN BATIKS MAHAL?