Masyarakat Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memiliki beragam tradisi lokal yang berkaitan dengan kehidupan keagamaan, pertanian, kuliner, serta siklus kehidupan masyarakat. Tradisi tersebut diwujudkan melalui doa bersama, kirab budaya, selamatan, hingga pertunjukan seni rakyat yang diwariskan lintas generasi.
Berbagai tradisi itu didokumentasikan Moh Rosyid dalam tulisan berjudul Memetakan Akar Budaya Khas Kota Kudus Jawa Tengah pada buku Tradisi dan Kebudayaan Nusantara. Dokumentasi tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat setempat mempertahankan warisan budaya melalui praktik yang berhubungan dengan sejarah, keyakinan, dan sumber penghidupan warga.
Menurut tulisan tersebut, tradisi lisan menjadi salah satu akar penting kebudayaan masyarakat Nusantara. Tradisi lisan tidak hanya mencakup dongeng, mite, dan legenda, tetapi juga pengetahuan mengenai kebiasaan, kesenian, tata cara bermasyarakat, hingga mata pencaharian yang diwariskan antargenerasi.
Tradisi Tebokan, Ungkapan Syukur Pengusaha Jenang
Salah satu tradisi yang berkaitan erat dengan kuliner khas Kudus adalah Tebokan. Tradisi ini diselenggarakan setiap 10 Muharam oleh para pengusaha jenang di Kelurahan Kaliputu, Kecamatan Kota, untuk menyambut tahun baru Hijriah.
Prosesi Tebokan dimulai dari Gang I Desa Kaliputu dan berakhir di balai desa. Rangkaian kegiatan diisi dengan doa bersama, kemudian jenang dibagikan kepada warga.
Nama Tebokan berkaitan dengan penggunaan tebok atau tampah, yakni wadah dari anyaman bambu. Dalam prosesi tersebut, wadah dibawa di atas kepala oleh peserta kirab. Barisan pengirab terdiri atas anak laki-laki yang mengenakan sarung, kemeja koko, dan peci, serta anak perempuan dengan jilbab dan busana muslimah.
Berbagai jenis jenang atau jadah, termasuk jenang kacang hijau, binthil, dan delima, disajikan bersama jajanan pasar serta ayam ingkung. Rosyid menjelaskan bahwa ritual ini menjadi ungkapan syukur para pengusaha jenang atas karunia Tuhan sekaligus harapan agar usaha mereka terus memperoleh keberkahan.
Tradisi kirab tersebut pertama kali dilaksanakan pada 2006. Penggunaan tebok juga menyimpan makna yang berkaitan dengan kegiatan produksi dan pengemasan jenang, meskipun produk jenang kini telah menggunakan kemasan kardus.
Temanten Tebu Menyambut Musim Giling
Tradisi lain yang berkaitan dengan sumber penghidupan masyarakat Kudus adalah Temanten Tebu atau nggantingi. Ritual ini diselenggarakan untuk menyambut musim giling tebu di Pabrik Gula Rendeng, yang dalam tulisan Rosyid disebut sebagai bagian dari PTP Nusantara IX.
Menurut dokumentasi tersebut, tradisi Temanten Tebu telah berlangsung sejak 1930. Tujuannya adalah memohon keselamatan bagi tenaga tebang tebu, petani, dan karyawan pabrik gula.
Rangkaian ritual mencakup selamatan dengan hidangan ayam ingkung dan jajanan pasar. Kegiatan yang disebut rasulan juga diselenggarakan pada sejumlah subunit kerja, seperti bagian ketel dan bagian giling.
Ritual ini menampilkan pasangan boneka yang disebut Sirwendo sebagai tokoh perempuan dan Danurwendo sebagai tokoh laki-laki, atau Srimeganti. Prosesi dilaksanakan melalui arak-arakan menuju pintu tempat penggilingan. Pasangan Temanten Tebu dihias dengan janur kuning, sementara kegiatan diiringi atraksi barongan dan penghiasan peralatan giling.
Tulisan tersebut juga mencatat rangkaian ziarah ke makam Sunan Kudus dan Sunan Muria, serta sejumlah lokasi lain yang berkaitan dengan tradisi ritual tersebut.
Kirab Ketupat dan Tradisi Keagamaan
Tradisi masyarakat Kudus juga tampak dalam perayaan Idulfitri. Di Desa Colo, Kecamatan Dawe, masyarakat mengadakan parade seribu ketupat yang berkembang sejak 2007. Kegiatan ini berawal dari kebiasaan mengumpulkan ketupat dan lepet, makanan yang dibuat untuk Hari Raya Idulfitri.
Ketupat dan lepet dibentuk menjadi gunungan, kemudian dibawa dari balai desa menuju makam Sunan Muria di Gunung Muria. Setelah doa bersama, makanan dibagikan kepada masyarakat sekitar. Prosesi diiringi tabuhan rebana dan jidur serta diikuti warga dari sejumlah desa dan dukuh.
Selain itu, masyarakat Desa Padurenan, Kecamatan Gebog, memiliki tradisi Mauludan Jawiyan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini berupa pelantunan sejarah Nabi melalui syair dalam Kitab Al-Barzanji. Kegiatan berlangsung setiap Ahad malam dengan peserta terbatas dan pada 12 Rabiul Awal dalam acara yang lebih besar.
Tradisi keagamaan lainnya mencakup peringatan khoul untuk mengenang tokoh yang dihormati, sedekah bumi, serta berbagai selamatan yang berhubungan dengan daur kehidupan masyarakat.
Pelestarian Tradisi sebagai Identitas Lokal
Dokumentasi Rosyid juga mencatat tradisi Mubeng Gapura di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati. Dalam tradisi perkawinan tersebut, kedua mempelai mengelilingi gapura di halaman Masjid At-Taqwa setelah melaksanakan ijab kabul.
Ragam tradisi tersebut menunjukkan hubungan antara ekspresi budaya, kehidupan keagamaan, dan aktivitas ekonomi masyarakat Kudus. Doa, kirab, pembagian makanan, serta pertunjukan seni rakyat menjadi bagian dari cara masyarakat mengungkapkan rasa syukur dan mengenang jasa leluhur.
Rosyid menekankan pentingnya mendokumentasikan tradisi lokal agar pengetahuan budaya tidak hilang seiring berkurangnya penutur dan pewarisnya. Ia juga menggambarkan pelestarian budaya Kudus sebagai hasil kesadaran masyarakat yang didukung pemerintah desa dan daerah.
Melalui dokumentasi tradisi seperti Tebokan, Temanten Tebu, parade ketupat, dan Mauludan Jawiyan, warisan budaya Kudus dapat dipahami bukan sekadar sebagai rangkaian upacara, melainkan sebagai bagian dari identitas lokal yang merekam hubungan masyarakat dengan sejarah, keyakinan, dan sumber penghidupannya.
Sumber: Moh Rosyid, “Memetakan Akar Budaya Khas Kota Kudus Jawa Tengah,” dalam Tradisi dan Kebudayaan Nusantara, hlm. 99–122.


