Hyderabad, India – Lukisan batik yang dahulu berkembang pesat di Distrik Siddipet, India, kini perlahan berada di ambang kepunahan. Seni tradisional yang berasal dari Pulau Jawa, Indonesia, itu kini hanya dipertahankan oleh segelintir seniman yang masih setia melestarikannya di tengah perubahan zaman dan menurunnya minat masyarakat.
Fenomena tersebut menjadi cermin penting bagi Indonesia sebagai negara asal batik. Di saat batik telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia, tantangan terbesar justru datang dari dalam: berkurangnya regenerasi perajin, dominasi produk printing, serta perubahan gaya hidup generasi muda yang semakin menjauh dari proses budaya tradisional.
Di Siddipet, para seniman batik mengaku kesulitan mempertahankan tradisi yang membutuhkan ketelatenan tinggi itu. Proses pengerjaan batik yang memakan waktu panjang dianggap tidak lagi sebanding dengan hasil ekonomi yang diperoleh. Ditambah lagi, rendahnya permintaan pasar membuat banyak perajin memilih meninggalkan profesi tersebut.
“Antusiasme terhadap batik tidak sebesar dulu. Generasi muda kurang menunjukkan minat dan digitalisasi juga turut memengaruhi seni ini,” ujar Yasala Prakash, putra seniman batik ternama Yasala Balayya.
Prakash sendiri memilih tetap mempertahankan seni batik meski bekerja sebagai guru di sebuah lembaga kesejahteraan masyarakat adat. Bahkan, ia mulai melatih istrinya agar tradisi tersebut tidak berhenti di generasinya. Namun ia mengakui, kondisi saat ini semakin berat bagi para seniman batik tradisional.
Fenomena yang terjadi di India sebenarnya memiliki kemiripan dengan kondisi batik dewasa ini di Indonesia. Meskipun penggunaan pakaian batik semakin populer, terutama di lingkungan kantor, sekolah, dan acara formal, tidak semua masyarakat memahami perbedaan antara batik tulis, batik cap, dan batik printing.
Batik printing yang diproduksi massal dengan harga murah kini mendominasi pasar. Akibatnya, batik tulis yang membutuhkan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk selesai semakin sulit bersaing secara ekonomi. Banyak perajin tradisional akhirnya hanya menjadi buruh dengan upah rendah, sementara nilai budaya yang terkandung dalam proses membatik perlahan terpinggirkan.
Padahal, batik bukan sekadar motif pada kain. Batik merupakan teknik, filosofi, dan identitas budaya yang diwariskan lintas generasi. Dalam proses pembuatannya, seorang pembatik harus melalui tahapan menggambar pola, mencanting malam, hingga pewarnaan berulang yang membutuhkan kesabaran dan keterampilan tinggi.
Di Siddipet, para seniman kini mencoba bertahan dengan menciptakan produk-produk inovatif seperti hiasan dinding, syal, dan kain dekoratif agar batik tetap diminati pasar modern. Mereka juga mengajukan sertifikasi Indikasi Geografis (GI) sebagai bentuk perlindungan terhadap karya budaya tersebut.
Langkah serupa sebenarnya juga penting dilakukan di Indonesia. Batik tidak cukup hanya dirayakan setiap Hari Batik Nasional atau dijadikan seragam formal semata. Diperlukan dukungan nyata melalui edukasi budaya, perlindungan perajin tradisional, hingga penguatan pasar bagi batik tulis dan cap asli. Digitalisasi yang dianggap mengancam sebenarnya juga bisa menjadi peluang. Media sosial, marketplace, hingga platform digital dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan proses membatik kepada generasi muda secara lebih kreatif dan relevan. Jika tidak, bukan tidak mungkin Indonesia suatu hari akan menghadapi kondisi yang sama seperti Siddipet: batik tetap dikenal dunia, tetapi para pembatiknya perlahan menghilang.

