in

Generasi Titisan Saudagar Batik – Santoso Doellah

Salah-satu modal usaha yang sangat berarti baginya adalah ketika kakek neneknya memberikan 29 pak kain mori jadi dan 174 lembar kain batik sebagai hadiah pernikahannya.

Santoso 2Batik dan dirinya sudah menjadi ikon produk. Mewarisi keahlian tersebut semenjak berusia 15 tahun dari kakeknya R.H. Wongsodinomo. Institut Seni Indonesia Surakarta, bahkan menganugerahinya dianugerahi sebagai empu seni batik Indonesia.

Ia mengaku tak pernah membuat batiknya sendiri, meski teknik dan filosofi batik dipelajarinya dari kakeknya Wongsodinomo. Namun ia belajar bisnis batik eyangnya serta melanjutkannya kala kakek dan neneknya lanjut usia. Lahan pertama bisnisnya adalah di Notodiningratan, Solo, Jawa Tengah.

Santoso Doellah yang lahir 7 Desember 1941 itu, memulai usahanya sendiri sejak 1967. Kemudian pada 1968, batik dengan pengerjaan proses Wonogiren tengah digemari pasar, dan itu mendongkrak produksi batik Santoso Doellah. Batik tersebut uniknya tidak tengah digemari oleh masyarakat lokal Solo dan Jawa Tengah, tetapi justru di daerah Jawa Barat, Sumatera, bahkan Kalimantan.

Untuk menjadikan usahanya punya citra, saat itu ia belum memiliki merek atau cap untuk tetenger produknya. Dan semangat membuat brand-nya sendiri itu pun makin bergelora. Kala itu ia telah menikahi Danarsih yang pula berasal dari keluarga pembatik. Dan nama istrinya tersebut diambil nama depannya: Danar. Sedangkan bagian belakangnya diambil dari nama depan mertuanya, Hadipriyono. Maka nama brand-nya tersebut bernama: Danar Hadi.

Salah-satu modal usaha yang sangat berarti baginya adalah ketika kakek neneknya memberikan 29 pak kain mori jadi dan 174 lembar kain batik sebagai hadiah pernikahannya. Produksi batik tulis Wonogiren merupakan produksi perdana Santosa Doellah dengan brand-nya Danar Hadi sejak saat itu.

Anak kelima dari 10 bersaudara buah pernikahan Dr. Doellah dan Hj. Fatima Wongsodinomo tersebut melanjutkan kesuksesan penjualan batik tulis Wonogiren-nya dengan mengembangkan industri batiknya sekaligus meningkatkan kemampuan produksi batiknya dengan membuka perkampungan batik semirip sentra industri kerajinan batik di sekitaran rumahnya. Tahun 1970, ia pula mendirikan sentra usaha batik di beberapa wilayah seperti Masaran dan Sragen, Jawa Tengah.

Pusat pembatikan ia buka dari Bayat, Klaten, Plupuh, Sragen, dan Sukoharjo Jawa Tengah hingga Pekalongan dan Cirebon. Ini ditujukan untuk memenuhi tuntutan pasar yang makin meluas dan membutuhkan variasi produk yang beragam.

Guna menghasilkan produk batik yang memenuhi selera pasar, Danar Hadi sering bekerjasama dengan para perancang busana tanah air.

Tahun 1975, ia berekspansi ke luar kota Solo dengan mendirikan rumah batik Danar Hadi di Jalan Raden Saleh Jakarta. Kemudian dilanjutkan ekspansinya membuka rumah batik Danar Hadi tersebut sepanjang 1976 – 1979 di wilayah Bandung, Surabaya, Semarang, Medan, dan Yogyakarta.

Sebelum batik meluas popularitasnya saat tahun 2000-an, sebelumnya trend batik sudah diusung oleh brand-nya dengan mempopularkan batik sebagai busana pria dalam bentuk kemeja, serta berbagai bentuk desain pakaian wanita mulai dari atasan, rok, gaun, baju pesta (coctail) dan lain sebagainya.

Cara mempopulerkannya adalah dengan menggelar sejumlah kegiatan peragaan busana (fashion show) batik di sejumlah hotel di Indonesia dan Singapura. Kemudian ketika batik merambah dunia mode, Santoso Doellah membangun bisnis ritel kain dan pakaian jadi batik. Dan ia pun membangun industri hulu pertenunan, pemintalan benang, serta garmen. Untuk perusahaan tenun dan finishing, ia mendirikan PT. Kusumahadi Santosa (1981), untuk perusahaan pemintalan benang katun (spinning), ia mendirikan PT. Kusuma Putra Santosa. Di tahun 1991, ia mendirikan usaha garmen PT. Kusuma Putri Santosa dan usaha furnitur Jawi Antik.

Trade mark batik tulis kemudian berkembang menjadi batik cap dan batik printing untuk memenuhi kebutuhan batik di segala lapisan masyarakat. Guna menghasilkan produk batik yang memenuhi selera pasar, Danar Hadi sering bekerjasama dengan para perancang busana tanah air. Batik yang semula sebatas kain, berubah menjadi busana casual, ready to wear, coctail party, dan material desain interior.

Museum Batik

MURI mencatat museum tersebut sebagai museum pengkoleksi batik terbanyak.

Museum BatikTahun 1999, bangunan eks KRMTAWuryaningrat, menantu Sri Susuhunan Pakubuwono X, dibeli oleh PT. Danar Hadi. Di dalam areal tersebut kemudian bangunan utamanya direnovasi dan dibuatkan Museum Batik Kuno Danar Hadi. Museum tersebut dibuka oleh mantan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2002 silam. Menyimpan 10 ribu helai kain batik yang dikoleksi Santoso Doellah dan istri, museum tersebut kini menjadi obyek wisata utama di kompleks Ndalem Wuryaningratan.

MURI mencatat museum tersebut sebagai museum pengkoleksi batik terbanyak. Menyambangi museum tersebut, pengunjung dijuruskan pada periode-periode terpenting batik serta perkembangan batik sebagai produk budaya. Dari koleksi batik Belanda yang dipengaruhi budaya Eropa, motif-motif batik langka keraton, batik Cina, batik Hokokai, batik Indonesia, hingga sejumlah batik sudagaran atau saudagaran di masa-masa awal Danar Hadi. Semua koleksi tersebut adalah milik Santoso Doellah.

Sejumlah penghargaan lainnya berdatangan terhadap museum tersebut seperti Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) tahun 1999, Pemerintah Kota Surakarta (2000) atas kepedulian terhadap upaya pelestarian ndalemWuryaningrat, serta penghargaan Tripadvisor.

Sumber: Majalah BATIK On Fashion

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

Bidadari JK Owner

koleksi batik esti

Batik Esti Collection