https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Ade Kurniawan DP: Sales, Batik, Dan Kerja Pintar

Ade Kurniawan DP, VP Sales & Marketing Sinergi Informatika Semen Indonesia

Dalam dunia sales korporat, angka sering menjadi ukuran segalanya. Target di atas kertas bisa mendikte arah organisasi, bahkan nasib seseorang. Tapi tidak bagi pria yang kini duduk di kursi VP of Sales and Marketing PT Sinergi Informatika Semen Indonesia (SISI), salah satu anak usaha SIG (Semen Indonesia).

Bagi lulusan S2 UGM Strategic Management bergelar MBA ini, hidup bukan lagi soal kejar-mengejar angka omzet, melainkan soal keseimbangan, nilai, dan ketenangan hidup dengan tetap berkarya.

Dari Proyek Triliunan ke Prinsip-prinsip Baru

Pengalaman panjang di PLN Group dan Telkom Group telah menempanya dalam medan proyek-proyek besar swasta maupun pemerintahan.

“Saya dulu pernah ditarget dapet 250 sampai 500 miliar. Bahkan pernah ditawarin proyek 3 triliun. Tapi saya selalu menyampaikan rasionalitas, visibel dan proporsional nilai proyek tersebut ke manajemen. Jika rasional ambil, tapi jika secara proporsional ada sentimen negatif, saya tidak merekomendasikannya. Alhamdulillah saran saya sering dipakai,” kenangnya.

Ia juga pernah menolak proyek strategis karena merasa proyek itu tidak visible. “Anda berinvestasi, lalu di last minute minta saya hitung ulang. Anda saja nggak yakin, bagaimana saya bisa yakin?” ucapnya dengan nada tegas mengenang.

Strategi Bukan Sekadar Kecepatan

Mengemban amanah di SISI, dengan target penjualan hingga Rp 300 miliar. Tapi, cara pandangnya tak lagi soal percepatan mendadak atau lompatan-lompatan mencolok. Ia memilih pendekatan bertahap yang lebih sehat dan berkelanjutan.

“Saya tidak mau grafik naik tinggi terus jatuh. Saya maunya naiknya stabil dan terpenuhi target hingga akhir waktu.

Baginya, strategi yang baik bukan yang mengesankan publik sesaat, tapi yang bisa dijaga ritmenya. “Saya tidak ingin hanya performing target luar biasa, tetapi juga ingin bisa tidur nyenyak,” ulangnya mantap.

Tantangan Budaya dan Zona Nyaman

Namun di balik angka dan strategi, ada tantangan tak kalah besar: budaya kerja internal. Ia menyadari, banyak anggota timnya berada dalam zona nyaman. “Anak-anak sekarang beda. Dulu ada masanya tidur saja dikasih PO. Sekarang? Harus mulai canvassing lagi.”

Ia tak tinggal diam. Dua sesi coaching sudah ia gelar untuk membangunkan kesadaran timnya. Ia bahkan turun langsung mengajak tim canvassing,

“Saya ajak anak canvassing. Capek dia. Sehari ketemu lima orang. Tapi ya memang begitulah kerja sales. Gak bisa cuma nunggu. Harus gerak.”

Ia tahu, stabilitas lebih penting ketimbang gegap gempita sesaat.

“Tahun lalu kita cuma 180 miliar. Tahun ini naik jadi 200 miliar. Kenaikan targetnya nggak tinggi. Ikutin ritme pasar saja.”

Prinsip dan Integritas di Tengah Tekanan

Yang paling kentara dalam gaya kepemimpinannya adalah prinsip. Ia menolak pendekatan manipulatif, apalagi praktik fiktif. “Kalau ada yang main fiktif, saya pasti bilang nggak. Saya nggak akan jalanin. Saya nggak mau 2-3 tahun kemudian dipanggil karena kesalahan saat ini.”

Ia juga mengenal para pemain besar di industri—termasuk yang belakangan terseret kasus hukum. Tapi ia memilih jalannya sendiri. “Saya nggak kuat kalau disuruh manage duit dari hasil itu. Mending saya nggak ambil daripada nyusahin diri sendiri dan orang lain.”

Melatih Diri Menjadi Pemimpin yang Seimbang

Meski kini duduk di posisi tinggi, ia tak segan turun ke lapangan. Baginya, kekuatan utama seorang sales leader bukan hanya di ruang rapat atau panggung presentasi, tapi dalam kemampuan membangun koneksi tulus. “Kadang yang efektif itu bukan di forum formal, tapi di kopi sore, main golf, atau pakai kaos ngobrol santai.”

Ia pun tak ragu mengakui bahwa di SISI saat ini ia termasuk senior dari segi usia. “Yang lain masih gen Z. Saya terhitung paling tua. Tapi justru di situ tantangannya: Bagaimana jadi jembatan antargenerasi.”

Kini, ketika banyak orang mengejar posisi dan pencapaian, ia justru mencari ritme hidup yang lebih tenang—tanpa kehilangan visi. Dari proyek-proyek besar ke struktur yang lebih luwes, dari sales ke kepemimpinan budaya, dari ambisi ke integritas. Ia mungkin tak lagi memburu angka seperti dulu, tapi ia terus berjalan—dengan kepala tegak dan hati ringan.

“Yang penting bukan sekadar naik. Tapi bisa bertahan. Dan bisa tidur nyenyak.”

Pemahaman Tentang Batik

Di ruang-ruang rapat yang penuh presentasi dan tekanan target, penampilan bukan sekadar pelengkap, melainkan strategi awal. Dan bagi seorang pria sales senior kelahiran 18 Juni 1976 ini, batik bukan sekadar baju—melainkan bahasa yang menyampaikan pesan sebelum mulut bicara.

“Saya ini user (batik) saja ya, bukan kolektor, bukan pengamat. Tapi saya sadar banget, batik tuh nggak pernah salah kostum,” katanya dengan tawa santai.

“Sales itu butuh timing. Begitu orang bilang, ‘Eh, batiknya keren,’ saya langsung bisa masuk jualan,” ungkapnya. Baginya, batik bisa jadi pembuka percakapan di forum-forum formal.

Namun lebih dari sekadar visual, pria berzodiak Gemini ini menemukan nilai yang lebih dalam.

“Batik tulis itu, titik-titiknya harus konsisten. Sama seperti pekerjaan saya, Anda nggak bisa hari ini ngomong A, besok ngomong B. Bisa hilang kepercayaan orang terhadap Anda.”

Sales, Konsistensi, dan Batik

Di balik semua kecepatan dan tekanan, ia tetap setia pada satu hal: batik. Dalam dunia digital yang serba instan, ia membandingkan batik tulis dengan pekerjaannya.

“Kalau printing sih tinggal pencet, jadi kain. Tapi batik tulis? Anda harus bangun mood, harus punya rasa. Seperti pekerjaan saya. Kalau nggak pakai hati, pasti berantakan.”

Ia juga tahu bahwa penampilan adalah bagian dari komunikasi.

“Saya tahu diri. Punya kulit gelap, jadi harus cari warna yang hidup. Eye-catching. Karena sales itu, kalau nggak tampil oke, berarti bukan sales.”

Batik sebagai Refleksi Nilai

Di tengah semua transformasi itu, batik tetap jadi simbol yang ia pegang. Di kantor, Selasa adalah hari batik. Ia pernah menjuarai lomba fashion internal berkat batik warisan ayahnya, batik PGRI. “Orangtua saya kerja pakai batik ini. Karena batik inilah saya bisa berdiri di sini. Kalau nggak ada ini, saya nggak sekolah.”

Baginya, batik adalah warisan—bukan hanya kain, tapi nilai. Nilai tentang ketekunan, keaslian, dan identitas. Ia menolak gagasan bahwa batik harus tunduk pada pasar semata.

“Mau laku cepat? Bikin motif bola pakai cara printing. Tapi itu akan menghilangkan jati diri.”

Ia pun punya pesan untuk para perajin dan pelaku usaha batik.

“Batik itu produk tradisional. Tapi cara jualnya jangan tradisional. Anda harus ikutin zaman. Di Cina orang jualan cuma lewat TikTok. Nah, pengrajin batik juga harus berani ke sana.”

Namun ia menegaskan, keaslian tidak boleh dikorbankan. “Seperti bikin lagu. Pilihannya, mau yang gampang dijual atau yang legend?”

Batik, bagi ayah dari dua anak ini, bukan lagi sekadar busana. Tapi cermin perjalanan: dari penjualan ke pencerahan, dari strategi ke filosofi, dari kantor ke rumah, dari target ke warisan. Dan di antara semua titik dan garis batik itu, ia belajar tentang satu hal paling penting: kesabaran dalam proses.

Fotografer: Kuncoro Widyo Rumpoko

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

buku primbon jawa

Kelahiran Kamis Pon: Jiwa Angin yang Lembut, Tegar, dan Penuh Daya Rohani

Senior Manager Operation PT. Pelabuhan Tanjung Priok, Panji Bharata.

Panji Bharata: Bubur Ayam, Bulking, Dan Batik