in

Cagar Budaya Gedung Marabunta Semarang, Bekas Panggung Pertunjukan Bergaya Klasik

Gedung Marabunta di Kota Lama Semarang menyimpan sejarah pertunjukan sejak 1890, dengan ornamen semut raksasa dan kaca patri yang khas.
Gedung Marabunta di Kota Lama Semarang menyimpan sejarah pertunjukan sejak 1890, dengan ornamen semut raksasa dan kaca patri yang khas.

Gedung Marabunta di kawasan Kota Lama Semarang merupakan bangunan bersejarah yang dahulu dikenal sebagai tempat pertunjukan opera, tari, musik orkestra, dan balet. Dibangun pada 1890, gedung ini menjadi bagian dari jejak kehidupan hiburan masyarakat pada masa kolonial dan memiliki ciri arsitektur yang mudah dikenali.

Menurut Ensiklopedia Cagar Budaya Indonesia terbitan Wonderland Family (2019), nama awal gedung ini adalah Schouwburg. Lokasinya berada di Jalan Cenderawasih 23, kawasan Kota Lama Semarang. Bangunan tersebut dikenal dengan dua ornamen semut besar di sisi kiri dan kanan atap. Di dalamnya terdapat kaca patri yang menampilkan sosok perempuan penari yang dikenal sebagai Putri Matahari.

Marabunta pernah ramai dikunjungi bangsawan dan orang kaya Belanda yang ingin menyaksikan pertunjukan. Salah satu nama yang dikaitkan dengan popularitas gedung ini adalah Margaretha Geertruida Zelle, penari kelahiran Belanda yang pernah belajar menari di India dan tinggal di Semarang. Ensiklopedia tersebut juga mengisahkan bahwa Margaretha kemudian dikenal sebagai mata-mata Jerman pada masa Perang Dunia I dan dihukum mati pada 1917.

Keunikan bangunan tidak hanya terletak pada patung semut dan kaca patri. Atap gedung pertunjukan disebut memiliki bentuk seperti perahu terbalik. Di dalamnya pernah terdapat mini bar berbentuk kapal layar, sedangkan tangga melingkar menghubungkan lantai pertama dengan kantor di lantai kedua. Kaca patri lain menampilkan pemain musik orkestra dan terlihat menonjol ketika terkena cahaya matahari.

Setelah Indonesia merdeka, fungsi gedung berubah. Pada 1956 bangunan digunakan oleh Yayasan Rumpun Diponegoro Kodam IV Diponegoro, lalu menjadi kantor PT Marabunta Semarang. Setelah mengalami rob dan banjir besar, gedung diperbaiki. Sejak 2000, bangunan pernah disewakan untuk acara pernikahan, pertunjukan musik, dan kegiatan fotografi, serta sempat digunakan sebagai kafe.

Namun, buku tersebut mencatat bahwa kafe telah ditutup dan gedung tidak lagi dibuka untuk umum pada saat penulisan. Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan pemanfaatan bangunan bersejarah. Ketika bangunan tidak digunakan, upaya perawatan dan penyampaian informasi kepada publik menjadi semakin penting.

Marabunta memiliki potensi sebagai bagian dari wisata sejarah Kota Lama Semarang. Pelestarian yang disertai pemanfaatan tepat dapat menghidupkan kembali cerita tentang seni pertunjukan, arsitektur, dan dinamika sosial masa lalu tanpa menghilangkan karakter asli bangunan.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Pelestarian Batik Semarang perlu memperkuat pemahaman makna motif dan sejarah agar warisan budaya lokal tetap dikenal generasi muda Indonesia.

Batik Semarang Perlu Dilestarikan melalui Pemahaman Makna Motif