Di tangan Nurohmad, pemilik brand Batik Dongaji, batik bukan sekadar kain bermotif. Ia adalah bahasa simbol, ruang tafsir, sekaligus jembatan antara tradisi weton Jawa dengan estetika kontemporer. Salah satu karya yang paling kuat secara konseptual adalah Motif Batik Weton Minggu Pahing—sebuah desain yang menyatukan unsur api, matahari, harimau, hingga perhitungan angka dalam satu struktur sarung yang kokoh.
Motif ini bukan lahir dari intuisi semata. Ia dibangun dari pemahaman mendalam tentang karakter weton Minggu Pahing, tentang bagaimana unsur dan simbol dapat diterjemahkan ke dalam visual yang tegas, berkarakter, dan tetap berakar pada tradisi.

Struktur Sarung
Hal pertama yang mencuri perhatian dalam motif ini adalah penggunaan struktur sarung. Dalam tradisi batik, struktur sarung bukan sekadar tata letak visual, tetapi kerangka konseptual yang membagi ruang secara teratur—biasanya terdiri dari kepala, badan, dan bagian pinggir.
Nurohmad memilih struktur ini bukan tanpa alasan. Struktur sarung memberi kesan kokoh, seimbang, dan “sanggah”—istilah yang menggambarkan komposisi yang mantap dan tidak goyah. Dalam konteks Minggu Pahing yang berunsur api, struktur yang kuat justru menjadi penyeimbang energi yang menyala.
Kerap kali kita melihat motif api divisualisasikan secara liar dan bebas. Namun dalam karya ini, api ditempatkan dalam tatanan yang terukur. Di situlah letak kecermatannya: energi yang membara, tetapi tetap dalam kendali.
Minggu sebagai Matahari, Pahing sebagai Api
Dalam kosmologi Jawa, setiap hari dan pasaran memiliki unsur dan karakter. Minggu identik dengan matahari—sumber cahaya, pusat energi, simbol kehidupan. Sementara Pahing berunsur api, melambangkan semangat, ketegasan, dan daya dorong yang kuat.
Dua unsur ini—matahari dan api—sebenarnya memiliki kedekatan makna. Matahari adalah api kosmik. Ia menyinari, menghangatkan, sekaligus membakar.
Nurohmad menerjemahkan unsur ini secara visual melalui beberapa pendekatan.
Pertama, bentuk-bentuk yang menyerupai lidah api. Garis-garisnya tidak statis, melainkan bergerak, mengarah, dan menyala. Api di sini bukan api kecil yang redup, melainkan api yang hidup.
Kedua, hadirnya elemen kotak-kotak atau papan dalam struktur motif. Elemen ini melambangkan matahari—simbol Minggu. Bentuk geometrisnya memberi kesan teratur dan stabil, menjadi representasi pusat energi yang konsisten.
Perpaduan keduanya menghadirkan keseimbangan antara dinamis dan statis, antara gerak dan pusat.
Harimau yang Berapi
Di bagian tengah motif, terdapat ceplok bergambar harimau. Bukan harimau yang diam atau jinak, melainkan harimau yang berapi-api.
Bagi Nurohmad, simbol tidak boleh setengah-setengah. Jika Pahing berunsur api, maka karakter api itu harus menempel kuat pada elemen visualnya. Ia kerap melekatkan karakter unsur pada detail motif—baik pada daun, bunga, maupun hewan.
Dalam motif ini, harimau digambarkan dengan energi menyala. Ia bukan sekadar fauna penghias, melainkan simbol kekuatan, keberanian, dan dominasi. Api yang melekat pada tubuh atau aura harimau menegaskan karakter Pahing: tegas, berani, dan penuh semangat.
Pendekatan ini mungkin tidak selalu digunakan oleh semua perancang batik. Namun bagi Nurohmad, penguatan karakter unsur adalah cara untuk memastikan bahwa motif weton benar-benar “terbaca”.
Harimau berapi menjadi metafora manusia Minggu Pahing—berkarisma, penuh daya hidup, dan memiliki aura kepemimpinan.
Cakra di Pusat Energi
Ketika bagian tengah motif diperhatikan lebih saksama, tampak adanya elemen cakra. Cakra ini bukan sekadar ornamen dekoratif, tetapi representasi matahari dan api sekaligus.
Dalam banyak tradisi, cakra melambangkan pusat energi, perputaran kosmik, dan kekuatan spiritual. Dalam konteks Minggu Pahing, cakra memperkuat simbol matahari sebagai pusat cahaya.
Penempatannya di tengah motif menegaskan bahwa inti energi desain ini berada pada pertemuan dua unsur: Minggu dan Pahing.
Cakra juga memperlihatkan bagaimana Nurohmad tidak hanya bermain pada bentuk flora dan fauna, tetapi juga simbol-simbol kosmik.
Angka sebagai Bagian Konsep
Satu hal yang kerap luput dari perhatian dalam desain batik berbasis weton adalah perhitungan angka. Dalam karya ini, angka bukan sekadar hitungan teknis, melainkan bagian dari struktur filosofis.
Pahing memiliki nilai neptu sembilan. Minggu bernilai lima. Angka-angka ini masuk dalam perhitungan komposisi—baik dalam jumlah elemen, pengulangan bentuk, maupun pembagian ruang.
Artinya, desain tidak hanya berbicara secara visual, tetapi juga numerik. Setiap elemen memiliki alasan keberadaan.
Inilah yang membedakan batik berbasis weton dengan motif dekoratif biasa. Ia lahir dari sistem kepercayaan dan perhitungan yang menyatu dalam estetika.
Integrasi Unsur: Alam, Flora, Fauna
Dalam motif Minggu Pahing ini, kita bisa melihat bagaimana unsur-unsur alam, flora, fauna, warna, dan angka saling terintegrasi.
Api hadir dalam bentuk garis dan karakter visual. Matahari muncul dalam simbol geometris dan cakra. Harimau mewakili kekuatan fauna. Struktur sarung memberi fondasi tradisional. Angka memperkuat makna numerik.
Semua dirancang dalam satu kesatuan konsep.
Bagi Nurohmad, membangun motif weton bukan sekadar menggabungkan simbol secara acak. Setiap unsur harus melekat dan saling menguatkan. Tidak boleh ada elemen yang hadir tanpa alasan.
Pendekatan ini menunjukkan kedalaman riset dan pemahaman terhadap tradisi Jawa, sekaligus keberanian untuk menerjemahkannya secara personal.
Batik sebagai Bahasa Identitas
Melalui Batik Dongaji, Nurohmad seakan ingin mengatakan bahwa batik masih sangat relevan sebagai medium ekspresi identitas.
Motif Minggu Pahing bukan hanya cocok dikenakan oleh mereka yang lahir pada weton tersebut. Ia juga menjadi simbol karakter: energi yang menyala, pusat yang kuat, keberanian yang tidak pasif.
Dalam dunia yang serba cepat dan instan, pendekatan seperti ini terasa berbeda. Ia mengajak kita berhenti sejenak, membaca simbol, memahami filosofi, dan menyadari bahwa selembar kain bisa menyimpan sistem pengetahuan yang kompleks.
Motif ini memperlihatkan bahwa batik weton bukan sekadar tren, melainkan ruang dialog antara tradisi dan interpretasi.
Api yang Terjaga
Menariknya, meski berunsur api, motif ini tidak terasa agresif. Struktur sarung yang rapi dan komposisi yang seimbang menjaga agar energi tetap terarah.
Di situlah kematangan desain terlihat. Api tidak dibiarkan liar, tetapi diberi ruang yang tepat untuk menyala.
Minggu Pahing dalam tafsir Nurohmad bukan sekadar hari dan pasaran. Ia adalah karakter, sistem, dan energi yang diterjemahkan menjadi visual.
Batik Dongaji melalui karya ini menghadirkan batik sebagai narasi. Setiap garis, setiap bentuk, setiap angka memiliki cerita.

