Oleh: Komarudin Kudiya
Suasana Lesehan Batik Sewindu APPBI 2025 memasuki pembahasan masa depan batik Indonesia ketika narasumber berikutnya, Nurohmad—seniman batik Yogyakarta jebolan ISI—menghadirkan perspektif filosofis yang memperkaya malam keakraban itu. Dikenal melalui karya-karya bertema weton, beliau tidak hanya menjadi pembicara, tetapi juga pendamping dalam kurasi pameran Puspa Nuswantara bersama kurator Abdul Syukur. Partisi pameran yang mereka rancang membuat batik tampil sekelas pameran seni rupa, lengkap dengan tata cahaya LED dan panel kokoh yang memancarkan nuansa elegan.

Dengan gaya khas Yogyakarta yang tenang namun penuh humor, Nurohmad membahas empat konsep filosofis batik: Sesanti, Sandi, Sesaji, dan nilai kedamaian batin pembatik. Baginya, setiap titik, garis, dan ornamen adalah kode yang membawa pesan. Batik bukan sekadar kain; ia adalah ruang spiritual yang merawat kesabaran, intuisi, doa, dan penghormatan pada perjalanan batin sang pembatik. Penjelasan itu membuat suasana lesehan menjadi hangat, penuh tawa namun juga reflektif.
Puncak keakraban terjadi ketika Mas Heri Kismo dari Batik Hafiyan Cirebon naik ke panggung. Dengan gaya lugas dan jenaka, ia memanggil tiga peserta Gen Z lalu memberikan mereka uang tunai sebagai pemantik diskusi. Mas Heri menguji bagaimana generasi muda melihat harga dan keaslian batik di pasar digital seperti TikTok. Jawaban penuh percaya diri dari para Gen Z memancing gelak tawa, sekaligus membuka ruang diskusi tentang pentingnya adaptasi pelaku batik terhadap dunia digital.
Mas Heri kemudian menambahkan nilai baru: Sesangu—modal. Bukan hanya modal uang, tetapi modal gagasan, keberanian, jaringan, dan kejujuran. Semua modal itu, ujarnya, harus kembali digunakan untuk memberi manfaat bagi banyak orang, sama seperti gelaran Lesehan Batik malam itu.
Sebagai penutup, Ketua Umum APPBI menambahkan satu konsep penting: Selawase—selamanya. Bahwa segala bentuk kegiatan APPBI, termasuk Lesehan Batik, harus berkelanjutan dan menjadi gerakan bersama untuk kejayaan batik Indonesia. Nilai-nilai yang lahir malam itu akhirnya lengkap:
Sesanti – Sesandi – Sesaji – Sesangu – Selawase.
Bagian kedua malam Lesehan Batik Puspa Nuswantara 2025 ini menjadi bukti bahwa APPBI tidak hanya menjadi wadah perajin dan pengusaha, tetapi juga penggerak budaya. Melalui pameran, dialog, humor, filosofi, dan interaksi lintas generasi, APPBI menunjukkan bahwa batik adalah ruang hidup yang terus tumbuh, mengakar, dan menyatukan banyak hati. Yogyakarta kembali mencatat sejarah sebagai saksi lahirnya tradisi baru—tradisi yang meneguhkan batik sebagai warisan leluhur yang harus terus dijaga, dipahami, dan dirayakan selamanya.

