https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

April Widya: Ingin Kebaya Kembang Naik Kelas

Di tengah arus deras tren global, April Widya hadir membawa angin segar dalam dunia mode Indonesia di ranah kebaya kembang yang khas.

Pada pernikahan Al Ghazali, ibunda kandungnya, Maia Estianty dikomentari netizen karena mengenakan kebaya kembang yang mirip dengan seorang nenek dengan kebaya serupa. Kemiripan tersebut menimbulkan pro dan kontra.

Menurut April Widya, kebaya motif kembang dulunya memang dikenakan oleh kaum bawah. Dan itu menjadi perjuangannya untuk menampilkan kebaya kembang naik kelas.

Menjawab Tantangan Zaman

Di tengah arus deras tren global, April Widya hadir membawa angin segar dalam dunia mode Indonesia. Perempuan kelahiran Indramayu, 23 April 1979 ini adalah sosok di balik brand usaha Kebaya Kembang, sebuah label busana yang mengusung kebaya lawasan dengan sentuhan modern. Baginya, kebaya bukan sekadar pakaian, melainkan pernyataan identitas, cinta tanah air, dan alat edukasi budaya yang hidup.

“Saya ingin kebaya tidak hanya dipakai saat kondangan atau acara resmi, tapi juga bisa dipakai harian, ke kampus, bahkan jalan-jalan ke Bali,” ujar April.

Ide ini muncul dari kebiasaannya mengenakan kebaya ke berbagai acara, dari bazar hingga jalan-jalan, lengkap dengan celana jeans atau bahkan hot pants. “Tetap ingin tampil sebagai perempuan Indonesia,” tegasnya.

Usaha Pengganti

April merintis Kebaya Kembang sejak akhir 2023, setelah sebelumnya sempat menutup usaha mode sebelumnya karena pandemi. Ia menggandeng para penjahit, komunitas UMKM, dan perajin kain untuk mewujudkan koleksi kebaya yang memadukan estetika klasik dan gaya kekinian. Karakter khasnya: motif kembang, bahan sifon ringan, lengan balon, dan cutting fleksibel yang bisa dikenakan sebagai kebaya atau outer.

“Motif kembang itu dulunya dianggap milik perempuan kasta bawah. Saya ingin mengangkatnya naik kelas,” jelasnya. April percaya bahwa kembang melambangkan kecantikan, kehidupan, dan semangat perempuan. Ia juga ingin generasi muda mencintai warisan ini dengan rasa bangga.

Demi menjangkau pasar muda, April aktif mengedukasi lewat komunitas, kampus, dan media sosial. Ia juga merancang kebaya dengan padu padan kain batik Lasem, Pekalongan, hingga Solo dan Jogja, disesuaikan dengan momen formal maupun kasual.

Usahanya tak berhenti pada aspek mode. Keuntungan dari Kebaya Kembang sebagian besar ia salurkan untuk kegiatan sosial: dari mendukung anak-anak panti, pendidikan anak terlantar, hingga gereja dan komunitas lintas agama. “Saya ingin karya ini menjadi ladang berkat. Saya tidak hitung-hitungan untung rugi, karena saya percaya rezeki sudah ada yang atur,” katanya tulus.

Puncaknya, pada 2025, Kebaya Kembang berhasil lolos kurasi Dinas Ekraf dan tampil di Indonesia Fashion Week. Momen ini jadi tonggak pengakuan atas desain uniknya yang dianggap “etnik, lucu, dan Indonesia banget”.

Meski menghadapi tantangan seperti tukang jahit yang tak konsisten, April tak menyerah. Visi besarnya adalah menjadikan kebaya sebagai gaya hidup sehari-hari sekaligus identitas budaya Indonesia yang membanggakan.

“Saya ingin anak-anak muda merasa bangga memakai kebaya. Bukan hanya karena cantik, tapi karena mereka sedang memakai sejarah dan warisan leluhur,” pungkasnya.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

buku primbon jawa

Kelahiran Selasa Pon: Api Kehidupan yang Membakar Semangat dan Ujian

Gen Z berpikir tentang pensiun? Sah-sah saja

Apakah Gen Z Perlu Memikirkan Masa Pensiunnya? Ini Jawaban dan Alasannya