Kain kapas menjadi salah satu media yang diuji dalam penelitian penggunaan Indigofera tinctoria sebagai pewarna alami batik. Penelitian Agus Haerudin dan Aprilia Fitriani membandingkan tanaman Indigofera dari Ambarawa dan Kulon Progo dengan dua jenis reduktor alami, yakni gula aren dan tetes tebu.
Penelitian tersebut berangkat dari potensi Indigofera sebagai sumber warna biru alami. Pigmen warna berasal dari senyawa indigotin yang diperoleh melalui pengolahan daun dan ranting dengan proses fermentasi serta reduksi. Penelitian juga mencatat bahwa industri kecil dan menengah batik sebelumnya banyak menggunakan natrium hidrosulfit sebagai reduktor, sedangkan gula jawa dan tetes tebu dapat digunakan sebagai alternatif reduktor alami.
Bahan baku yang digunakan adalah daun Indigofera tinctoria dari perkebunan Ambarawa dan Kulon Progo yang dipanen pada usia 120 hari. Daun sebanyak 1 kilogram direndam dalam 10 liter air selama 24 jam. Larutan hasil fermentasi kemudian disaring dan diproses hingga menghasilkan pasta Indigofera.
Untuk menghasilkan larutan pewarna, penelitian menggunakan gula aren dan tetes tebu. Formula gula aren terdiri atas 1 kilogram pasta Indigofera dan 1 kilogram gula aren dalam 6 liter air. Formula tetes tebu menggunakan 1 kilogram pasta dan 100 gram tetes tebu dalam 6 liter air.
Kain kapas yang digunakan kemudian diberi motif dengan malam melalui teknik batik cap. Setelah itu, proses pewarnaan dilakukan sebanyak delapan kali pencelupan menggunakan sistem celup–rendam–jemur. Setelah proses pencelupan selesai, kain menjalani pelorodan untuk menghilangkan malam.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa kain kapas memiliki ketahanan luntur yang baik. Pada pengujian pencucian, seluruh variasi memperoleh nilai 4 hingga 4–5. Pengujian gosokan basah menghasilkan nilai 3–4 sampai 4–5, sedangkan ketahanan terhadap sinar matahari berada pada kisaran 4–5.
Dari sisi warna, nilai L* terendah pada kain kapas tercatat 25,86. Nilai tersebut diperoleh dari Indigofera tinctoria asal Kulon Progo dengan reduktor gula aren dan menunjukkan warna yang lebih gelap. Sebaliknya, nilai L* tertinggi, 50,10, diperoleh dari Indigofera Ambarawa dengan reduktor tetes tebu dan menunjukkan warna biru yang lebih muda.
Perbedaan tingkat ketuaan warna semakin terlihat melalui pengukuran K/S. Nilai K/S yang semakin tinggi menunjukkan penyerapan zat warna yang semakin besar atau warna yang semakin tua. Hasil tertinggi pada kain kapas mencapai 55,12, dengan reflektansi 1,54 persen. Hasil tersebut diperoleh dari Indigofera tinctoria Kulon Progo menggunakan gula aren.
Peneliti mengaitkan hasil tersebut dengan karakter kain kapas sebagai serat selulosa. Daya serapnya terhadap air dinilai lebih tinggi dibandingkan serat protein, sehingga berpengaruh terhadap penyerapan zat warna dan tingkat ketuaan warna.
Penelitian juga menemukan bahwa gula aren menghasilkan warna biru paling tua dibandingkan tetes tebu. Glukosa dalam gula jawa berperan sebagai agen pereduksi gugus indigotin dalam pasta Indigofera.
Dengan demikian, penelitian tersebut menunjukkan potensi Indigofera tinctoria sebagai pewarna alami batik kapas. Kombinasi tanaman dari Kulon Progo dan reduktor gula aren menghasilkan salah satu tingkat ketuaan warna tertinggi dalam penelitian, sekaligus memperlihatkan peluang pemanfaatan bahan reduktor alami dalam proses pewarnaan batik.
Sumber informasi: Agus Haerudin & Aprilia Fitriani, “Pewarnaan Batik Kapas dan Sutera Menggunakan Daun Indigofera tinctoria dari Ambarawa dan Kulon Progo dengan Reduktor Gula Aren dan Tetes Tebu”, Arena Tekstil Vol. 34 No. 2, 2019.


