in

Teknik Batik Indigo: Dari Fermentasi Daun hingga Pencelupan Delapan Kali

Teknik batik indigo menggunakan daun Indigofera tinctoria melalui fermentasi, reduksi, pencelupan dan pelorodan untuk menghasilkan warna biru.
Teknik batik indigo menggunakan daun Indigofera tinctoria melalui fermentasi, reduksi, pencelupan dan pelorodan untuk menghasilkan warna biru.

Teknik batik indigo tidak hanya bergantung pada jenis tanaman yang digunakan sebagai sumber warna, tetapi juga pada tahapan pengolahan zat warna sebelum diaplikasikan ke kain. Penelitian Agus Haerudin dan Aprilia Fitriani menunjukkan rangkaian proses penggunaan daun Indigofera tinctoria, mulai dari fermentasi hingga pencelupan kain kapas dan sutera.

Indigofera tinctoria menghasilkan pigmen biru yang berasal dari senyawa indigotin. Karena pigmen indigo tidak larut dalam air, diperlukan proses reduksi agar zat warna dapat digunakan dalam proses pencelupan. Penelitian tersebut menguji gula aren dan tetes tebu sebagai dua jenis reduktor alami.

Tahap pertama adalah pembuatan pasta Indigofera. Daun yang digunakan berasal dari tanaman berusia 120 hari. Sebanyak 1 kilogram daun direndam dalam 10 liter air selama 24 jam. Setelah proses perendaman, larutan fermentasi disaring untuk memisahkan kotoran berupa daun dan ranting.

Tahap berikutnya adalah proses reduksi awal selama satu jam menggunakan 100 gram kapur. Setelah itu dilakukan sedimentasi dan filtrasi sehingga diperoleh pasta Indigofera. Pasta tersebut belum langsung digunakan untuk pencelupan, tetapi masih harus direduksi agar menjadi larutan zat warna yang dapat diaplikasikan pada kain.

Penelitian membandingkan dua formula reduktor. Untuk gula aren, digunakan 1 kilogram pasta Indigofera dan 1 kilogram gula aren yang dilarutkan dalam 6 liter air. Sementara formula tetes tebu terdiri atas 1 kilogram pasta dan 100 gram tetes tebu dalam 6 liter air.

Setelah larutan pewarna siap, kain terlebih dahulu diberi motif menggunakan malam atau lilin batik. Penelitian menggunakan kain kapas primissima atau mori primissima dan teknik pencantingan dengan canting cap. Malam berfungsi sebagai zat perintang warna sehingga bagian tertentu pada kain terlindungi selama proses pencelupan.

Tahap pewarnaan dilakukan dengan sistem celup–rendam–jemur. Kain kapas dan sutera dicelup sebanyak delapan kali. Pengulangan pencelupan menjadi bagian penting dalam menghasilkan tingkat ketuaan warna yang berbeda. Penelitian sebelumnya yang dibahas dalam materi juga menyebut bahwa pasta Indigofera dapat optimal menghasilkan warna biru alami pada kain kapas dengan pencelupan sebanyak delapan kali.

Setelah pencelupan selesai, kain masuk ke tahap pelorodan. Malam dihilangkan dengan cara merebus kain dalam larutan natrium karbonat sebanyak 5 gram per liter pada temperatur 60–100 derajat Celsius. Proses dilakukan sampai lilin batik hilang sempurna dari kain.

Secara kimia, dalam kondisi tereduksi pigmen indigo berada dalam bentuk larut dan dapat masuk ke dalam serat. Setelah kain terkena udara, pigmen mengalami oksidasi dan mengendap kembali pada serat sehingga menghasilkan warna biru yang permanen.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik tersebut menghasilkan warna dari biru muda hingga biru tua. Pengujian ketahanan luntur terhadap pencucian, gosokan basah dan sinar matahari menunjukkan hasil yang baik, dengan nilai rata-rata 4–5. Gula aren juga menghasilkan warna biru paling tua dalam penelitian tersebut.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa teknik batik indigo berbasis Indigofera tinctoria merupakan proses yang melibatkan pengolahan bahan tanaman, fermentasi, reduksi, pencelupan berulang, oksidasi dan pelorodan. Setiap tahap berperan dalam menentukan kualitas akhir warna pada kain batik.

Sumber informasi: Agus Haerudin & Aprilia Fitriani, “Pewarnaan Batik Kapas dan Sutera Menggunakan Daun Indigofera tinctoria dari Ambarawa dan Kulon Progo dengan Reduktor Gula Aren dan Tetes Tebu”, Arena Tekstil Vol. 34 No. 2, 2019, hlm. 41–48.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

INACRAFT October 2026 mengusung TechnoCraft, mempertemukan teknologi, kreativitas, dan tradisi untuk mendorong kriya Indonesia ke pasar global.

INACRAFT October 2026 Usung TechnoCraft, Padukan Teknologi dan Tradisi

Batik indigosol menggunakan pewarna sintetis yang menghasilkan warna pastel melalui teknik celup dan colet pada kain primisima.

Batik Indigosol: Pewarna Sintetis dengan Teknik Celup dan Colet