Di jantung Jakarta yang tak pernah tidur, Luminor Hotel Pecenongan berdiri sebagai akomodasi andalan pusat kota. Di balik operasionalnya yang padat, ada satu sosok yang menenun harmoni antara profesionalisme modern dan budaya: General Manager Ireng Maulana, peraih Certified Hotel Administrator (CHA). Ia bertutur tentang career story-nya.

Awal Karir, Krisis Moneter, dan Timur Tengah
Karier Ireng dimulai pada 1993, ketika ia bergabung dengan salah satu hotel bintang lima di Jakarta. Namun krisis moneter 1998 mengubah arah hidupnya. Ia memilih hijrah ke Arab Saudi dan bekerja di Hotel Al-Faisaliah, hotel mewah milik Raja Faisal yang menjulang 74 lantai ke langit Riyadh. Di sana, ia dipercaya menjadi kapten di departemen Food and Beverage. Dunia perhotelan internasional memberinya pelajaran tentang ketepatan, standar global, dan nilai dari kerja keras tanpa kompromi.
Namun tanah air memanggil. Tahun 2000, Ireng kembali ke Indonesia dan mulai menjelajahi hotel-hotel di berbagai kota: dari Bahari Inn Tegal, Executive Club Cengkareng, hingga Pullman Jakarta (dulu dikenal dengan nama lain). Setiap perpindahan bukan sekadar langkah karier, melainkan perjalanan memperkaya cara pandangnya terhadap manajemen, pelayanan, dan manusia.
Ia pernah memimpin Grand Zuri Jababeka, lalu pindah ke Jayapura dan tinggal selama empat tahun. Di Papua, ia tak hanya menjalankan hotel; ia membina anak-anak muda putus sekolah menjadi barista dan staf hotel. “Saya hanya rekrut mereka yang punya semangat belajar,” katanya. Ia berusaha melakukan pendekatan inklusif yang menjadikan industri perhotelan sebagai alat pemberdayaan, bukan sekadar bisnis.

Filosofi, Identitas Batik
Lahir dan besar di belakang Pasar Beringharjo—pusat penjualan batik di Yogyakarta—Ireng mengaku, batik bukan sekadar pakaian baginya. Batik adalah identitas, ketekunan, dan filosofi hidup. “Setiap motif batik punya makna. Dalam bekerja pun, setiap keputusan harus dijalani dengan sabar dan penuh perhitungan, seperti membatik,” tuturnya.
Ketika ia bekerja di Timur Tengah, kebiasaan mengenakan batik setiap Sabtu menjadi perhatian koleganya dari Austria. “Batik itu seperti jati diri saya,” jawab Ireng saat ditanya. Ia bahkan mengoleksi batik dari berbagai daerah: Kalimantan, Bali, Malino, hingga Tegal dan Brebes.
Di setiap tempat tugasnya, ia menyisipkan ruang bagi batik: baik secara fisik—seperti galeri kecil di lobi hotel—maupun secara filosofis dalam cara ia memimpin. “Saya bukan atasan, mereka bukan bawahan. Kami adalah mitra. Seperti motif batik, saling melengkapi.”
Luminor Pecenongan: Hotel Sebagai Rumah Budaya
Sebagai General Manager Luminor Hotel Pecenongan di bawah naungan Waringin Hospitality, Ireng membawa semua nilai itu ke dalam manajemen. Bukan hanya mengejar target room revenue (yang kini mencapai 60% dari total pendapatan), ia juga menggagas inovasi budaya dan sosial dalam strategi bisnis hotel.
Tahun 2024, hotel ini mencatat pendapatan dengan angka yang membanggakan, apalagi mengingat keterbatasan ruang acara di tengah persaingan sengit. Namun di balik angka itu, ada semangat pelayanan yang berbeda. “Produk sehebat apapun, tidak ada artinya tanpa pelayanan dari hati,” ujarnya tegas.
Tak heran, tingkat service fee per staf di atas rata-rata—benchmark yang jarang ditemui di hotel setara. Tapi Ireng tahu, angka bukan segalanya. “Tamu sekarang sangat detail. Warna nasi, kematangan telur, atau rasa minuman bisa jadi masalah. Saya ajarkan tim untuk jujur dan tulus, karena pelayanan tidak bisa dibuat-buat.”
Dan sebagai bentuk nyata dari kolaborasi budaya, Ireng menggagas program unik: paket kamar khusus Hari Kemerdekaan yang dilengkapi satu set meja batik buatan UMKM. Ia bahkan menambahkan diskon pribadi dari pihak hotel untuk mendukung penjualan batik. “Saya ingin batik itu hidup, tidak hanya jadi pajangan.”

Menganyam Budaya dan Bisnis
Di tengah hiruk-pikuk industri hospitality yang penuh tekanan, Ireng adalah bukti bahwa pendekatan humanistik, inklusif, dan berbasis budaya bisa berjalan berdampingan dengan target komersial. Ia tak sekadar bicara soal Average Daily Rate, tapi juga tentang bagaimana hotel bisa menjadi rumah kedua—bagi tamu, staf, dan juga budaya bangsa.
Dalam pengalamannya di Swiss-Belhotel Tarakan, ia berhasil menjaga operasional tetap hidup saat pandemi melanda, berkat kontrak long-stay dengan vendor Pertamina. Tak ada pemutusan hubungan kerja, tak ada pengurangan jam kerja. Justru, ia memperkuat sistem pelayanan kamar dan menjaga moral staf di tengah ketidakpastian global. Lagi-lagi, pendekatan kekeluargaan menjadi pondasinya.
Pemimpin adalah Motif Utama dalam Kain Besar
Filosofi Ireng Maulana sederhana: “Batik itu kesabaran. Batik itu proses. Batik itu keindahan dalam keteraturan.” Begitu juga dengan manajemennya—mengalir, penuh warna, namun tak kehilangan arah. Seperti membatik, ia berusaha memimpin dengan tangan dan hati.
Ireng berusaha membawa batik—bukan hanya di tubuh, tapi di jiwa. Dan dari situ, ia menyulam sebuah kisah bagaimana hotel, batik, dan etos kerja bisa berpadu menjadi satu narasi besar tentang pelayanan, warisan, dan harapan.
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

