Ada masa ketika Andrye Setiawan menjalani karier yang tampak mapan. Lulusan Administrasi Perhotelan NHI Bandung ini pernah bekerja di hotel dan kemudian menghabiskan sekitar 12 tahun di industri perbankan. Kariernya bahkan sempat membawanya ke posisi Vice President Investment Specialist di Permata Bank.
Namun, karier yang baik ternyata tidak selalu berarti pekerjaan yang memberikan kepuasan. Di tengah perjalanan, Andrye menyadari bahwa dunia perbankan bukanlah passion yang ingin dijalaninya dalam jangka panjang. Latar belakang pendidikan perhotelan yang pernah ditempuh selama bertahun-tahun justru kembali membawanya pada dunia hospitality, kali ini melalui bisnis pastry.
Dari keputusan itulah perjalanan bisnis yang kemudian melahirkan Exquise Patisserie, Rayoean, dan Tuan Wen dimulai.

Dari Perhotelan ke Perbankan
Ketertarikan Andrye terhadap dunia hospitality sebenarnya sudah tumbuh sejak sekolah. Ia menempuh pendidikan di bidang perhotelan sebelum melanjutkan ke NHI Bandung, mengambil Administrasi Perhotelan pada 1998–2002.
Setelah lulus, ia sempat bekerja selama sekitar satu tahun di Hotel Nikko, yang kini dikenal sebagai Pullman. Namun, perjalanan karier berikutnya justru berlangsung cukup panjang di industri perbankan.
Andrye kemudian bergabung dengan Citibank, dilanjutkan dengan Standard Chartered dan Permata Bank. Secara keseluruhan, ia menghabiskan sekitar 12 tahun di dunia perbankan.
Pengalaman tersebut memberikan bekal penting, terutama karena ia bekerja di bidang wealth management dan investment. Pekerjaannya membuatnya terbiasa memahami pengelolaan kekayaan, investasi, risiko, serta bagaimana melihat sebuah peluang bisnis.
Di sisi lain, pekerjaan tersebut perlahan membuatnya menyadari satu hal: kemampuan bekerja tidak selalu sama dengan kecocokan pekerjaan.
“Sebenarnya saya bisa bekerja di bank. Posisi terakhir saya juga Vice President Investment Specialist di Permata Bank. Secara karier sebenarnya cukup baik,” ujarnya.
Namun, pekerjaan yang bukan passion, menurut Andrye, terasa kurang memuaskan.
Merintis Bisnis Sambil Bekerja
Sekitar 2014, ketika masih bekerja di Standard Chartered, Andrye mulai mencoba membangun bisnis pastry. Ia belum langsung meninggalkan pekerjaan. Bisnis tersebut dijalankan sambil tetap bekerja dan dikontrol dari jarak jauh.
Setelah sekitar satu tahun, ia kembali bekerja di Bank Permata. Bisnis pastry yang telah dirintisnya tetap berjalan dengan bantuan orang lain yang mengelola operasional sehari-hari.
Perubahan besar terjadi ketika ia menghadapi restrukturisasi di tempat kerja. Kondisi tersebut membuatnya harus bersiap meninggalkan dunia perbankan. Pesangon yang diperolehnya kemudian digunakan sebagai modal untuk membuka toko.
Modal awalnya sekitar Rp500 juta. Saat itu ia belum memiliki toko besar. Ia memanfaatkan ruko milik keluarga dan menyewa bagian lantai tiga sebagai dapur sekaligus kantor.
Keputusan tersebut menjadi titik penting. Bisnis yang sebelumnya hanya berjalan sebagai usaha sampingan mulai dikembangkan secara penuh.
Andrye akhirnya memilih menjadi entrepreneur.

Exquise dan Awal Bisnis Pastry
Ketika memulai bisnis, French patisserie sedang berkembang dan menjadi salah satu referensi utama Andrye. Ia sendiri mengaku menyukai makanan manis atau sweet tooth.
Dari sinilah Exquise lahir.
Nama Exquise terinspirasi dari kata yang menggambarkan sesuatu yang delicious, exquisite, dan bagus. Konsepnya adalah menghadirkan kue yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki rasa yang baik.
Bagi Andrye, tampilan memang penting dalam bisnis pastry. Namun, rasa tidak boleh menjadi nomor dua.
Karena itu, penggunaan bahan-bahan premium menjadi salah satu diferensiasi yang dibangun sejak awal. Pada masa itu, menurutnya, belum terlalu banyak toko kue yang menawarkan produk dengan pendekatan bahan premium sekaligus mengedepankan penampilan.
Exquise kemudian berkembang menjadi brand yang berfokus antara lain pada celebration cake dan gifting. Produk hampers untuk Natal, Lebaran, dan Imlek juga menjadi bagian penting dari bisnisnya.
Dalam perkembangannya, Exquise tidak berhenti pada satu gaya pastry. Tren Korean Cake, misalnya, ikut diadaptasi dan dikombinasikan dengan cita rasa Indonesia, termasuk pandan.
Kemampuan mengikuti perubahan selera konsumen menjadi salah satu alasan bisnis tersebut dapat terus bertahan.
Rayoean dan Upaya Mengangkat Cita Rasa Indonesia
Setelah Exquise berkembang, Andrye memperluas portofolio dengan menghadirkan Rayoean.
Jika Exquise memiliki akar pada French patisserie, Rayoean lebih dekat dengan cita rasa Indonesia, khususnya pandan. Hampir seluruh produk Rayoean memiliki unsur pandan, mulai dari kue, roti, kopi pandan hingga kue kering.
Konsep tradisional tersebut kemudian dikemas secara modern. Interior tokonya pun dirancang dengan nuansa masa lalu yang mengingatkan pada gaya Holland atau Belanda.
Nama Rayoean sendiri memiliki filosofi yang berhubungan dengan upaya “merayu” konsumen—membuat orang tertarik membeli, mencoba, kembali membeli, bahkan merekomendasikan kepada orang lain.
Bagi Andrye, makanan memiliki kekuatan untuk membangun hubungan antarmanusia. Sebuah pemberian sederhana berupa makanan dapat menjadi cara untuk menyenangkan dan memenangkan hati seseorang.
Eksperimen tersebut mengajarkan kepadanya bahwa konsumen sering kali mencari sesuatu yang berbeda. Produk sederhana pun dapat memiliki nilai baru ketika dikemas dengan konsep yang tepat.

Tuan Wen: Membawa Memori Masa Kecil
Brand berikutnya adalah Tuan Wen, yang mengangkat Chinese pastry dan makanan Chinese lokal.
Bagi Andrye, Tuan Wen bukan sekadar proyek bisnis. Ada unsur memori personal di dalamnya. Ia memiliki keturunan Chinese dan sejak kecil akrab dengan berbagai makanan yang menjadi bagian dari kehidupan komunitasnya.
Kue pagi, makanan yang disajikan saat sembahyang, kue bulan, dan berbagai makanan tradisional menjadi bagian dari ingatannya.
Karena itu, Tuan Wen dibangun untuk menghadirkan kembali sebagian memori tersebut dalam bentuk bisnis kuliner.
Nama Tuan Wen juga berkaitan dengan nama Chinese Andrye, yaitu Wen Tai Wan.
Melalui ketiga brand tersebut, Andrye tidak sekadar membangun toko kue dengan produk yang berbeda-beda. Ia membangun identitas berdasarkan cerita: Exquise dengan pendekatan pastry premium, Rayoean dengan eksplorasi rasa Indonesia, dan Tuan Wen dengan warisan kuliner Chinese lokal.

Koneksi Perbankan Menjadi Modal Sosial
Pengalaman 12 tahun di perbankan ternyata tidak berhenti ketika Andrye meninggalkan bank. Jaringan yang ia bangun selama bekerja justru menjadi salah satu modal awal bisnis.
Pada masa awal, mendapatkan konsumen bukan perkara mudah. Karena itu, relasi dengan teman-teman di bank dan nasabah prioritas menjadi salah satu pintu masuk pasar.
Bank biasanya memberikan kue kepada nasabah yang berulang tahun. Peluang tersebut kemudian dikembangkan menjadi kerja sama penyediaan dan pengiriman kue.
Hingga kini, bisnisnya masih memiliki kerja sama dengan sejumlah bank, termasuk BRI, BNI, dan Mandiri.
Bagi Andrye, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa modal bisnis bukan hanya uang. Relasi, pengalaman, pengetahuan, dan kepercayaan juga dapat menjadi aset yang penting.

Tidak Harus Bisa Membuat Kue
Salah satu pelajaran terbesar yang diperoleh Andrye adalah bahwa seorang pengusaha tidak harus menguasai seluruh pekerjaan teknis bisnisnya.
Ia mengakui bahwa dirinya bukan pastry chef.
Kekuatan utamanya berada di sisi bisnis, strategi, ide, dan pemasaran. Untuk urusan produksi, ia memilih bekerja sama dengan chef dan membangun tim R&D yang bertugas mengembangkan produk-produk baru.
Pada masa awal, salah satu chef yang membantunya berasal dari Kempinski dan bekerja secara freelance untuk membantu pengembangan menu.
Bagi Andrye, kolaborasi tersebut membuktikan bahwa keterbatasan kemampuan pribadi tidak selalu menjadi penghalang untuk memulai bisnis.
“Kita tidak harus bisa melakukan semuanya,” menjadi salah satu pelajaran yang ia rasakan dari perjalanan tersebut.
Belajar Berani Mengambil Keputusan
Belasan tahun berada di perbankan juga meninggalkan kebiasaan yang harus ia ubah ketika menjadi entrepreneur.
Di bank, kesalahan dapat menjadi persoalan besar karena banyak keputusan harus mengikuti regulasi dan sistem. Ketika masuk ke bisnis F&B yang dinamis, pola tersebut tidak selalu dapat dipertahankan.
Andrye kemudian belajar untuk lebih berani mengambil keputusan.
Jika keputusan ternyata salah, ia memilih memperbaikinya dan mencoba sesuatu yang baru. Baginya, lebih baik mengambil keputusan dan belajar dari kesalahan daripada tidak melakukan apa-apa karena terlalu takut salah.
Prinsip itu menjadi semakin relevan karena industri makanan dan minuman bergerak sangat cepat. Selera konsumen berubah, tren berganti, dan produk baru bermunculan.
Karena itu, inovasi menjadi kebutuhan.
Exquise, misalnya, tidak hanya mempertahankan produk signature seperti Chocolate Pachita dan kue pandan. Ketika Korean Cake menjadi tren, mereka ikut beradaptasi. Ketika London Layer Cake menjadi populer, produk tersebut juga ikut dikembangkan dan mendapat respons positif dari pasar.
Growth, Significance, Integrity
Di balik ekspansi bisnis, Andrye mempertahankan tiga kata yang menjadi nilai penting dalam menjalankan perusahaan: Growth, Significance, dan Integrity.
Growth berarti bisnis harus terus bertumbuh. Significance berarti bisnis harus memberikan manfaat. Sementara Integrity menjadi prinsip dalam menjaga kepercayaan.
Integritas, menurut Andrye, tidak hanya berlaku kepada konsumen. Ia juga harus diterapkan kepada vendor dan karyawan.
Ia berusaha memenuhi komitmen pembayaran kepada vendor dan menjaga agar karyawan mendapatkan haknya. Bahkan ketika pandemi melanda, ia menyebut tidak melakukan PHK terhadap karyawan kecuali karena persoalan performance atau disiplin.
Saat ini, bisnis yang dibangunnya telah berkembang menjadi beberapa brand dan mempekerjakan sekitar 120 orang. Bagi Andrye, dampak bisnis tidak berhenti pada para karyawan. Jika setiap karyawan memiliki keluarga, maka manfaat ekonomi tersebut dapat menjangkau ratusan orang.
Karena itu, makna keberhasilan bisnis baginya tidak semata-mata soal pendapatan.
Memilih Tumbuh Secara Organik
Perjalanan bisnis Andrye juga memperlihatkan pilihan yang cukup berbeda dari tren perusahaan masa kini. Ia tidak tertarik mengejar venture capital.
Bukan karena tidak ingin berkembang, melainkan karena ia memiliki batas mengenai apa yang disebutnya sebagai rasa cukup.
Bisnisnya saat ini tumbuh secara organik. Ia dan seorang partner berbagi peran: Andrye sebagai CEO, sementara partnernya menangani produksi sebagai COO.
Namun, pintu investasi tidak sepenuhnya ditutup. Jika suatu saat ada pihak yang menawarkan investasi dengan angka yang menarik, ia tidak menutup kemungkinan untuk mempertimbangkannya.
Baginya, pertumbuhan harus tetap sejalan dengan kenyamanan dan tujuan hidup.
Mimpi Menjadi Nomor Satu
Meski berbicara tentang rasa cukup, bukan berarti Andrye kehilangan ambisi.
Ia memiliki target yang jelas: menjadikan bisnis cake yang dibangunnya sebagai toko kue terbesar, ternama, dan nomor satu di Indonesia.
Untuk mencapainya, ia sadar masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Apalagi bisnisnya masih tumbuh secara organik dan menghadapi kompetitor dengan dukungan modal yang jauh lebih besar.
Ekspansi terus dilakukan, termasuk pengembangan bisnis di Bandung dan Origin, brand kopi dengan pendekatan wellness yang menawarkan produk berbasis bahan natural, termasuk varian yang dikaitkan dengan stamina dan kolagen.
Batik, Seni, dan Belajar Melepaskan

Di luar dunia pastry, Andrye juga memiliki ketertarikan terhadap batik. Koleksinya sebagian besar merupakan batik lawas. Ia mengaku tidak terlalu memahami semua motif secara mendalam, tetapi tertarik pada batik sebagai karya seni.
Ia paling tidak mengenakan batik sekali dalam seminggu. Bahkan, koleksi batiknya disebut lebih banyak daripada kemeja biasa.
Namun, koleksi tersebut juga menjadi pelajaran tentang melepaskan. Ketika ada batik yang sudah dua atau tiga tahun tidak digunakan, ia memilih memberikannya kepada staf.
Menurutnya, batik adalah benda yang mahal dan proses pembuatannya tidak mudah. Jika hanya disimpan dan tidak pernah digunakan, manfaatnya menjadi terbatas.
Karena itu, barang yang sudah tidak digunakan sebaiknya diberikan kepada orang lain agar kembali memiliki fungsi.
Ketertarikannya pada batik juga membuat Andrye melihat pentingnya inovasi dan storytelling. Menurutnya, batik tidak cukup hanya dipasarkan sebagai kain yang indah.
Generasi muda perlu dikenalkan dengan motif dan cerita di baliknya. Bahkan, motif yang lebih modern dapat menjadi salah satu cara mendekatkan batik kepada Gen Z.
Ia mencontohkan eksplorasi batik dengan karakter populer seperti Pokémon. Bagi sebagian orang mungkin terasa tidak konvensional, tetapi menurutnya selera generasi muda memang berbeda.
“Why not?” menjadi semangat yang ia tawarkan: mencoba sesuatu yang baru tanpa meninggalkan nilai budaya.
Bisnis sebagai Perjalanan

Perjalanan Andrye Setiawan dari dunia perhotelan, perbankan, hingga pastry menunjukkan bahwa karier tidak selalu berjalan dalam garis lurus.
Ia memulai dari pendidikan hospitality, memasuki dunia hotel, berpindah ke perbankan, kemudian kembali pada dunia yang sejak awal dekat dengan dirinya melalui bisnis kuliner.
Yang menarik, ia tidak kembali sebagai chef. Ia kembali sebagai entrepreneur yang memahami bahwa sebuah bisnis dibangun melalui kolaborasi.
Dari modal sekitar Rp500 juta, sebuah usaha kecil di lantai tiga ruko keluarga berkembang menjadi beberapa brand dengan jaringan outlet yang semakin luas.
Di tengah perjalanan itu, ia belajar tentang kegagalan, keberanian mengambil keputusan, inovasi, integritas, dan arti kebermanfaatan.
Kini, targetnya sederhana tetapi besar: membawa bisnis cake yang dibangunnya menjadi yang terbesar dan nomor satu di Indonesia.
Bagi Andrye, pertumbuhan bukan hanya tentang seberapa besar bisnis menjadi. Pertumbuhan juga tentang seberapa banyak orang yang dapat ikut merasakan manfaatnya.
Dan mungkin, di situlah perjalanan seorang banker yang kemudian menjadi entrepreneur pastry menemukan maknanya: bukan sekadar meninggalkan pekerjaan lama, tetapi menemukan kembali passion, membangun sesuatu dengan tangannya sendiri, dan menciptakan ruang agar orang lain ikut bertumbuh.

