https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Menggores Harapan dari Karawang: Kisah Kreasi Batik Tuli dan Jalan Sunyi Pemberdayaan

Kreasi Batik Tuli Karawang berada di bawah naungan YKTI Foundation (Yayasan Kreasi Tuli Indonesia). Yayasan ini tidak hanya bergerak di bidang batik, tetapi juga memiliki lima divisi: batik, jahit, kriya/kerajinan tangan, kuliner, dan barista kopi.

Sang pemilik workshop, Inawati, berujar batik adalah akar. Ia menjadi pintu masuk sekaligus identitas utama.

Perjalanan Kreasi Batik Tuli Karawang, memberdayakan disabilitas lewat batik riset sejarah hingga panggung dunia.

Divisi batik mulai berjalan pada 2018, diawali hanya dengan dua pembatik tuli. Fokus awalnya sederhana: memberdayakan penyandang disabilitas tuli melalui keterampilan membatik.

Tak ada gemerlap, tak ada pendanaan besar. Hanya niat dan keberanian memulai.

Akeyla Naraya dan Benih yang Ditanam Sejak Usia Lima Tahun

Di balik banyak desain Kreasi Batik Tuli, berdiri sosok muda bernama Akeyla. Ia bukan lulusan sekolah mode ternama. Ia desainer otodidak yang mencintai desain sejak usia lima tahun.

Karena belum ada sekolah desain untuk anak-anak, ia belajar secara daring di Kimisachi Fashion Art School. Di sanalah fondasi teknisnya terbentuk.

Batik ia pelajari dari guru desainnya—seorang pembatik asal Pekalongan. Dari proses belajar itu, batik tidak lagi sekadar kain tradisional, melainkan medium ekspresi.

Menariknya, dua pembatik tuli yang pertama bergabung sebenarnya sudah sangat mahir—bahkan setingkat maestro. Namun mereka merasa kurang dihargai dan kurang dibayar layak di komunitas sebelumnya. Kreasi Tuli menjadi ruang baru yang lebih adil.

2021: Dari Workshop ke Wadah Produksi

Perjalanan Kreasi Batik Tuli Karawang, memberdayakan disabilitas lewat batik riset sejarah hingga panggung dunia.

Titik balik terjadi pada 2021. Dalam sebuah pameran di Karawang, banyak pengunjung tertarik melihat proses membatik. Muncul ide: mengapa tidak membuat workshop khusus teman-teman disabilitas?

Workshop itu dibuat sangat intensif. Dari tidak bisa sama sekali, hingga mampu menghasilkan karya.

Namun muncul pertanyaan yang lebih besar: setelah mereka bisa, lalu ke mana?

Keterampilan tanpa ruang produksi hanya akan menjadi kenangan pelatihan. Maka dibentuklah wadah kerja nyata.

Seiring waktu, Kreasi Tuli tak lagi terbatas pada disabilitas tuli. Kini juga merangkul daksa dan netra. Jika tak bisa membatik, mereka bisa menjahit. Jika tak menjahit, bisa membuat kriya atau produk kuliner.

Sekitar 30 orang kini aktif, dengan sistem inti–plasma. Sebagian bekerja di workshop, sebagian dari rumah di Rawamerta dan Rengasdengklok.

Batik yang Berakar pada Sejarah Karawang

Perjalanan Kreasi Batik Tuli Karawang, memberdayakan disabilitas lewat batik riset sejarah hingga panggung dunia.

Keunggulan Kreasi Batik Tuli terletak pada desainnya. Semua motif dirancang langsung oleh Akeyla, melalui riset sejarah dan filosofi.

Baginya, batik harus ada filosofi bukan sekadar kain bermotif.

Beberapa motif unggulan mereka antara lain:

  • Ayam Ciparage – terinspirasi ayam favorit Adipati Singaperbangsa, bupati pertama Karawang.
  • Padi Sade/Pari Sagedeng – simbol Karawang sebagai lumbung pangan nasional.
  • Candi Jiwa – terinspirasi situs di Batujaya, peninggalan Kerajaan Tarumanagara.
  • Pakis – simbol daya tahan dan kemampuan bertahan hidup.
  • Teratai – merujuk bentuk Candi Jiwa jika dilihat dari atas.
  • Tangga Buana – motif gunung khas Karawang.

Melalui motif-motif ini, Kreasi Tuli mengangkat narasi lokal yang bahkan belum banyak diketahui masyarakat Karawang sendiri.

Dari Karawang ke Panggung Dunia

Perjalanan Kreasi Batik Tuli Karawang, memberdayakan disabilitas lewat batik riset sejarah hingga panggung dunia.

Perjalanan mereka tidak berhenti di tingkat lokal. Sejak 2017, karya Akeyla telah tampil di Festival Indonesia–Moskow.

Tahun 2018, mereka diundang ke Lebanon dengan tema Fashion for Peace. Model yang memperagakan busana saat itu adalah pengungsi Suriah, dengan iringan musik pasukan Garuda.

Di Kyrgyzstan, dalam ajang Nomad Fashion World yang diikuti 23 negara, mereka membawa tema The Kingdom of Tarumanagara—mengangkat sejarah kerajaan kuno Nusantara.

Selain itu, mereka pernah tampil di Rusia (St. Petersburg dan Kazan), Bali untuk event Asia Pacific, Yogyakarta, hingga JCC Jakarta dalam Davafest.

Hampir setiap pameran luar negeri, produk mereka sold out.

Namun di balik pencapaian itu, perjalanan mereka jauh dari mulus.

Berdarah-darah di Balik Layar

Banyak yang mengira yayasan pemberdayaan disabilitas pasti mendapat banyak bantuan. Kenyataannya tidak.

Mereka pernah mengajukan dukungan Rp75 juta untuk keberangkatan pameran Rusia setelah bertemu Presiden dalam sebuah acara. Tak ada tindak lanjut.

Beberapa proyek video dan kerja sama dilakukan dengan biaya pribadi. Bahkan untuk mendirikan dan mempertahankan yayasan, rumah dan mobil pribadi pernah dijual.

Sering diberi harapan, sering pula di-PHP.

Namun mereka memilih tidak membalas dengan kekecewaan publik. Prinsipnya sederhana: berbuat baik saja, tanpa syarat.

Bisnis sebagai Jalan Pengabdian

Moto yang dipegang Kreasi Tuli adalah:

Bisnis bukan semata soal untung-rugi, tetapi bagaimana kita bisa berguna bagi orang lain.

Produk mereka tidak dijual dengan narasi belas kasihan. Tidak ada label “beli karena kasihan.” Yang ditawarkan adalah kualitas desain, filosofi, dan kerapian kerja.

Jika orang membeli, itu karena layak dibeli.

Pendekatan ini justru menjadi diferensiasi. Kreasi Tuli tidak menjual air mata. Mereka menjual karya.

Trilogy Bumi: Tidak Ada yang Terbuang

Inovasi terbaru mereka bernama Trilogy Bumi. Program ini memanfaatkan limbah tekstil dan perca batik menjadi produk baru bernilai tinggi.

Prosesnya padat karya:

  • Memilah limbah tekstil berdasarkan warna dan jenis.
  • Mendesain ulang komposisinya.
  • Menjahit kembali menjadi produk eksklusif.

Tidak ada kain terbuang. Bahkan potongan kecil pun dimanfaatkan.

Di tengah isu keberlanjutan dan fast fashion, langkah ini bukan sekadar kreatif—melainkan relevan secara global.

Hampir Menyerah, Tapi Tidak Jadi

Di satu titik, mereka sempat ingin menyerah. Merasa berjuang sendirian. Lelah oleh janji-janji kosong.

Namun pertanyaan sederhana menghentikan niat itu:

Jika kami mundur, teman-teman disabilitas ini mau ke mana?

Bagi sebagian dari mereka, Kreasi Tuli adalah pekerjaan pertama. Tempat pertama mereka merasa dihargai. Tempat pertama mereka bisa berkata, “Saya bisa.”

Harapan itulah yang membuat yayasan ini tetap berjalan.

Lebih dari Sekadar Batik

Kisah Kreasi Batik Tuli bukan sekadar cerita tentang batik Karawang. Ini tentang keberanian memulai tanpa jaminan. Tentang membangun sistem kerja bagi kelompok yang sering tersisih. Tentang menjadikan desain sebagai alat advokasi.

Di tengah Karawang yang sibuk oleh industri, ada ruang kecil tempat malam menetes di atas kain. Di sana, tangan-tangan yang dulu dianggap terbatas justru melahirkan karya yang melintasi batas negara.

Mungkin benar, batik bukan hanya warisan budaya. Di tangan yang tepat, ia menjadi bahasa harapan.

Dan di Kreasi Batik Tuli, harapan itu dijahit satu per satu—dengan sabar, dengan riset, dengan keyakinan bahwa karya yang baik akan menemukan jalannya sendiri.

Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko


Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Presiden Prabowo disambut diaspora dan mahasiswa Indonesia saat tiba di Washington untuk agenda diplomatik dan pertemuan dengan Donald Trump.

Prabowo Disambut Diaspora dan Mahasiswa Indonesia Saat Tiba di Washington

Filosofi Batik Kamis Legi terinspirasi Pintu Bledek Masjid Demak, legenda Ageng Selo, dan warna legi penuh makna.

Filosofi Batik Weton Kamis Legi: Dari Bledek hingga Warna Legi