Memasuki akhir abad ke-19, nama Banyumas mulai dikenal luas di kalangan pedagang batik Jawa Barat. Bukan karena jumlah produksinya, melainkan karena kualitas keterampilan para pembatik perempuannya.
Menurut laporan kolonial yang dikaji dalam penelitian tersebut, para pedagang dari Ciamis kerap datang ke Banyumas untuk membeli batik berkualitas tinggi. Mereka bahkan memberikan uang muka kepada pembatik lokal agar membuat motif tertentu sesuai pesanan pasar Priangan.
Tidak hanya membeli kain, para pedagang juga berusaha merekrut pembatik Banyumas untuk bekerja di wilayah Tasikmalaya dan Ciamis. Keahlian perempuan Banyumas dianggap mampu meningkatkan kualitas produksi batik di Priangan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa keterampilan membatik telah menjadi modal sosial penting bagi masyarakat Banyumas. Pada saat daerah lain mulai membangun industri batik, Banyumas telah memiliki sumber daya manusia yang sangat dihargai.
Namun di balik pengakuan tersebut, para pembatik masih bekerja dalam skala rumah tangga dengan keuntungan yang relatif kecil. Sebagian besar hasil karya mereka tetap dipasarkan melalui jaringan pedagang yang memiliki modal lebih besar.
Meski demikian, hubungan dagang dengan Priangan menjadi salah satu pintu masuk yang memperkenalkan Batik Banyumas kepada pasar yang lebih luas.
Sumber: Farid Abdullah, Adlien Fadlia, dan Menul Teguh Riyanti, “Dinamika Batik Banyumas 1890-1930”, Jurnal Dinamika Kerajinan dan Batik Vol.39 No.2 Tahun 2022.

