Jakarta – Perjalanan membangun usaha tidak selalu bergerak dari nol menuju kesuksesan. Syamsul Huda, pemilik Perada Batik, mengungkapkan bahwa dirinya pernah menghadapi masa sulit hingga berada dalam kondisi usaha yang merugi dan terancam kehilangan aset. Namun, pengalaman mengikuti INACRAFT serta kekuatan jejaring bisnis membantunya bangkit dan mempertahankan usaha di tengah berbagai krisis.
Kisah tersebut disampaikan Huda dalam sesi Craft Talk INACRAFT 2026. Ia menceritakan perjalanan usahanya yang dimulai setelah lulus kuliah pada 1998. Sebelum menekuni bisnis kerajinan, Huda telah terbiasa bekerja dan berusaha sejak masih sekolah, termasuk menjalankan usaha percetakan bersama ayahnya.
Kesempatan mengikuti INACRAFT pada 2000 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan bisnisnya. Saat itu, Huda mengaku mempertaruhkan seluruh modal usaha percetakan untuk mengikuti pameran tersebut. Ia bahkan sempat khawatir kehilangan uang sekitar Rp3 juta apabila pameran tidak menghasilkan penjualan.
“Kalau nanti uangku Rp3 juta ini, misalnya pameran gagal, aku tolong diutangi ya,” kenang Huda mengenai percakapannya dengan seorang rekan sebelum berangkat ke pameran.
Kekhawatiran tersebut terjawab ketika ia berhasil mendapatkan pembayaran dari pembeli asal Taiwan. Pada masa itu, menurut Huda, pameran menjadi sarana penting untuk mempertemukan pelaku usaha dengan pembeli bisnis atau business-to-business (B2B).
Pada tahap awal, Huda masih bergerak di bidang kerajinan atau handicraft dan belum memiliki produksi sendiri. Seiring berjalannya waktu, usahanya berkembang hingga menghadapi ujian besar berikutnya pada 2010, ketika krisis ekonomi global berdampak terhadap bisnisnya.
Jika pada awal perjalanan ia merasa memulai usaha dari nol, Huda menyebut situasi pada 2010 sebagai kondisi dari minus. Sejumlah pesanan tidak terbayar, sementara kewajiban kepada pemasok dan pabrik tetap harus diselesaikan. Bahkan, ia sempat menghadapi kemungkinan menjual rumah untuk menutup beban usaha.
Jejaring INACRAFT Membantu Pemulihan Usaha
Huda mengaku sempat menghentikan aktivitas usahanya selama sekitar tiga tahun setelah menghadapi tekanan tersebut. Namun, hubungan yang dibangun selama mengikuti INACRAFT membuka peluang untuk kembali berusaha.
Ia kemudian memperoleh kesempatan mengikuti pameran di luar negeri, termasuk di Jerman. Dari proses tersebut, Huda perlahan memulihkan bisnis dan menyelesaikan kewajiban kepada para pemasok melalui kesepakatan pembayaran kembali.
Pengalaman itu memperlihatkan bahwa pameran tidak hanya berfungsi sebagai tempat menjual produk. Bagi pelaku usaha, pertemuan dengan pembeli, sesama pengusaha, dan mitra potensial dapat menjadi modal penting untuk memulihkan bisnis ketika menghadapi kesulitan.
Huda kembali menghadapi tantangan besar saat pandemi COVID-19 melanda. Aktivitas usaha terhenti, lokasi bisnisnya di Jakarta ditutup, dan pemasukan menurun drastis. Dalam kondisi tersebut, ia harus menentukan cara agar usaha tetap bertahan sekaligus menjaga keberlangsungan hidup karyawan.
Alih-alih melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), Huda memutuskan mempertahankan karyawannya. Ia menyebut jumlah karyawan yang berkaitan dengan usaha batiknya saat itu mencapai sekitar 400 orang.
Untuk menyesuaikan operasional, karyawan dari Jakarta dipindahkan ke Pekalongan. Di sana, mereka diarahkan mempelajari pemasaran digital sebagai salah satu upaya menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku pasar selama pandemi.
Menjual Aset untuk Mempertahankan Karyawan
Keputusan mempertahankan karyawan bukan tanpa konsekuensi. Huda mengungkapkan bahwa dirinya menjual dua mobil dan sejumlah aset lain untuk membantu membiayai kebutuhan usaha selama masa pandemi. Dana tersebut digunakan untuk menopang operasional ketika ia belum mengetahui kapan kondisi akan kembali normal.
Baginya, keputusan itu berkaitan dengan tanggung jawab seorang pemimpin terhadap orang-orang yang menggantungkan penghidupan pada usaha yang dibangun bersama.
Huda juga mengingat nasihat seorang teman yang pernah mengingatkannya agar tidak menyerah ketika menghadapi tekanan. “Lokomotif tidak boleh kalah dengan gerbong.” Pesan tersebut menjadi salah satu penguat mental saat ia harus menentukan langkah dalam situasi yang tidak pasti.
Melalui kisahnya di Craft Talk INACRAFT 2026, Huda menunjukkan bahwa keberlanjutan usaha tidak hanya bergantung pada modal finansial. Jejaring, kemampuan beradaptasi, komitmen terhadap karyawan, dan keberanian mengambil keputusan menjadi faktor penting dalam menghadapi krisis.
Perjalanan Perada Batik juga menegaskan arti penting pameran dan jejaring bisnis bagi pelaku industri kreatif. Dari mempertaruhkan modal percetakan pada 2000 hingga menjual aset demi mempertahankan karyawan saat pandemi, pengalaman Huda memperlihatkan bahwa membangun usaha menuntut ketahanan dan tanggung jawab yang berkelanjutan.

