Sebagian orang memandang kecantikan hanya dari penampilan luar. Namun bagi pemilik sederet titel akademis, Dr. dr. Hj. Ratna Komala Dewi, Sp.DVE, M.Kes, FINSDV, FAADV, FIMMA, pendiri RKD’s Klinik, kecantikan memiliki makna yang jauh lebih dalam. Baginya, kecantikan adalah perpaduan antara perawatan diri, rasa percaya diri, dan kebanggaan terhadap identitas budaya Indonesia.
“Pasien yang datang cukup banyak, tetapi ruang tindakan tidak bertambah. Dari situ saya mulai berpikir untuk memiliki tempat praktik sendiri yang dapat saya kelola sesuai standar pelayanan yang saya yakini,” kenangnya.

Perjalanan mendirikan RKD’s Klinik dimulai dari pengalaman pribadinya sebagai dokter spesialis kulit dan kelamin. Setelah menyelesaikan pendidikan spesialis pada 2009, ia berpraktik di sebuah klinik di kawasan Ciracas. Saat itu jumlah pasien yang datang terus bertambah, namun fasilitas pelayanan yang tersedia masih terbatas.
“Pasien yang datang cukup banyak, tetapi ruang tindakan tidak bertambah. Dari situ saya mulai berpikir untuk memiliki tempat praktik sendiri yang dapat saya kelola sesuai standar pelayanan yang saya yakini,” kenangnya.
Keputusan besar itu akhirnya diwujudkan pada 10 Juni 2012 melalui pendirian RKD’s Klinik. Menariknya, perkembangan klinik tersebut berawal dari kepercayaan para pasien yang telah mengenalnya sejak lama. Banyak di antara mereka yang tetap mengikuti praktik dr. Ratna ketika ia membuka klinik mandiri.
“Kulit sawo matang khas Indonesia itu eksotis. Kita tidak perlu memaksakan diri menjadi seperti orang lain. Yang penting adalah merawat diri dan menerima keunikan yang kita miliki,” katanya.
Dalam perjalanannya, RKD Klinik tumbuh menjadi pusat layanan kesehatan kulit dan estetika yang melayani pasien dari berbagai daerah, mulai dari Jakarta, Tangerang, Yogyakarta hingga Kendari. Keunggulan utama yang ditawarkan adalah kombinasi antara layanan dermatologi medis dan estetika dalam satu tempat.
“Kami tidak hanya menangani kecantikan, tetapi juga berbagai penyakit kulit. Selain itu, kami berusaha menjaga layanan tetap terjangkau untuk masyarakat kelas menengah,” ujarnya.

Komitmen tersebut tercermin dalam filosofi pelayanan yang dirangkum dalam jargon CINTA, yakni Cantik, Inovatif, Nyenangkan, Terampil, dan Akurat. Filosofi itu kemudian diperkuat dengan slogan “Kece Optimal, Harga Minimal”, yang menegaskan keinginan klinik untuk memberikan hasil terbaik dengan biaya yang tetap ramah bagi masyarakat.
“Kulit sawo matang khas Indonesia itu eksotis. Kita tidak perlu memaksakan diri menjadi seperti orang lain. Yang penting adalah merawat diri dan menerima keunikan yang kita miliki,” katanya.
Di tengah maraknya industri kecantikan yang berkembang pesat, dr. Ratna melihat bahwa perawatan diri seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan jati dirinya. Ia mengamati masih banyak masyarakat yang menganggap kulit putih sebagai standar kecantikan ideal.

Menurutnya, pandangan tersebut perlu diubah. Perempuan Indonesia memiliki keunikan tersendiri yang justru menjadi daya tarik.
“Kulit sawo matang khas Indonesia itu eksotis. Kita tidak perlu memaksakan diri menjadi seperti orang lain. Yang penting adalah merawat diri dan menerima keunikan yang kita miliki,” katanya.
Pandangan tersebut tidak lepas dari kedekatannya dengan dunia budaya. Selain aktif sebagai dokter estetika, dr. Ratna juga terlibat dalam berbagai komunitas budaya, termasuk komunitas kebaya. Baginya, kecantikan dan budaya merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Ia percaya bahwa budaya membentuk cara seseorang memandang dirinya sendiri. Karena itu, mengenakan batik, kebaya, atau tenun bukan sekadar soal busana, melainkan bentuk penghargaan terhadap identitas bangsa.
“Warisan yang ingin saya tinggalkan bukan hanya keberhasilan profesi, tetapi juga nilai berbagi dan kebermanfaatan bagi sesama,” tuturnya.
Kecintaannya pada batik bahkan diwujudkan secara nyata melalui penciptaan motif batik khusus RKD Klinik. Motif tersebut didominasi warna ungu, warna favoritnya, dan digunakan sebagai identitas dalam berbagai kegiatan resmi klinik.
“Batik bukan hanya pakaian. Batik adalah simbol identitas dan kebanggaan,” ujarnya.
Meski aktif di dunia profesional, dr. Ratna tetap menempatkan keluarga sebagai prioritas utama. Ia memosisikan sebagai sosok ibu yang siap mendampingi anak-anaknya. Alhasil kedua anaknya sanggup meraih prestasi akademik tingkat nasional dan internasional.
Menurutnya, pendidikan adalah investasi terbaik yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anak. Selain prestasi akademik, ia juga menanamkan nilai kepedulian sosial. Salah satu anaknya bahkan aktif mengajar anak-anak kurang mampu di kawasan Bantar Gebang melalui program pendidikan yang digagas bersama teman-temannya.
“Warisan yang ingin saya tinggalkan bukan hanya keberhasilan profesi, tetapi juga nilai berbagi dan kebermanfaatan bagi sesama,” tuturnya.

Sebagai dokter, kebahagiaan terbesar yang dirasakan dr. Ratna bukanlah pencapaian materi, melainkan saat melihat pasien kembali percaya diri setelah berhasil mengatasi masalah kulit yang mereka alami. Mulai dari jerawat berat, flek hitam, hingga penyakit kulit kronis seperti psoriasis, semuanya menjadi bagian dari perjalanan pengabdian yang dijalaninya selama bertahun-tahun.
Pada akhirnya, filosofi hidup dr. Ratna dapat dirangkum dalam satu pesan sederhana: kecantikan bukanlah tentang mengubah diri menjadi orang lain. Kecantikan adalah kemampuan merawat diri dengan baik sambil tetap menghargai akar budaya dan identitas yang dimiliki.
Melalui RKD Klinik, kiprah di dunia kesehatan, serta kecintaannya terhadap budaya Indonesia, dr. Ratna menunjukkan bahwa modernitas dan tradisi dapat berjalan berdampingan. Menjadi cantik bukan berarti meninggalkan jati diri, melainkan menemukan versi terbaik dari diri sendiri dengan tetap bangga menjadi Indonesia.
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko
