Perjalanan Puspa Nuswantara dari Yogyakarta menuju Jakarta bukan sekadar perpindahan lokasi penyelenggaraan pameran. Lebih dari itu, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas dampak ekonomi dan budaya bagi para pelaku batik di seluruh Indonesia.
Setelah sukses digelar di Puro Pakualaman Yogyakarta, Puspa Nuswantara kini hadir dalam skala yang lebih besar di JICC Senayan Jakarta pada 8–15 Juli 2026.
Kurator sekaligus penggagas Pameran Puspa Nuswantara, Abdul Syukur, menilai perpindahan lokasi tersebut memiliki makna strategis.
“Yogyakarta adalah kota kreativitas. Di sanalah embrio Puspa Nuswantara lahir. Sementara Jakarta merupakan mesin ekonomi yang mampu mempertemukan karya-karya batik dengan pasar yang lebih luas,” ujar Abdul Syukur.
Menurutnya, penyelenggaraan di ibu kota merupakan bagian dari ikhtiar untuk membantu menghidupkan kembali gairah industri batik yang saat ini menghadapi berbagai tantangan ekonomi.
“Kami berharap melalui langkah ini ekonomi para pembatik bisa terbangun kembali, semangat produksi batik hidup lagi, dan roda ekonomi batik bergerak lebih baik,” katanya.
Salah satu program yang menjadi perhatian utama adalah kehadiran Pasar Batik Rakyat. Konsep ini sebenarnya telah dikembangkan sebelumnya melalui kegiatan Grebeg Batik yang pernah diselenggarakan APPBI di Surabaya.
Pasar Batik Rakyat dirancang sebagai ruang yang lebih ramah bagi para pembatik untuk memasarkan karya mereka tanpa harus terbebani biaya pameran yang tinggi.
“Pasar Batik Rakyat adalah jembatan agar para pembatik bisa berpameran dan bertemu langsung dengan calon pembeli, kolektor, maupun pecinta batik,” jelas Abdul Syukur.
Bahkan APPBI tengah mengupayakan dukungan sponsor agar para pembatik dapat mengikuti pameran dengan biaya seminimal mungkin.
“Kalau sponsor memungkinkan, pembatik cukup datang membawa karya mereka. Itu yang sedang kami perjuangkan,” ujarnya.
Selain memberikan ruang ekonomi, Puspa Nuswantara 2026 juga menghadirkan unsur budaya yang kuat. Salah satunya melalui keterlibatan Puro Pakualaman sebagai bagian penting dari sejarah lahirnya Puspa Nuswantara.
Dalam pameran tersebut akan diperkenalkan motif batik terbaru dari Puro Pakualaman. Selain itu, berbagai pertunjukan seni tradisional khas Pakualaman juga akan ditampilkan kepada publik.
“Kami tidak bisa melupakan bahwa Puspa Nuswantara lahir di Puro Pakualaman. Karena itu kami ingin menghadirkan kembali jejak sejarah tersebut dalam pameran tahun ini,” kata Abdul Syukur.
Penyelenggaraan Puspa Nuswantara 2026 juga didukung oleh event organizer Satwe yang menjadi mitra dalam pengelolaan teknis acara. Kolaborasi ini diharapkan mampu menghadirkan pameran yang lebih profesional dan menjangkau audiens yang lebih luas.
Abdul Syukur optimistis bahwa gelaran ini dapat menjadi salah satu pameran batik terbesar yang pernah diselenggarakan APPBI.
“Ini adalah ikhtiar bersama untuk menjaga keberlangsungan batik Indonesia. Kami ingin menghadirkan ruang apresiasi, ruang ekonomi, sekaligus ruang perjumpaan bagi seluruh pelaku batik,” ujarnya.
Pada akhirnya, Puspa Nuswantara bukan hanya tentang pameran. Ia merupakan gerakan budaya yang berupaya menjaga semangat para pembatik di tengah perubahan zaman.
“Mari kita jaga api batik kita. Karena ketika semangat batik padam, maka padam pula semangat budaya yang kita miliki,” tutup Abdul Syukur.


