https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Lesehan Batik: Malam Keakraban Puspa Nuswantara Sewindu APPBI 2025

Lesehan Batik Sewindu APPBI 2025 menghadirkan kisah nilai batik, dan refleksi mendalam tentang masa depan pembatik.
Oleh: Komarudin Kudiya

Setelah rangkaian perayaan Sewindu APPBI 2025 berjalan meriah sepanjang hari, malam hari menawarkan suasana berbeda yang tak kalah hangat. Di luar perkiraan, undangan yang hadir membludak. Tokoh-tokoh batik dari Jakarta, Bandung, Cirebon, Pekalongan, Jawa Timur, hingga tamu terjauh dari KCBI Singapura berkumpul dalam satu momentum yang sarat rasa kekeluargaan.

Namun kejutan terbesar datang dari format acara malam itu: Lesehan Batik—konsep baru yang mengajak peserta duduk bersila, mendekatkan diri, dan berbincang setara, seakan kembali pada akar budaya Nusantara yang sederhana namun penuh makna.

Acara dibuka tepat pukul 19.00 oleh Abdul Syukur, pengurus APPBI sekaligus kurator Pameran Puspa Nuswantara 2025. Dengan nada bersahabat, ia mengajak seluruh tamu untuk menikmati malam keakraban ini sebagai ruang berbagi gagasan. Ketua APPBI kemudian membuka acara dengan sambutan yang menegaskan harapan besar: Lesehan Batik akan menjadi format yang direplikasi di berbagai kota sebagai wadah baru bagi perajin, seniman, akademisi, pengusaha, dan pecinta batik untuk bertemu dan bertukar pikiran.

Lesehan Batik Sewindu APPBI 2025 menghadirkan kisah nilai batik, dan refleksi mendalam tentang masa depan pembatik.
Lesehan Batik Sewindu APPBI 2025 menghadirkan kisah nilai batik, dan refleksi mendalam tentang masa depan pembatik.

Batik Tak Pernah Habis—Tetapi Pembatik Berkurang

Narasumber kedua malam itu adalah Romi Oktabirawa, pemilik Batik Wirokuta Pekalongan sekaligus Pimpinan Bank Kospin Jasa Syariah. Dengan gaya lugas, ia menyampaikan pandangan yang menohok namun penting:

“Usaha batik tidak akan pernah habis. Tapi jumlah pembatik halus yang tekun—itu yang semakin berkurang.”

Romi mengajak para peserta menengok ke masa sebelum kemerdekaan. Kala itu, para pembatik menerima upah dalam bentuk gulden, yang nilainya setara untuk kebutuhan hidup satu minggu. Upah tersebut, jika dikonversi ke kondisi hari ini, bisa mendekati Rp150.000 per hari—angka yang pada masanya sangat sejahtera. Karena itulah batik-batik era kolonial begitu indah: pembatiknya bekerja dalam ketenangan, bukan dalam tekanan ekonomi.

Pertanyaan besar pun mengemuka: Bagaimana dengan kondisi pembatik saat ini?

Batik Produk “Priceless” yang Nilainya Tak Berbatas

Romi menekankan bahwa batik adalah produk yang priceless dan segmented—tidak memiliki batas harga dan sangat bergantung pada nilai artistik, teknik, dan waktu pengerjaannya.

Ia menuturkan sebuah cerita khas Pekalongan: harga batik yang dijual pembatik ke pedagang dapat berubah hanya karena waktu penjualan. Jika mereka menjualnya pada Kamis sore, harga biasanya turun. Alasannya sederhana: mereka harus membayar para pekerja pada akhir pekan. Situasi ini menggambarkan realitas ekonomi pembatik yang sering terdesak, meski menghasilkan karya bernilai tinggi.

Di sisi lain, batik-batik lama seperti karya legendaris Oey Soe Tjoen kini mencapai harga lebih dari Rp50 juta, bahkan terus meningkat. Kelangkaan produksi membuatnya diburu kolektor. Fenomena ini menegaskan bahwa batik bukan sekadar produk budaya, tetapi juga aset investasi.

Romi juga mencatat bahwa beberapa seniman batik kontemporer saat ini mampu menjual karya hingga lebih dari Rp100 juta per lembar. Namun untuk mencapai angka tersebut, prosesnya sangat panjang: berbulan-bulan pengerjaan, teknik yang sangat halus, pewarna alami, hingga pembatik yang dipilih secara khusus.

Lesehan Batik: Ruang Pertemuan Baru, Harapan Baru

Malam keakraban APPBI 2025 bukan sekadar acara informal. Ia menjadi ruang renungan bersama tentang masa depan batik dan pembatik. Konsep lesehan membuat seluruh peserta merasa dekat, setara, dan bebas berbagi pandangan.

Appresiasi mengalir untuk komunitas seni Yogyakarta yang digawangi seniman batik weton, Mas Nurohmad, yang turut memperkaya dinamika diskusi. Para tamu tidak hanya hadir sebagai undangan, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar batik Nusantara.

Di sinilah nilai acara semakin terasa: bukan hanya merayakan usia Sewindu APPBI, tetapi juga merumuskan langkah ke depan—bahwa menjaga batik berarti menjaga pembatik, menjaga pasar, dan menjaga keberlanjutan nilai.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Motif batik “Pencerahan Sidharta Gautama” Afif Syakur menghadirkan simbol mudra dan motif candi sebagai renungan spiritual menuju pencerahan.

Motif Batik Pencerahan Sidharta Gautama – Afif Syakur

Lesehan Batik APPBI menghadirkan diskusi hangat penuh filosofi, humor, dan visi masa depan batik Indonesia dalam suasana akrab di Yogyakarta. Romi Oktabirawa mengangkat isu ekonomi batik.

Masa Depan Batik Indonesia