Indonesia turut menampilkan kekayaan budaya dan produk kreatifnya dalam ajang China (Shenzhen) International Cultural Industries Fair (ICIF) ke-22 yang digelar di Shenzhen, Tiongkok. Dalam pameran budaya internasional tersebut, batik dan sambal Indonesia menjadi perhatian sebagai simbol perpaduan budaya antara Indonesia dan Tiongkok yang telah berlangsung lintas generasi.

Salah satu peserta dari stan Indonesia, Hartanto W. Tanto, generasi keempat keturunan Tionghoa-Indonesia, memperkenalkan dua produk khas Indonesia yakni sambal dan tekstil batik kepada pengunjung internasional.
Hartanto menjelaskan bahwa sejarah keluarganya berkaitan erat dengan migrasi masyarakat Tiongkok Selatan ke Asia Tenggara pada masa “Nanyang”. Keluarganya berasal dari Fujian dan telah lama menjalin hubungan budaya dengan Indonesia.
“Keluarga saya awalnya berasal dari Fujian pada masa migrasi Nanyang,” kata Hartanto di sela pameran ICIF Shenzhen.
Ia mengungkapkan, neneknya pernah mengirim ayahnya ke Tiongkok untuk mempelajari bahasa Mandarin pada era 1960-an. Tradisi itu kemudian berlanjut ketika dirinya juga dikirim belajar ke Tiongkok pada tahun 1999.

Dalam pameran tersebut, sambal Indonesia menjadi salah satu produk yang menarik perhatian pengunjung. Hartanto menggambarkan sambal sebagai versi Indonesia dari “Lao Gan Ma”, saus khas Tiongkok yang populer sebagai pelengkap makanan sehari-hari.
Namun, menurutnya, sambal yang dibawanya memiliki nilai sejarah keluarga dan budaya yang lebih dalam. Resep sambal tersebut diwariskan dari neneknya dan berkembang melalui perpaduan tradisi kuliner Tiongkok dengan bahan-bahan lokal Indonesia.
Selain sambal, tekstil batik Indonesia juga dipromosikan sebagai bagian dari identitas budaya Nusantara yang telah dikenal dunia. Hartanto menilai produk-produk budaya seperti batik mencerminkan proses akulturasi yang terjadi antara budaya Tiongkok dan Indonesia selama bertahun-tahun.
“Ini bukan hitam dan putih. Ini adalah proses peleburan budaya,” ujarnya.
Ia meyakini banyak unsur budaya Tionghoa-Indonesia berasal dari Guangdong dan Fujian yang kemudian berkembang bersama budaya lokal Indonesia hingga melahirkan identitas baru yang khas.
Melalui partisipasi Indonesia di ICIF Shenzhen, Hartanto berharap masyarakat internasional semakin memahami hubungan sejarah antara Indonesia dan Tiongkok yang tidak hanya tercatat dalam buku sejarah, tetapi juga hadir dalam kehidupan sehari-hari melalui makanan, tekstil, dan tradisi keluarga. Ajang ICIF sendiri menjadi salah satu pameran industri budaya terbesar di Tiongkok yang mempertemukan pelaku industri kreatif, budaya, dan seni dari berbagai negara. Tahun ini, negara-negara Asia-Pasifik turut memamerkan produk budaya unggulan mereka sebagai bagian dari penguatan diplomasi budaya dan ekonomi kreatif global.
Sumber: South

