in

Batik Warlami Muara Enim Dorong Pemanfaatan Potensi Lokal dan Ekonomi Sirkular

Batik Warlami Muara Enim dikembangkan dengan memanfaatkan kulit kopi dan daun duku untuk mendukung batik ramah lingkungan dan ekonomi lokal.
Batik Warlami Muara Enim dikembangkan dengan memanfaatkan kulit kopi dan daun duku untuk mendukung batik ramah lingkungan dan ekonomi lokal.

Penggunaan Batik Warlami atau batik dengan pewarna alami menjadi salah satu arah pengembangan kerajinan batik di Kabupaten Muara Enim. Pemanfaatan bahan yang tersedia di daerah, seperti kulit kopi dan pucuk daun duku, dinilai dapat memperkuat keterkaitan antara potensi alam, industri batik, dan ekonomi masyarakat.

Kajian mengenai pemanfaatan bahan tersebut dilakukan Royda dan Anggraini Wulan Pratiwi dari Balitbangda Muara Enim melalui penelitian berjudul Pemanfaatan Pewarna Alami Berbasis Potensi Daerah untuk Pewarnaan Batik Muara Enim. Artikel tersebut diterbitkan dalam Jurnal Integritas Serasan Sekundang Volume 5 Nomor 1 Tahun 2023.

Dalam penelitian tersebut, pewarna alami didefinisikan sebagai zat pewarna yang diperoleh dari tumbuhan, hewan, atau sumber mineral. Bahan tersebut dapat diekstraksi sehingga menghasilkan pigmen warna tertentu dan tersedia dalam bentuk cairan, bubuk, gel, maupun pasta.

Muara Enim memiliki sejumlah sumber bahan yang dapat dikembangkan. Kulit buah kopi robusta berasal dari Kecamatan Semende, sedangkan pucuk daun duku berasal dari Kecamatan Ujan Mas. Keduanya disebut sebagai bagian dari potensi lokal yang dapat digunakan untuk memperoleh zat pewarna alami bagi kain batik.

Pemanfaatan bahan tersebut juga berkaitan dengan karakteristik pewarna alami yang berasal dari berbagai bagian tumbuhan. Pigmen dapat diperoleh dari akar, batang, kulit, daun, bunga, maupun buah. Proses pengambilannya dapat dilakukan melalui ekstraksi atau fermentasi, tergantung karakter bahan dan zat warna yang hendak diperoleh.

Dalam proses ekstraksi, bahan pembawa warna umumnya direbus menggunakan air. Perebusan dilakukan hingga volume air berkurang untuk mendapatkan larutan zat warna yang lebih pekat. Setelah itu, pewarna dapat diaplikasikan pada kain melalui pencelupan, colet, atau kuas. Setelah proses pewarnaan selesai, malam pada kain dihilangkan melalui perebusan.

Penelitian juga mengidentifikasi sejumlah keunggulan pewarna alami. Warna yang dihasilkan cenderung memiliki karakter lembut, harmonis, dan sebagian dapat menghasilkan nuansa pastel. Penggunaan bahan alami juga dikaitkan dengan pemanfaatan sumber daya terbarukan serta pelestarian keanekaragaman hayati.

Pengembangan Batik Warlami tersebut berjalan bersamaan dengan penguatan identitas batik Muara Enim. Penelitian mencatat Batik Kujur, Batik Serasan, dan Batik Kopi sebagai produk yang mengangkat kearifan lokal Bumi Serasan Sekundang. Batik Kujur, misalnya, menggunakan inspirasi dari sejarah, budaya, dan kekayaan alam Muara Enim.

Pada bagian kesimpulan, penelitian menyebut meningkatnya kesadaran lingkungan, tuntutan pasar, kesehatan, dan ketersediaan bahan baku menjadi faktor yang mendorong perubahan penggunaan pewarna sintetis menuju pewarna alami. Pengembangan batik ramah lingkungan juga dikaitkan dengan konsep ekonomi sirkular melalui pengelolaan limbah, pengurangan penggunaan sumber daya alam, penciptaan lapangan kerja, dan dukungan terhadap pengurangan kemiskinan.

Dengan demikian, pengembangan Batik Warlami di Muara Enim tidak hanya menyangkut perubahan bahan pewarna. Model tersebut membuka ruang bagi pemanfaatan potensi daerah dalam pengembangan produk budaya dan ekonomi kreatif berbasis sumber daya lokal.

Sumber informasi: Royda dan Anggraini Wulan Pratiwi, “Pemanfaatan Pewarna Alami Berbasis Potensi Daerah untuk Pewarnaan Batik Muara Enim,” Jurnal Integritas Serasan Sekundang, Vol. 5 No. 1, 2023, hlm. 46–58. (Jurnal Integritas Serasan Sekundang)

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Meta deskripsi: Sejumlah motif batik klasik pernah mendapat aturan khusus di lingkungan keraton, termasuk Jilamprang dan Parang Rusak.

Motif Batik Klasik Pernah Diatur Keraton, Parang Rusak Salah Satunya