Pewarnaan menjadi salah satu tahapan penting dalam pembuatan batik karena menentukan karakter visual kain yang dihasilkan. Selain menggunakan bahan alami, industri batik juga mengenal berbagai zat pewarna sintetis, salah satunya indigosol. Materi penelitian Teknik Pewarnaan Batik 1 membahas karakteristik pewarna indigosol sekaligus membandingkan penggunaannya melalui teknik celup dan teknik colet.
Dalam materi tersebut, zat pewarna indigosol disebut sebagai jenis zat warna Bejana yang larut dalam air. Larutan pewarna indigosol menghasilkan larutan berwarna jernih sehingga warna yang diharapkan belum langsung terlihat ketika kain pertama kali dicelupkan ke dalam larutan. Warna kemudian muncul setelah proses oksidasi atau ketika kain dimasukkan ke dalam larutan asam seperti HCl atau H₂SO₄.
Proses pewarnaan indigosol juga membutuhkan bahan pembantu berupa Natrium Nitrit (NaNO₂) yang dalam materi tersebut disebut berfungsi sebagai oksidator. Karakter warna yang dihasilkan zat pewarna indigosol cenderung lembut atau pastel. Karakter tersebut menjadi salah satu ciri yang membedakannya dari sejumlah jenis pewarna batik lainnya.
Dalam proses pembuatan batik, materi tersebut menjelaskan dua teknik pewarnaan, yakni pencelupan dan pencoletan. Teknik celup dilakukan dengan memasukkan kain yang sebelumnya telah diberi malam sebagai perintang warna ke dalam larutan zat warna. Teknik ini memungkinkan proses pewarnaan dilakukan pada bidang kain secara lebih menyeluruh sesuai bagian yang tidak terlindungi malam.
Sementara itu, teknik colet dilakukan dengan mengaplikasikan zat warna secara langsung pada bagian atau motif tertentu menggunakan kuas maupun alat lainnya. Kain sebelumnya telah melalui proses pembatikan atau pencantingan. Dengan teknik ini, pewarnaan dapat diarahkan pada motif tertentu sesuai rancangan batik.
Materi penelitian tersebut menempatkan perbedaan kedua teknik sebagai fokus kajian. Penelitian berjudul “Perbandingan Hasil Pewarnaan Teknik Celup Dan Teknik Colet Pada Pewarna Indigosol Yang Diterapkan Pada Sarung Bantal Motif Batik”. Penelitian diarahkan untuk mengetahui hasil pewarnaan indigosol melalui teknik celup dan teknik colet pada sarung bantal kursi bermotif batik.
Objek yang digunakan dibatasi pada kain primisima. Kajian secara khusus membandingkan hasil jadi pewarnaan batik dengan teknik celup dan teknik colet menggunakan zat pewarna indigosol. Rumusan masalah penelitian mencakup hasil masing-masing teknik serta ada atau tidaknya perbedaan hasil pewarnaan di antara keduanya.
Pengembangan batik menjadi produk interior juga menjadi konteks penelitian. Materi mencatat bahwa penggunaan batik tidak lagi terbatas pada pakaian resmi. Motif batik telah diterapkan pada berbagai produk seperti taplak meja, syal, masker dan sarung bantal kursi. Sarung bantal tidak hanya berfungsi melindungi bantal, tetapi juga menjadi elemen dekoratif melalui penerapan motif batik.
Melalui penelitian tersebut, teknik celup dan colet pada pewarna indigosol dikaji sebagai dua pendekatan pewarnaan batik yang memiliki karakter penggunaan berbeda. Kajian ini juga ditujukan untuk menambah pengetahuan mahasiswa UNIPA Surabaya mengenai kedua teknik tersebut serta mengetahui perbedaan hasil pewarnaannya.S

