Batik Jogja dan Batik Solo memiliki karakter visual yang berbeda meski sama-sama berkembang dari tradisi batik yang berkaitan dengan lingkungan keraton. Perbedaan tersebut terlihat terutama pada warna dan ukuran motif yang digunakan.
Temuan itu tercantum dalam penelitian Chelsea Yulianita dan Gregorius Genep Sukendro berjudul Corak Batik dan Perilaku Komunikasi (Analisis Motif Batik Jogja dan Batik Solo) yang diterbitkan dalam jurnal Koneksi Vol. 3 No. 1, Juli 2019. Penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam dan observasi.
Dalam penelitian tersebut, Batik Jogja disebut memiliki warna yang cenderung lebih terang. Selain itu, ukuran motifnya cenderung lebih besar. Sementara Batik Solo memiliki warna yang cenderung lebih gelap dengan dimensi motif yang relatif lebih kecil.
Perbedaan visual tersebut menjadi salah satu karakter yang membedakan kedua tradisi batik. Meski demikian, penelitian tidak menemukan perbedaan perilaku komunikasi yang mendasar antara Batik Jogja dan Batik Solo.
Menurut penelitian, motif batik tidak hanya berfungsi sebagai unsur estetika. Motif juga menjadi sarana penyampaian pesan melalui simbol dan gambar yang terdapat di dalamnya.
Dalam kajian tersebut, motif batik dipahami sebagai perpaduan bentuk, garis, dan isen yang membentuk satu kesatuan visual. Unsur motif terdiri atas motif utama, motif tambahan, dan isen-isen motif.
Motif utama menjadi unsur penentu sebuah motif. Pada umumnya, ornamen utama mempunyai arti atau makna yang membentuk karakter keseluruhan motif.
Penelitian memberikan contoh motif Sidomukti. Di dalam motif tersebut terdapat ornamen kupu-kupu, singgasana, dan meru. Kupu-kupu melambangkan harapan yang indah, singgasana berkaitan dengan kedudukan tinggi dan keinginan untuk dihormati, sedangkan meru berbentuk seperti gunung dan melambangkan keagungan yang abadi.
Selain motif utama, terdapat motif tambahan yang berfungsi sebagai pengisi bidang. Pada Sidomukti, bunga menjadi salah satu motif tambahan dan dimaknai sebagai simbol keindahan dan kecantikan.
Sementara itu, isen-isen berupa gabungan titik dan garis digunakan untuk mengisi bidang di antara ornamen. Contohnya adalah cecek, cecek pitu, sawut, dan ukel.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa perbedaan bentuk dan warna tidak menghilangkan fungsi batik sebagai media penyampaian pesan budaya. Batik Jogja dan Batik Solo tetap membawa informasi mengenai karakter serta makna motif kepada masyarakat.
Dengan demikian, kain batik tidak hanya dapat dipandang sebagai produk seni dan kerajinan, tetapi juga sebagai media komunikasi budaya yang menyampaikan pesan melalui unsur visual.
Sumber: Yulianita & Sukendro, Koneksi, Vol. 3 No. 1, 2019.


