Inovasi batik terus membuka ruang eksplorasi terhadap bahan, teknik, desain dan fungsi. Salah satu inovasi yang diperkenalkan melalui buku ajar Teknik Batik Gutta Tamarind: Membatik itu Mudah dan Menyenangkan adalah penggunaan material bubur biji asam atau Gutta Tamarind sebagai substitusi lilin malam dalam proses pembatikan.
Buku yang diterbitkan Pelita Ilmu pada 2020 tersebut merupakan salah satu luaran penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi. Materinya dirancang tidak hanya untuk pembelajaran di lingkungan perguruan tinggi, tetapi juga sebagai panduan bagi masyarakat umum dalam mempelajari teknik membatik Gutta Tamarind.

Dalam materi tersebut, Gutta Tamarind diperkenalkan sebagai pendekatan terhadap teknik rintang warna dengan menggunakan material baru berupa tepung atau bubur berbahan biji asam Jawa atau tamarin. Teknik ini menggunakan konsep lilin dingin, berbeda dari penggunaan lilin panas atau hot wax yang selama ini dikenal dalam proses membatik.
Penggunaan material tersebut ditempatkan sebagai bagian dari perkembangan batik modern. Materi buku menjelaskan bahwa batik memiliki peluang kreasi dan inovasi yang luas, mulai dari bahan baku kain, desain benang, struktur anyaman, paduan serat, digitalisasi motif, hingga pengolahan lilin panas dan lilin dingin.
Para penulis juga menyebut metode Gutta Tamarind relatif mudah dipelajari dan ramah lingkungan. Teknik tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif yang membuka peluang usaha maupun pengembangan usaha. Selain itu, prosesnya tidak memerlukan ruang kerja yang luas sehingga dinilai dapat digunakan sebagai bagian dari pengembangan kriya dan industri kreatif.
Dalam konteks pembelajaran, penggunaan Gutta Tamarind diarahkan untuk menghasilkan karya batik kreasi dengan media tersebut sebagai substitusi lilin malam. Mahasiswa juga diarahkan untuk menguasai kaidah, prinsip dan teknik penciptaan karya seni rupa.
Materi buku juga menjelaskan proses awal pembuatan material Gutta Tamarind. Diagram bahan memperlihatkan kombinasi margarin, bubuk tamarin dan air panas yang menghasilkan bubur biji tamarind. Bubur tersebut kemudian dimasukkan ke dalam plastik segitiga dan dapat digunakan setelah bagian ujung plastik digunting.
Inovasi batik melalui Gutta Tamarind tidak hanya ditempatkan sebagai perubahan material, tetapi juga sebagai bagian dari upaya memperluas kreativitas. Dalam materi pengantar, inovasi batik dikaitkan dengan eksplorasi keunggulan dan keunikan material serta gagasan desain untuk menghasilkan batik dengan originalitas dan nilai fungsi baru.


